Penetapan Hari Lahir Pancasila adalah momentum mengakhiri kekeliruan. Sebuah langkah penting untuk memasuki pintu gerbang kejayaan sebuah bangsa yang besar dengan penuh optimisme

 

Sudah 71 tahun lamanya pidato Bung Karno dikumandangkan pertama kali dalam sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Di depan para pendiri republik yang lain, Bung Karno mendobrak segala keraguan terhadap ide kemerdekaan. Keraguan itu ditanggalkannya dengan sebuah pandangan yang jernih dan ringkas tentang dasar-dasar Indonesia Merdeka.

“Apa arti merdeka?” tanya Bung Karno secara retoris. “Merdeka merupakan suatu kemandirian politik. Jangan terlalu jlimet mengartikan merdeka, jangan harus ada ide ini dan itu. Saudi Arabia merdeka ketika lebih dari 80% rakyatnya buta huruf. Kemerdekaan itu bagai jembatan dan di seberang jembatan. Itulah prinsipnya, kita sempurnakan masyarakatnya.”

“Jangan gentar, dan jangan jlimet memikirkan harus ada ini dan ada itu baru merdeka,” lanjutnya. “Tapi kita harus merdeka sekarang, sekarang dan sekarang.”

Bung Karno, mengupas satu persatu dasar-dasar itu. Yang disebutnya sebagai philosofische grondslag (pikiran yang sedalam-dalamnya) dan weltanschaung (dasar negara). Pertama adalah Kebangsaan, lalu Internasionalisme. Kemudian Mufakat, Perwakilan dan Permusyawaratan. Selanjutnya, Kesejahteraan Sosial dan terakhir, Ketuhanan.

Dasar itu diperasnya menjadi tiga, Sosio-nasionalisme, Sosio-demokrasi dan Ketuhanan. Lalu, diperas lagi hingga hanya tersisa saripatinya: yaitu gotong-royong.

Beberapa waktu kemudian, dasar pemikiran Bung Karno tersebut dirumuskan kembali oleh Panitia Sembilan yang dibentuk oleh BPUPKI, yang akhirnya menghasilkan rumusan akhir yang kita sekarang kenal sebagai Pancasila.

Sentuhan akhir dari para perumus itu tentu perlu mendapatkan apresiasi, karena pada akhirnya, mampu menghasilkan rumusan singkat dengan menggunakan kalimat-kalimat yang penuh perhitungan dan tanpa menghilangkan sama sekali semangat dan jiwa Pancasila yang disampaikan melalui Pidato Bung Karno sebelumnya. Namun, jiwa Pancasila sendiri, yang dengan rendah hati, oleh Bung Karno sendiri disebut sebagai sintesis dari berbagai pandangan dari masa lalu itu, sudah lebih sudah ditiupkan oleh Sang Proklamator pada tanggal 1 Juni 1945.

Oleh karena itu, sungguh pantas kiranya, jika 1 Juni 1945 ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila.

Sebab sudah begitu lama, kenyataan ini seolah dikaburkan. Meskipun sebetulnya, mantan Ketua BPUPKI Dr. Radjiman Wedyodiningrat sudah “mengakui” hal itu dengan menyebut judul dalam kata pengantarnya di buku pidato Bung Karno yang diterbitkan pada tahun 1947 sebagai “Lahirnya Pancasila”.

Meskipun kita semua mengakui bahwa Pancasila adalah dasar negara yang luar biasa. Yang pernah ditawarkan oleh Bung Karno sendiri agar menjadi dasar bagi organisasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dalam pidatonya yang terkenal “To Build The World A New” dalam Sidang Umum PBB ke-15 di New York pada tanggal 30 September 1960.

Keputusan Presiden Jokowi di Gedung Merdeka, Bandung, pada tanggal 1 Juni 2016, untuk menetapkan “1 Juni” sebagai Hari Lahir Pancasila adalah momentum penting untuk mengakhiri segala kekeliruan kita yang enggan untuk memberikan penghargaan yang pantas pada orang yang benar-benar berhak. Sebuah momentum pelunasan utang sejarah. Mulai sekarang dan seterusnya, 1 Juni telah resmi, seperti sudah disampaikan sendiri oleh Presiden, “ditetapkan, diliburkan dan diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila.”

“Kita beruntung hidup di Indonesia yang memiliki Bhinneka Tunggal Ika, beragam dan memiliki toleransi. Itu semua karena kita punya Pancasila” ungkap Presiden. Oleh karena itu, “sebagi bangsa kita harus bersyukur karena mempunyai Pancasila yang digali oleh Bapak Bangsa, Sukarno.”

“Dengan adanya Pancasila, tidak ada alasan lagi untuk tidak optimis. Kita bisa memenangkan kompetisi global sebagai pemenang… Pancasila harus jadi ideologi yang bekerja.”

Senada dengan itu, Presiden ke-5 Megawati Soekarnoputri dalam kesempatan yang sama juga mengharapkan agar Pancasila menjadi way of life bangsa Indonesia. “Pancasila 1 Juni 1945 adalah prinsip dasar, sekaligus jalan yang harus kita ambil untuk terus melangkah,” kata Megawati.

“Teruslah berjalan, teruslah bergerak, teruslah bersama dalam perjuangan mencapai masyarakat adil dan makmur lahir batin, sampai terwujud Indonesia Raya, Indonesia yang sejati-jatinya merdeka!”

Semoga dengan keputusan ini, menjadi pertanda bahwa kita sedang melangkah memasuki pintu gerbang kejayaan sebagai sebuah bangsa yang besar. Sebab pernah dikatakan bahwa, bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa-jasa para pahlawannya.