Indikator penting yang harus dilihat adalah konsistensi pemerintah untuk terus melakukan berbagai langkah taktis maupun strategis sebagai wujud komitmen mensejahterakan rakyat.

Capaian program prioritas pembangunan infrastruktur Presiden Jokowi di tahun 2015 cukup signifikan. Ini semua sangat penting sebagai sarana menciptakan pemerataan dan kemudahan untuk distribusi berbagai komoditas antar daerah. Di tahun-tahun mendatang ketika semua bagian Indonesia telah terhubung oleh infrastruktur yang lengkap, persoalan disparitas dan stabilitas harga berbagai komoditas mulai dari bahan pokok sampai komoditas lain yang selama masih menjadi persoalan, akan menjadi lebih terkendali. Kemudahan mengirim pasokan atau suplai berbagai komoditas ke berbagai daerah adalah salah satu jurus ampuh untuk mengontrol harga pasar.

Dengan semakin meratanya pembangunan infrastruktur, harga-harga bahan kebutuhan pokok yang biasa naik di bulan puasa karena tingginya kebutuhan dan permintaan pasar, akan bisa lebih terkendali. Kemudahan distribusi yang didukung adanya infrastruktur yang dibangun Presiden Jokowi di wilayah Indonesia Timur akan mempermudah pasokan untuk memenuhi meningkatnya permintaan pasar. Pembangunan infrastruktur yang fokus di wilayah Timur Indonesia juga merupakan wujud nyata pelaksanaan kebijakan pembangunan yang Indonesia Sentris.

Pembangunan Tol Laut telah berhasil diselesaikan di 35 lokasi. Selain itu Presiden Jokowi juga telah meningkatkan kapasitas pelabuhan di 6 lokasi dan menambah 85 unit peralatan bongkar muat. Telah dibuka juga 86 trayek rute perintis, pengoperasian 1 unit kapal ternak dan 95 unit kapal perintis. Di tahun 2016 akan diteruskan pembangunan pelabuhan di 89 lokasi, peningkatan kapasitas pelabuhan 6 lokasi, pengadaan peralatan bongkar muat 26 unit, rute perintis 96 trayek, freight liner Pelni 6 trayek, kapal ternak 5 unit, dan pembangunan kapal perintis 95 unit.

Selain Tol Laut, pembangunan dan pengembangan bandara juga gencar dilakukan. Presiden Jokowi antara lain telah meresmikan Bandar Udara Internasional Juwata di Tarakan, Kalimantan Utara (Maret 2016). Jokowi menyatakan Bandara Internasional Juwata bakal menjadi prasarana yang mengkoneksikan provinsi-provinsi di sebelah utara Pulau Kalimantan. Saat ini, terminal Penumpang Bandara Matahora di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara, juga telah diresmikan. Pengembangan Bandara Domine Eduard Osok (DEO) di Kota Sorong, Papua Barat juga telah diresmikanpada 30 Maret 2016. Pengembangan Bandara Djalaludin Gorontalo juga sudah selesai. Melalui pengembangan Bandara Sorong dan Merauke, pembangunan makin merata dan akhirnya akan mengecilkan disparitas harga antara wilayah Barat dan Timur.

Kita memang harus berpikir visioner jika ingin menjadi bangsa pemenang di era persaingan global saat ini. Begitulah yang dilakukan Presiden Jokowi dengan antara lain memprioritaskan pembangunan infrastruktur. Berbagai persoalan aktual yang muncul secara situasional tidak bisa sertamerta dikaitkan sebagai indikator untuk menilai suatu kebijakan jangka panjang yang bersifat visioner. Sebut misalnya harga daging sapi yang melambung naik setiap memasuki bulan puasa adalah kondisi situasional yang dipicu oleh meningkatnya permintaan dan kebutuhan masyarakat. Persoalan mendasarnya adalah kondisi defisit daging sapi yang sudah terjadi sejak era Orde Baru.

Dalam konteks ini, pembangunan infrastruktur adalah solusi jangka menengah dan panjang yang telah dilakukan. Tentu tindakan langsung untuk mengontrol harga juga dilakukan. Selain impor daging sapi sebagai salah satu solusi jangka pendek, Presiden Jokowi juga telah memerintahkan Kementerian dan Lembaga terkait agar mengambil sejumlah langkah penting untuk memastikan stabilitas harga daging sapi. Apa yang paling mendasar adalah konsistensi pemerintah untuk terus melakukan berbagai langkah taktis maupun strategis sebagai wujud komitmen untuk mensejahterakan rakyat.