Sila kedua Pancasila sangat penting sebagai dasar kehidupan masyarakat. Presiden Jokowi melalui Revolusi Mental dan Nawacita menerjemahkan langkah-langkah revitalisasi Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila kedua Pancasila adalah dasar hubungan sosial dan budaya antara semua warga masyarakat Indonesia. Nilai utama dalam mewujudkan nilai kemanusiaan yang adil dan beradab adalah pengakuan hak asasi manusia. Manusia harus diakui dan diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang sama derajatnya. Sama hak dan kewajibannya. Presiden Jokowi melalui program Revolusi Mental dan Nawacita menerjemahkan langkah-langkah untuk merevitalisasi nilai-nilai Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Tiga butir Nawacita yang langsung terkait dengan upaya revitalisasi sila kedua Pancasila yang diperjuangkan Presiden Jokowi. Pertama adalah butir ke lima Nawacita (meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia), lalu butir ke delapan (melakukan revolusi karakter bangsa) dan butir ke sembilan (memperteguh kebninekaan dan memperkuat restorasi sosial). Tiga konsep besar dalam sila kedua, yaitu kemanusiaan, keadilan dan keberadaban menjadi dasar dari tiga butir Nawacita tersebut. Unsur kemanusiaan diterapkan melalui butir ke lima Nawacita, yaitu melalui program Indonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Kerja dan Sejahtera.

Dalam butir delapan Nawacita, langkah-langkah untuk melakukan revolusi karakter bangsa adalah dengan membangun pendidikan kewarganegaraan dan langkah-langkah lain untuk mendukung kemajuan pendidikan. Laku dalam butir ke sembilan Nawacita, cara untuk memperteguh kebhinekaan antara lain dilakukan dengan membuka ruang-ruang dialog antar warga, merevitalisasi kerukunan dan semangat gotong-royong, mengangkat budaya lokal dan meningkatkan proses pertukaran budaya. Semua langkah untuk melaksanakan butir delapan dan sembilan Nawacita merupakan penerjemahan prinsip keadilan dan keberadaban dari sila kedua.

Presiden Jokowi selalu melakukan tindakan-tindakan kongkrit dalam mengimplementasikan gagasan dan program-programnya. Konsep besar diterjemahkan ke dalam program-program yang terukur sebagai tahap-tahap menuju pencapaian cita-cita besar yang diamanahkan oleh Pancasila dan UUD 45. Dan semua penerjemahan itu berdasar pada semangat gotong-royong. Prinsip gotong-royong adalah dasar yang sangat kuat dalam kehidupan bangsa Indonesia. Jika kini kegotongroyongan semakin ditinggalkan dalam tatanan kehidupan masyarakat modern, maka sangat penting untuk mengingat kembali pidato Bung Karno tentang gotong-royong di Hari Kelahiran Pancasila.

Negara Indonesia yang kita dirikan haruslah negara gotong-royong! Alangkah hebatnya! Negara Gotong-royong! 

“Gotong Royong” adalah faham yang dinamis, lebih dinamis dari “kekeluargaan”, Saudara-saudara! Kekeluargaan adalah satu faham yang statis, tetapi gotong royong menggambarkan satu usaha, satu amal, satu pekerjaan, yang dinamakan anggota yang terhormat Soekardjo satu karya, satu gawe. Marilah kita menyelesaikan karya, gawe, pekerjaan, amal ini, bersama-sama! Gotong-royong adalah pembantingan-tulang bersama, pemerasan-keringat bersama, perjuangan bantu-membantu bersama. Amal semua buat kepentingan semua, keringat semua buat kebahagiaan semua. Holopis-kuntul-baris buat kepentingan bersama! Itulah Gotong Royong! 

Prinsip Gotong Royong diantara yang kaya dan yang tidak kaya, antara yang Islam dan yang Kristen, antara yang bukan Indonesia tulen dengan peranakan yang menjadi bangsa Indonesia.

Itulah sejatinya Indonesia yang dicita-citakan oleh founding father kita dan kini aktualisasinya diteruskan oleh Presiden Jokowi.