Penjenjangan, keteraturan kompetisi, serta fokus pada cabang olahraga yang konsisten mendulang medali di level internasional menjadi kunci mengembangkan olahraga. 

 

Dalam sejarah keikutsertaan Indonesia di ajang Olimpiade, cabang bulu tangkis menjadi andalan untuk mendulang medali. Disusul kemudian oleh angkat besi dan panahan. Pencapaian di atas menunjukkan, pada 3 cabang tersebut kekuatan riil olah raga Indonesia.

Berkekuatan 28 atlet capaian Indonesia terbilang lumayan pada Olimpiade Rio de Janeiro, Brasil, 2016. Sri Wahyuni mendulang perak di awal kejuaraan, disusul Eko Yuli. Lantas dipuncaki oleh Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir yang tampil tanpa cacat dan  akhirnya menyabet emas tepat pada hari kemerdekaan, 17 Agustus 2016.

“Saya atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia mengucapkan selamat dan terima kasih yang sebesar-besarnya atas perjuangan seluruh atlet di Olimpiade Rio de Jeneiro, Brasil 2016 baik cabang bulutangkis, angkat besi, KONI, Menpora dan seluruh tim yang telah berjuang keras membawa nama baik bangsa dan negara,” ucap Presiden Jokowi saat menerima Menpora Imam Nahrawi bersama rombongan pahlawan olahraga Indonesia, Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir, Sri Wahyuni dan Eko Yuli di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/8/2016).

Atas pencapaian ini, pantaslah, kalau kemudian Presiden mengharapkan agar ketiga cabang tersebut menjadi prioritas pembinaan. “Saya sudah perintahkan Menpora fokus memberikan prioritas pada cabang olahraga yang telah terlihat prestasinya baik dari sisi anggaran, sarana prasarana, camp untuk pelatnas, saya meyakini dengan perencanaan yang baik akan mampu meraih medali emas lebih banyak, tetapi harus fokus pada tempat yang berpotensi medali di olimpiade dan Asian Games,” ucap Presiden.

Lebih dari sebulan sesudah Olimpiade, Pekan Olahraga Nasional ke XIX tahun 2016 bakal digelar dan dipusatkan di Bandung. PON menjadi arena yang tepat untuk melahirkan bibit-bibit olahraga nasional yang berasal dari daerah. Di ajang ini sebenarnya relevan kalau kita berbicara tentang pentingnya penjejangan dan pembinaan olahraga yang berkesinambungan. Artinya atlet-atlet  dengan prestasi tingkat Asia atau Olimpiade mestinya tidak perlu turun gunung, berkompetisi dengan atlet debutan. Biarkan ajang ini menjadi milik bibit-bibit baru daerah dan untuk melihat bagaimana daerah telah berhasil melakukan pembinaan.

Itu artinya, adanya bajak membajak atlet yang kerap berlangsung sebelum penyelenggaraan PON semestinya tidak perlu terjadi. Cara ini justru mengingkari dan merusak sistem pembinaan berjenjang. Di sisi lain juga menciderai prinsip-prinsip sportifitas dalam olahraga.

Satu hal yang juga penting adalah perlunya kompetisi yang teratur, mulai dari tingkat kabupaten, provinsi, dan nasional. Dengan kompetisi ini kemampuan atlet akan terasah isi fit. Masalahnya adalah soal siapa yang mau menjadi penyelenggara. Dalam UU No.3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional sudah dijelaskan bahwa pemerintah, pemerintah daerah, dan/atau masyarakat berkewajiban menyelenggarakan, mengawasi, dan mengendalikan kegiatan olahraga prestasi. Paling tidak untuk olahraga dasar seperti atletik ataupun olahraga yang selama ini menjadi kekuatan kita, yakni bulutangkis, angkat besi, dan panahan.

Itulah sebabnya, waktu dua tahun jelang Asian Games 2018 yang akan digelar di Indonesia, mengembalikan PON ke tujuan awal menjadi hal penting. Yakni menempatkan PON sebagai tempat pembibitan  atlet berskala nasional yang nantinya akan berlaga di ajang Asian Games, Olimpiade, atau kejuaraan lain di tingkat regional ataupun internasional.

Tak kalah penting adalah membuat penyelenggaraan PON lebih atraktif sehingga masyarakat mau datang untuk menonton. Mendatangkan atlet yang berprestasi setingkat olimpiade untuk temu penggemar disertai dengan eksebisi menjadi cara efektif untuk mendatangkan penonton, terutama buat anak muda. Karena masyarakat Indonesia umumnya tertarik dengan tokoh olahraga, termasuk olahraragawan papan atas. Dengan cara ini penyelenggaraan PON akan lebih dikenal dan menjadi ajang pesta olahraga.

Pada akhirnya bila hal tersebut dijalankan dengan konsisten, maka olahraga, akan menumbuhkan sportifitas, jiwa kompetisi, kebanggaan, dan persatuan bangsa.