Selain merupakan satu-satunya bandara yang dikelola langsung oleh Kemenhub, Raden Inten merupakan pilot projek dalam upaya mengatasi kerumitan parkir mobil di bandara dengan membangun gedung parkir tersendiri.

Berbeda dengan umumnya bandara di kota-kota besar Indonesia yang penuh sesak di saat arus mudik mulai berjalan, Bandara Raden Inten, di Bandar Lampung tetap tenang. Bandara satu-satunya di Indonesia yang dikelola sendiri oleh Kementerian Perhubungan ini memang berbeda situasi dan kondisinya. Arus pemudik menuju Lampung sebagian besar memilih melalui jalan darat dan laut. Hanya sebagian kecil dari arus pemudik itu yang memilih memakai moda angkutan udara.

“Itu karena pada umumnya para pemudik masih menuju ke berbagai daerah yang cukup jauh dari Bandar Lampung sehingga lebih mudah bagi mereka untuk membawa kendaraan sendiri atau naik kendaraan umum,” jelas Satimin, Kepala Operasional Bandara Raden Inten. Selain tentunya juga lebih ekonomis jika membawa kendaraan sendiri, satu mobil bisa memuat 5-6 orang. Biaya bensin tetap satu mobil, sedangkan jika pemudik naik pesawat otomatis setiap orang harus membeli satu tiket.

Saat ini bandara Raden Inten tengah sibuk mengerjakan pembangunan bandara sesuai rencana pengembangan yang telah disetujui. Proses yang tengah berlangsung adalah pembangunan gedung parkir kendaraan dengan kapasitas untuk menampung sekitar 900 mobil. “Bandara Raden Inten akan menjadi bandara pertama di Indonesia yang memiliki gedung parkir 4 lantai yang terhubung dengan terminal keberangkatan,” tutur Satimin. Selain merupakan satu-satunya bandara yang dikelola sendiri oleh Kemenhub, Raden Inten akan menjadi pilot projek dalam upaya mengatasi kerumitan parkir kendaraan di bandara pada saat terjadi penumpukan penumpang.

Jumlah penumpang dalam masa arus mudik di Bandara Raden Inten pada H-7 tahun 2015 hanya 2414 penumpang, sementara pada H-7 tahun 2014 jumlah penumpang sebanyak 1981 orang. Tidak ada pesawat tambahan yang dikerahkan oleh maskapai penerbangan yang beroperasi di Raden Inten. Total pesawat yang beroperasi di H-7 tahun 2015 hanya sebanyak 15 pesawat. Pada puncak arus mudik H-2 tahun 2015, total jumlah penumpang pesawat yang datang ke Lampung hanya 2630 penumpang. Pada hari yang sama tahun sebelumnya, jumlah pemudik udara di Raden Inten hanya 2289 penumpang.

Sedangkan untuk pemudik keluar dari Lampung, jumlah penumpang di bandara Raden Inten pada H-7 tahun 2015 mencapai 2142 penumpang. Tak berbeda jauh dengan jumlah pemudik yang tiba di Lampung. Pada H-2 yang merupakan puncak arus mudik, jumlah pemudik keluar Lampung mencapai 2267 penumpang. Satimin yang sebelumnya bertugas di bandara Supadio Banjarmasin, bisa leluasa memprioritaskan pembangunan bandara Raden Inten karena arus mudik yang relatif tenang di moda transportasi udara Lampung. Dari delapan maskapai yang beroperasi di Raden Inten, sampai pertengahan Juni 2015, baru dua maskapai yang mendaftar untuk menambah frekuensi penerbangan.

Situasi dan kondisi arus mudik yang nyaris tidak berbeda dengan hari-hari biasa di bandara Raden Inten memang merupakan sebuah pengecualian. Bandara lain di berbagai kota pada umumnya mengalami lonjakan penumpang besar karena derasnya arus mudik rakyat Indonesia dari satu wilayah ke wilayah lainnya. Demikian juga dengan moda transportasi darat dan laut di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di pelabuhan Bakauheni dan terminal Rajabasa, Lampung.