Secara bertahap berbagai proyek kelistrikan dimulai dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo. Langkah ini dipercaya akan meningkatkan pasokan listrik dan menggairahkan sektor industri.

Cerita tentang  listrik sejauh ini memang kurang menggembirakan.  Di Jawa yang notabene mempunyai cadangan listrik sebesar kira-kira 30 persen dari beban puncak, pemadaman  listrik kadang masih terjadi. Pemadaman tersebut, menurut PLN karena adanya  gangguan, pemeliharaan, atau perbaikan  pada pembangkit – gardu – atau jaringan transmisi.

Di luar Jawa kondisi kelistrikan terasa lebih berat.  Jangankan berbicara  cadangan.  Pasokan yang ada saja masih belum bisa memenuhi  kebutuhan yang ada. Pada akhirnya, pemadaman bergilir menjadi cerita rutin. Maka ketika Presiden Jokowi meresmikan dan melanjutkan berbagai proyek kelistrikan, di Aceh dan Kalimantan Barat, Kamis 2/6/2016, hal itu  menjadi berita gembira bagi masyarakat di sana.

Di Lhokseumawe, Aceh, Presiden Joko Widodo meresmikan beroperasinya Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) Arun 184 MW. Peresmian ini adalah komitmen pemerintah  untuk membangkitkan kembali industri di Provinsi Aceh melalui penambahan pasokan listrik di wilayah Aceh.

Pada hari yang sama di Kalimantan Barat, Presiden Joko Widodo melakukan 3 langkah besar untuk menambah pasokan listrik. Melanjutkan pembangunan pembangkit listrik yang mangkrak  sekitar 7 tahun dan telah menghabiskan dana kurang lebih Rp 1,5 triliun. Melakukan groundbreaking Mobile Power Plant (MPP) Kalimantan Barat berkapasitas 4×25 MW Program 35.000 MW.  Dan meresmian Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Ketapang berkapasitas 2×10 MW, di Mempawah, Kalimantan Barat.

Presiden menginstruksikan Dirut PLN agar menyelesaikan proyek tersebut. Lokasi proyek mangkrak itu berada tepat di sebelah proyek Mobile Power Plant (MPP) Kalimantan Barat berkapasitas 4×25 MW.

Jumlah pasokan listrik di Kalimantan Barat memang perlu ditingkatkan. Data yang dikeluarkan PLN pada Mei 2016 menunjukkan daya maksimal yang bisa dihasilkan adalah 287 MW, beban puncak 271 MW, dan cadangan 16,1 MW. Cadangan sebesar itu masuk dalam kategori kuning.

Empat pembangkit MPP ini menggunakan tenaga gas berbahan bakar gas alam cair yang ramah lingkungan dan lebih efisien. Bila sudah beroperasi akan memperkuat sistem kelistrikan di khatulistiwa dan menambah pasokan menjadi 425 MW. Sementara beban puncak hingga akhir Desember 2016 sebesar 325 MW. Sehingga terdapat cadangan daya sebesar 100 MW atau sekitar 30 persen.

Sementara listrik di Aceh daya maksimal 360 MW, beban puncak 340 MW, dengan cadangan 20 MW. Masuk dalam kategori kuning.  Penambahan pasokan listrik di Aceh tersebut selain menambah pasokan listrik juga berarti menambah cadangan. Sehingga ketahanan listrik untuk kedua daerah tersebut akan meningkat. Dalam arti, bila ada gangguan skala kecil dan proses pemeliharaan jaringan atau gardu tak perlu harus melakukan pemadaman.

Selain itu, bertambahnya pasokan listrik akan meningkatkan elektrifikasi sampai ke pelosok. Masuknya aliran listrik tentu membuka peluang munculnya kegiatan usaha berskala mikro dan kecil. Sebagai contoh industri rumahan umumnya menggunakan listrik untuk mengolah bahan mentah menjadi makanan. Dalam proses penyimpanan, listrik juga menjadi faktor utama.

Itulah sebabnya listrik bernilai strategis. Semakin besar konsumsi listrik suatu negara, semakin maju negara tersebut. Bagaimana dengan Indonesia?

Direktur Utama PT PLN (Persero) Sofyan Basir, mengatakan tingkat konsumsi listrik masyarakat Indonesia tergolong rendah dibandingkan warga negara masyarakat ASEAN.

Menurutnya, konsumsi listrik per kapita Indonesia sama dengan konsumsi listrik per kapita di India. Yaitu sebesar 0,8 mega watt per hour (MWh) per kapita per tahun. Sedangkan Vietnam telah mencapai 1,3 MWh per kapita per tahun, Thailand 2,3 MWh per kapita per tahun. Singapura 8,1 MWh per kapita per tahun.

 

Pembangunan dan peresmian proyek kelistrikan secara bertahap akan meningkatkan ketahanan listrik nasional. Sehingga suatu saat energi listrik berada di depan. Tersedia ketika  industri atau permintaan membutuhkan.