Masyarakat dapat berperan penting jika mau membaca dan mempelajari pengetahuan pertolongan pertama pada kecelakaan yang banyak tersedia di internet.

 

Momentum Lebaran semestinya menjadi ajang melepas rindu dan menciptakan kebahagiaan antar keluarga. Namun sayangnya, tak semua bisa berlangsung mulus. Dari tahun ke tahun, jumlah kecelakaan yang terjadi pada saat arus mudik dan arus balik Lebaran masih terbilang tinggi.

Pada tahun 2015 lalu misalnya, berdasarkan data Korlantas Polri kecelakaan mudik dalam periode H-7 hingga H7 mencapai 3.049 kasus atau turun 21,5% persen dibandingkan tahun 2014 yang mencapai 3.888 kasus. Untuk korban meninggal dunia pun meskipun menunjukkan tren penurunan sebesar 8% dari 714 orang di 2014 menjadi 657 orang di 2015, namun tetap saja merupakan persoalan besar yang perlu mendapatkan perhatian semua pihak.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa jumlah kecelakaan tertinggi didominasi oleh kendaraan roda dua yang mencapai lebih dari 60% kasus. Pemerintah telah melakukan koordinasi untuk mengantisipasi terjadinya kecelakaan dan kematian akibat aktivitas mudik Lebaran ini. Namun, sesungguhnya peran masyarakat menjadi sangat penting jika mengingat peristiwa mudik melibatkan berjuta-juta orang dalam kurun waktu yang singkat – yang berpotensi mengurangi kemampuan atau kapasitas fasilitas-fasilitas kesehatan pemerintah dalam memberikan pelayan yang optimal.

Menurut ahli bedah dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Prof. Aryono D. Pusponegoro, kasus-kasus kematian karena kecelakaan umumnya disebabkan karena pendarahan dan syok.  Hal tersebut dapat diturunkan secara signifikan seandainya semua pihak, termasuk para pemudik dan masyarakat di sekitar jalur mudik memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk melakukan pertolongan pertama pada kecelakaan.

“Jika hanya mengandalkan tenaga medis yang terbatas, apalagi jika jarak tempat terjadinya kecelakaan dengan rumah sakit cukup jauh, maka kemungkinan keterlambatan penanganan menjadi sangat tinggi,” ujar Aryono. Dalam kasus pendarahan misalnya, upaya-upaya darurat perlu dipahami oleh masyarakat di sekitar lokasi kecelakaan agar bisa menghentikan pendarahan, sehingga korban dapat diselamatkan.

Pengetahuan tentang pertolongan pertama pada kecelakaan sebetulnya sudah tersebar luas di internet. Salah satunya misalnya, yang dirilis oleh www.alodokter.com sebuah situs yang memberikan berbagai informasi kesehatan dari para dokter di Indonesia. Salah satu informasi berharga yang terdapat dalam situs tersebut berjudul “Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan Sepeda Motor” yang berisi pengetahuan dan keterampilan mendasar untuk menangani korban kecelakaan sepeda motor sebelum ditangani petugas kesehatan di rumah sakit.

Bagi para pengendara motor yang penting adalah menyiapkan perangkat P3K di bagasi atau jok kendaraan bermotor. Di dalamnya, harus terdapat perban, kapas, plester dan sarung tangan sekali pakai serta kantong plastik yang bersih. Lalu, ketika menemukan korban kecelakaan yang mengalami luka bakar yang penting adalah mendinginkan luka dengan air dingin, namun bukan air es. Jangan mengoleskan krim, salep atau minyak pada luka tersebut. Tubuh korban dapat dihangatkan dengan jaket atau apapun untuk mencegah korban dari kedinginan atau hipotermia.

Untuk korban yang mengalami keseleo, yang harus dilakukan adalah mengistirahatkan anggota tubuh yang keseleo. Lalu, mengkompresnya dengan air es untuk mengindari pembekakan dan membalutnya dengan perban. Jika hanya memiliki es batu, proses kompres tidak boleh terlalu laga agar tidak merusak jaringan kulit korban.

Dalam kasus patah tulang, jangan menggerakkan bagian yang cedera. Jika patah tulang kaki, pertolongan pertama dilakukan dengan mengikat area kaki dengan baju, jaket atau kain yang bisa mencegah pergeseran tulang. Tapi, jika patah tulang belakang, serahkan pada tim medis yang ahli untuk menanganinya. Dalam kasus ini, jangan memberi makanan atau minuman apa pun kepada korban.

Bila korban mengalami syok (terganggunya sistem peredaran darah dan oksigen ke organ-organ vital tubuh seperti otak, jantung dan ginjal), yang bisa dilakukan adalah menunggu kedatangan tim medis sambil menghangatkan tubuh korban dengan jaket agar ia merasa lebih nyaman. Tanda-tanda korban yang mengalami syok adalah berkeringat, menjadi pucat, kulit terasa dingin, lemas, pusing, korban hendak muntah, pernapasannya terengah-engah, kehausan atau menguap. Menghadapi kondisi ini, hindari memberikannya makanan atau minuman.

Untuk korban yang pingsan, yang perlu dilakukan adalah membaringkannya di permukaan yang datar. Lalu, buka kancing kerah baju atau longgarkan ikat pinggangnya. Bila setelah satu menit korban sadarkan diri, jangan langsung menyuruhnya duduk atau berdiri untuk menghindarinya pingsan kembali. Namun jika dalam jenjang waktu tersebut dia belum kunjung sadar, segera hubungi tim medis.

Cek juga sistem pernapasannya, masih bekerja atau tidak. Jika tidak merasakan hembusan napas atau pergerakan dada, bisa diberikan napas buatan atau CPR (cardiopulmonary resuscitation). Untuk langkah-langkah lebih rinci, pastikan untuk mendapatkan informasi yang lebih lengkap di situs-situs kesehatan terpercaya di internet.