Jepang merupakan pasar ekspor ke-3 Indonesia, di sisi lain juga merupakan investor kedua terbesar di negeri kita, khususnya di sektor infrastruktur. Oleh karena itu kunjungan PM Jepang Shinzo Abe ke Indonesia penting bagi hubungan ekonomi kedua negara.

Jika penandatanganan perjanjian perdamaian antara Jepang dan Indonesia pada April 1958 dipakai dasar hubungan kedua negara. Maka tahun 2018 nanti, hubungan tersebut sudah terjalin selama 60 tahun. Dalam masa yang panjang itu hubungan keduanya nampak harmonis. Berbagai delegasi tingkat tinggi saling kunjung. Meliputi banyak bidang, dari investasi, pariwisata, perdagangan hingga kebudayaan.

Di sektor ekonomi, ekspor nonmigas Indonesia ke Jepang menduduki peringkat ke-3 setelah ekspor ke Amerika Serikat dan Tiongkok. Bila ditilik angkanya, berdasar data Bank Indonesia tahun 2015, pangsa pasar ke Jepang adalah 9,9 persen. Berbeda sedikit dengan pasar ekspor ke AS sebesar 11,6 persen dan Tiongkok 10 persen. Sementara bagi kita, Jepang merupakan salah satu negara yang wisatawannya banyak berkunjung ke Indonesia, bersama dengan negara Singapura, Australia, Malaysia, dan Tiongkok.

Menurut data realisasi investasi Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Triwulan III 2016 Jepang merupakan negara kedua terbesar yang menanamkan modalnya di Indonesia total US$ 1,6 miliar dengan total 425 proyek. Nilai tersebut naik signifikan jika dibandingkan dengan realisasi investasi Triwulan III 2015 sebesar US$ 917,27 juta dengan total 399 proyek. Sedangkan untuk data kumulatif Januari-September 2016 total realisasi investasi dari Jepang tercatat mencapai US$ 4,4 miliar.

Kepala BKPM, Thomas Lembong mencatat, Jepang merupakan sebagai negara kedua terbesar investor di Indonesia yang sebagian besar ditanamkan di sektor infrastruktur. Diantaranya pembangkit listrik, MRT, real estate, dan properti. Dari Januari hingga September 2016 investasi Jepang telah mencapai angka 4,498 miliar dolar AS, atau peningkatan dua kali lipat dibandingkan investasi Jepang di Indonesia pada 2015.

hubungan 3

Dengan pendapatan per kapita AS $ 36,680 dan angka harapan hidup sebesar 83 tahun, Jepang membutuhkan bahan-bahan komoditas untuk mendukung tingkat kemakmurannya. Sebaliknya dengan jumlah penduduk yang cenderung menurun (2015: 126 juta; 2014: 127 juta), Jepang yang kuat dalam industri manufaktur tentu membutuhkan pasar baru, khususnya Indonesia dengan jumlah penduduk 252 juta jiwa.

Oleh karena itu kunjungan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ke Indonesia untuk mengadakan pertemuan dengan Presiden Joko Widodo punya arti penting dalam meningkatkan hubungan ekonomi kedua negara yang saling menguntungkan.

Paling tidak ada 4 hal yang merupakan hasil pembicaraan bilateral antara delegasi pemerintah RI yang dipimpin Presiden Joko Widodo dan delegasi pemerintah Jepang yang dipimpin oleh Perdana Menteri (PM) Shinzo Abe, di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/1).

hubungan

Pertama adalah kesepakatan agar kerja sama dalam konteks Two Plus Two (2+2) antara Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua negara akan dilakukan tahun ini di Indonesia.

Kedua, Indonesia meminta Jepang dapat membuka akses produk pertanian dan perikanan Indonesia, menyelesaikan review perjanjian penghindaran pajak berganda, meningkatkan akses dan kapasitas keperawatan Indonesia untuk dapat memenuhi pasar di Jepang, dan dimulainya general review Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement pada tahun ini.

Ketiga, Indonesia meminta Jepang untuk mempertimbangkan rencana peningkatan konektivitas udara, dengan pembukaan jalur penerbangan Garuda Indonesia rute Jakarta-Los Angeles (AS) via Tokyo (Jepang).

Keempat, Indonesia-Jepang juga sepakat meningkatkan kerja sama ekonomi termasuk rencana pembangunan Pelabuhan Patimban (di Subang, Jabar), pengembangan Blok Masela, diskusi awal mengenai pembangunan jalur kereta api Jakarta-Surabaya, serta pembahasan rencana kerja sama pembangunan sentra kelautan dan perikanan terpadu di pulau-pulau terdepan Indonesia.

Kerja sama itu tentu akan saling menguntungkan bagi kedua negara dan menjadi kado istimewa bagi hubungan yang sudah terjalin hampir 60 tahun.