Jika ingin bertahan, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dituntut untuk terus beradaptasi dengan lingkungan bisnis yang berubah cepat. Budaya korporat yang berdasar rutinitas dan zona nyaman pun mesti dibuang jauh-jauh.

Dalam pengarahan pada  Executive Leadership Program (ELP) Direksi BUMN di Istana Negara, Jakarta, Rabu (25/1/2017), Presiden secara khusus menekankan agar BUMN bekerja optimis. Bahkan secara retorik Presiden mengatakan untuk apa bekerja jika terus bersikap pesimis.

Optimisme yang dikatakan Presiden bukanlah tanpa dasar. Prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini diperkirakan ada pada kisaran 5% – 5,3%. Sementara pendapatan negara mencapai Rp 1.750 triliun rupiah dan belanja negara Rp 2.080 triliun.

Kinerja BUMN pada tahun 2016 juga memperlihatkan kenaikan yang cukup signifikan meski berada dalam situasi perlambatan ekonomi secara global. Dengan 118 perusahan di 13 sektor industri, BUMN terus bersinergi untuk mendorong pembangunan terintegrasi dan mengakselerasi pembangunan proyek-proyek strategis nasional. “Total aset BUMN pada tahun 2016 mencapai Rp 6.325 triliun, mengalami peningkatan sebesar 9,8% dibandingkan tahun 2015,” kata Rini di acara Exexcutive Leadership Program, Rabu (25/1/2017). Pendapatan BUMN yang meningkat pada tahun 2016, total kerugian BUMN pada tahun 2016 turun sangat signifikan dari Rp. 11 triliun menjadi Rp 6 triliun dengan jumlah BUMN rugi dari 21 menjadi 15 BUMN.

Selain pentingnya mengedepankan optimisme, Presiden juga menekankan agar BUMN meninggalkan zona kenyamanan dan rutinitas. Menurut Kepala Negara zona kenyamanan bisa menjebak sehingga bisnis BUMN ketinggalan tanpa disadari. Presiden kemudian mencontohkan, bagaimana Amerika sudah menemukan shale oil dan shale gas, sementara kita masih berkutat pada penggunaan batu bara.

INDUSTRI 6

Atas dua contoh tersebut Presiden meminta agar BUMN berbenah dan mengambil hikmah sehingga bisa menemukan cara-cara baru dalam menjalankan bisnisnya. Bagian penelitian dan pengembangan di BUMN harus diperkuat, bahkan kalau perlu kerja sama dengan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.

Intisari dari penekanan Presiden adalah, dunia dan lingkungan bisnis bergerak sangat cepat. Mereka yang mampu mengambil kesempatan dan peluang di tengah perubahan tersebut yang akan menjadi pemenang. Konsekwensinya, cara dan pandangan lama sudah tidak lagi relevan. Agaknya benar, pendapat yang mengatakan, bukan mereka yang kuat yang akan menang, tetapi mereka yang adaptif lah yang berjaya.

Itulah sebabnya agar bisa terus maju, BUMN harus mau mengubah diri. Budaya kerja yang kompetitif dan berorientasi pada target perlu dikedepankan. Perubahan itu justru harus dimulai ketika kondisi keuangannya sehat atau ketika BUMN sedang dalam masa pertumbuhan. Karena pada kondisi ini BUMN mempunyai sumber daya yang memadai, mulai dari SDM hingga sumber dana untuk membiayai dan memfasilitasi perubahan yang dikehendaki.

ekonomi seratus 3

Jangan sampai terjadi keinginan perubahan muncul ketika prospek bisnis dalam kondisi meredup. Kalau ini yang dilakukan, maka akan sulit dilakukan, karena kondisi keuangannya sudah terbatas, sehingga tidak bisa menopang perubahan yang ada. Sebagai contoh, bagaimana di saat terpuruk membiayai konsultan untuk merancang perubahan.

Sayangnya, keinginan berubah dimasa jaya kadang sulit diterima. Alasannya kalsik, mengapa harus berubah, jika tanpa perubahan pun korporasi sudah berjalan baik. Itulah sebabnya, perlu orang lain untuk mengingatkannya.

Pengarahan Presiden dalam Executif Leadership Program pada Direksi BUMN ibarat pelecut, agar mereka mau berubah sebelum lingkungan bisnis yang baru menggerogoti pangsa pasar mereka. Agaknya hal tersebut yang dimaksud Presiden yakni agar BUMN berani keluar dari rutinitas dan zona nyaman.