Bulu tangkis, angkat besi, dan panahan menjadi cabang olahraga yang paling subur menyumbangkan medali di ajang olimpiade. Konsentrasi pada 3 cabang tersebut disertai penghargaan yang layak bagi atlet yang berprestasi berperan memunculkan bibit-bibit baru.

“Akhirnya, kita dengar Indonesia Raya di Olimpiade Rio 2016. Medali emas dari Tontowi Ahmad & Liliyana Natsir. Selamat!” kicau Jokowi melalui akun Twitter-nya.

Pasangan ganda campuran bulu tangkis Indonesia ini merenggut medali emas, tepat tepat di HUT Kemerdekaan ke -71 RI, 17 Agustus 2016. Sebelumnya, Sri Wahyuni dan Eko Yuli Irawan berhasil  mempersembahkan  medali perak  di kelas 48 angkat besi putri dan kelas 62 kg putra.

Pencapaian ini membuat lagu kebangsaan Indonesia Raya berkumandang di arena bulutangkis Rio de Janeiro. Persiapan panjang disertai semangat, ketangguhan mental menjadi modal  pasangan ini melewati hadangan lawan demi lawan.

Dalam sejarah olimpiade, Indonesia pertama kali berpartisipasi pada tahun 1952 di Helsinki, Finlandia. Tapi baru pada tahun 1988 di cabang panahan beregu putrid kontingen Indonesia mendapatkan medali.  Trio srikandi Nurfitriyana S Lantang, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani  menjadi pembuka jalan torehan kesuksesan dengan merebut medali perak pada Olimpiade di Seoul, Korea Selatan pada 1988.

Bahkan pada Olimpiade Barcelona pada 1992, Indonesia berhasil menyandingkan dua medali emas di cabang bulu tangkis pada nomor tunggal putra  melalui Alan Budikusuma dan tunggal putri Susi Susanti. Sementara di cabang angkat besi  Lisa Rumbewas, Sri Indriyani, Winarni, dan Triyatno adalah nama yang pernah menyumbangkan medali di Olimpiade.

 

Prestasi mereka membuktikan cabang bulu tangkis bersama angkat besi, dan panahan menjadi cabang olahraga yang subur menyumbangkan medali. Menengok kembali ke belakang bisa dibilang tak ada hasil yang didapat secara tiba-tiba. Pembinaan berjenjang, kompetisi yang teratur,  latihan keras dan rutin menjadi kunci kemenangan.

Melihat prestasi tersebut barangkali arah pembinaan olahraga Indonesia perlu difokuskan, karena sudah terbukti cabang-cabang tersebut pernah menyumbangkan medali. Bibit atlet di berbagai daerah tentu tersedia, tinggal bagaimana pemandu bakat berperan untuk mengenali calon-calon atlet masa depan lebih jeli. Sejalan dengan itu berbagai pusat latihan dan pembinaan dibangun di beberapa daerah.

Harapanya, ketiga cabang ini bisa terus berjaya di tingkat dunia, tentu saja bersama dengan cabang olahraga lain.

Dengan prestasi olahraga ini, terutama di tingkat internasional, ada dua hal yang bisa diraih. Pertama menumbuhkan kesadaran akan pentingnya gairah berolahraga di masyarakat. Olahraga yang teratur akan membuat tubuh bugar. Melalui tubuh yang bugur status kesehatan akan meningkat. Alhasil berbagai penyakit yang disebabkan kurangnya aktivitas fisik seperti diabetes, jantung, dan obesitas akan berkurang.

Di sisi lain, olahraga bisa dipakai sebagai alat untuk  mempersatukan bangsa, menumbuhkan heroisme, dan meningkatkan kebanggan nasional. Untuk mereka yang berprestasi pemerintah tentu akan memberikan penghargaan yang layak. Apalagi, mereka telah mengorbankan segala-galanya. Waktu, pikiran, dan tenaga. Dengan cara ini bangsa ini memberi sinyal kuat kepada calon penerus agar tidak ragu menggeluti olahraga ini.