Pemerintah berusaha sekuat tenaga mengurai kemacetan, khususnya di exit tol Brebes Timur dengan contra flow dan pasokan bahan bakar langsung ke mobil. Sementara, percepatan penyelesaian Tol Trans Jawa dan pembangunan kereta cepat sedang akan memberi solusi yang lebih komprehensif.

Kemajuan pembangunan Tol Trans Jawa hingga wilayah Brebes, Jawa Tengah, harus diakui mampu mengurangi kepadatan arus mudik di ruas barat: Jakarta dan Jawa Barat. Kini mudik ke Kabupaten Indramayu dan Cirebon, misalnya relatif lancar.

Namun di sisi lain, pemudik yang menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur terpaksa harus keluar tol di Brebes Timur, karena belum selesainya Tol Trans Jawa. Akibatnya, di masa puncak mudik lebaran H-5 (Jumat, 1 Juli 2016) hingga H-1 (Selasa, 5 Juli 2016) antrean panjang mengular di pintu tol keluar Pejagan dan Brebes Timur.

Mereka yang keluar tol Pejagan meneruskan perjalanan menuju jalur selatan Jawa. Menuju Purwokerto, Cilacap, dan kota-kota di Selatan Jawa. Sementara yang keluar tol Brebes Timur menuju jalur Pantura ke arah Timur melalui Pekalongan hingga Semarang, menuju kota-kota di utara Jawa Timur.

Pada dasarnya pintu keluar tol Pejagan ditujukan untuk pengendara yang menggunakan jalur alternatif menuju Prupuk dan Purwokerto. Sementara tol Brebes Timur untuk melayani pengendara yang akan menuju Brebes dan Pemalang. Namun karena jalan tol Trans Jawa baru sampai Brebes Timur, maka semua kendaraan ke segala jurusan kea rah timur mesti keluar dari sini.

Yang terjadi kemudian adalah penumpukan kendaraan bukan saja pada kedua pintu tol tersebut, tetapi juga di jalan arteri di depannya yang menerima limpahan kendaraan dalam jumlah sangat besar. Data yang dikeluarkan oleh Korlantas Polri mengkonfirmasi, 43,7 persen pemudik menuju kawasan Jawa Tengah, 9,1 persen berakhir di DIY, dan 7,3 persen menuju Jawa Timur. Sementara Jawa Barat hanya 21,3 persen.

Jadi jelaslah bagaimana besarnya beban Tol keluar Pejagan dan Brebes Timur dalam mengantarkan pemudik ke arah timur.
Kementerian Perhubungan, Jasa Marga, Polri, dan petugas lapangan lain telah berusaha mengantisipasi, namun ternyata volume kendaraan, baik di tol maupun jalan arteri luarbiasa besar sehingga menimbulkan kemacetan parah.

Masalah lain kemudian muncul karena kendaraan-kendaraan yang mengantre untuk keluar tol mulai menipis persediaan bahan bakarnya. Sementara SPBU di sekitar Brebes mengalami keterbatasan pasokan.

Demi mengatasi berbagai masalah tersebut, pemerintah terus berkoordinasi dengan melibatkan Korlantas Polri, Polda Jawa Tengah, Kementerian Perhubungan, Kementerian Komunikasi dan Informasi dan PT Pertamina. Salah satunya dengan memberlakukan contra flow, yaitu membuka arus menuju Jakarta untuk digunakan pemudik yang mengarah ke Jawa Tengah.

Presiden Joko Widodo sudah memerintahkan koordinasi lapangan yang intens untuk membantu melayani para pemudik. Kapolda Jawa Tengah pun terlihat memimpin langsung koordinasi di lapangan. Sedangkan Kominfo yang bekerjasama dengan TVRI dan RRI terus memberitakan perkembangan serta menyampaikan informasi jalur alternatif yang sebaiknya ditempuh para pemudik.

Perkembangan lapangan ini menjadi bahan evaluasi yang terus diupayakan pemerintah hingga saat ini. Pemerintah, seperti telah diungkapkan Presiden Jokowi menganggap bahwa solusi persoalan kepadatan ini ke depannya adalah dengan segera menyelesaikan ruas Tol Trans Jawa hingga ke Semarang, sebagai salah satu hub penting bagi para pemudik.

Solusi lain yang dapat dilakukan pemerintah, tak lain ada memberi lebih banyak pilihan transportasi massal, terutama kereta api (cepat maupun sedang). Pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi yang amat pesat, bagaimanapun akan sulit diimbangi oleh kecepatan pembangunan infrastruktur jalan raya/tol. Oleh karena itu, menjadi tanggung jawab kita semua untuk ikut berkontribusi menemukan solusinya. Mulai dari mempersiapkan rencana mudik secara matang hingga menggunakan moda transportasi bebas macet yang tersedia.