Kampanye untuk lebih banyak mengonsumsi ikan bukan hanya menghemat cadangan devisa dan meningkatkan kesejahteraan nelayan, tapi juga punya sasaran strategis melahirkan generasi baru yang cerdas dan sehat.

Secara umum, khususnya yang tinggal di P. Jawa, daging rupanya masih dianggap sebagai sumber protein yang utama. Maka, ketika pasokan daging, terutama ayam dan sapi menyusut masyarakat heboh. Bagaimana dengan berkurangnya pasokan ikan? Masyarakat bersikap lebih adem ayem. Fakta ini menunjukkan, bahwa ayam dan daging, terutama di Jawa menjadi lauk favorit dibandingkan dengan ikan.

Maka, ketika kampanye konsumsi ikan digalakkan, Jawa harus menjadi sasaran utama, karena 60 persen jumlah penduduk Indonesia tinggal di sini. Alasan lain yang lebih mendasar adalah tingkat konsumsi ikan yang masih rendah dibandingkan dengan tempat-tempat lain.

Data menunjukkan, konsumsi ikan di Jawa hanya 26,2 kg/kapita/tahun, Sumatera 38,5 kg/kapita/tahun, dan kawasan Timur Indonesia sudah sampai 40-50 kg/kapita/tahun. Jadi sasaran kampanye mengonsumsi ikan memang harus dilakukan di Jawa.

Dari sisi penghematan devisa negara, peningkatan konsumsi ikan akan menurunkan ketergantungan terutama pada impor daging sapi yang setiap tahun cenderung meningkat dan menggerus cadangan devisa.

Peningkatan konsumsi ikan juga memperlihatkan kembalinya jati diri bangsa ini sebagai bangsa maritim. Dengan dua pertiga wilayah dikelilingi laut sudah seharusnya masyarakat didorong untuk gemar mengonsumsi ikan. Dalam jangka panjang, kebiasaan makan ikan secara perlahan akan meningkatkan kesejahteraan nelayan. Angka Nilai Tukar Nelayan (NTN) yang mengindikasikan tren kesejahteraan nelayan yang mulai membaik. Pada tahun 2014 NTN berada pada angka 104,63 yang kemudian naik menjadi 106,14 pada tahun 2015.

Tercapainya kesejahteraan nelayan dan 12,7 juta orang tenaga kerja yang terkait langsung dengan perikanan (sekitar 50 juta orang), pasti berdampak besar pada pengurangan tingkat kemiskinan.

Itulah sebenarnya potret besar, bagaimana kampanye mengonsumsi ikan harus terus digalakkan. Dalam pandangan yang lebih mikro tapi juga penting adalah alasan bahwa dengan memperbanyak mengonsumsi ikan akan berdampak pada peningkatkan status kesehatan dan kecerdasan masyarakat.

Bangsa ini tentunya ingin melahirkan generasi baru yang mampu bersaing dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Dan itu bisa dimulai dengan anak yang sehat dan cerdas. Ikan tuna misalnya, termasuk paling banyak dicari karena kaya akan kandungan omega 3. Zat ini juga banyak ditemui pada makarel dan sardine. Omega 3 sangat berperan dalam proses perkembangan otak janin. Bahkan penting untuk perkembangan fungsi saraf dan penglihatan bayi.

Bagi mereka yang selama ini punya masalah dengan tingginya kadar kolesterol dalam darah, maka mengonsumsi ikan terbukti manfaatnya bagi kesehatan jantung, arteri, dan vena. Konsumsi ikan dapat membantu mencegah penyakit jantung dan gagal jantung. Studi para ahli dari Harvard School of Public Health menyimpulkan, makan sampai dua porsi ikan dalam seminggu dapat mengurangi risiko kematian akibat penyakit jantung tiga kali lipat.

Dengan sedikitnya kandungan lemak, mengonsumsi ikan juga berpotensi dalam menjaga berat badan yang ideal. Lemak yang terkandung dalam ikan juga merupakan lemak yang sehat, tidak seperti dalam daging sapi yang bila dikonsumsi berlebihan kandungan lemaknya akan ditumpuk di dalam tubuh.