Hortikultura berpotensi menciptakan ketahanan pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani. Kita bisa belajar dari pengalaman Thailand, yang sebetulnya lebih dulu belajar dari Indonesia.

 

Fokus berlebihan pada produk pangan jenis tertentu selama ini telah mengorbankan salah satu potensi besar dalam menunjang ketahanan pangan di Indonesia, yaitu hortikultura. Dengan luas lahan petani saat ini yang rata-rata mencapai kurang dari satu hektar, maka tidak cukup ekonomis bagi petani untuk mengandalkan sawah sebagai sumber penghasilannya. Hortikultura, terutama sayur-mayur dan buah-buahan menawarkan banyak keuntungan, mulai dari produktivitas hingga pendapatan bagi petani.

Sub-sektor hortikultura ini juga memiliki arti penting karena mampu menyerap sebanyak 40% dari total pekerjaan di sektor pertanian. Setidaknya terdapat 10,6 juta keluarga yang bergantung pada hortikultura. Meskipun masih tergolong tinggi, namun sebetulnya dalam kurun waktu 10 tahun,  tahun 2003 hingga 2013, telah terjadi penurunan jumlah petani hortikultura sebesar 35%. Ini berarti bahwa sebelumnya terdapat sekitar 17 juta keluarga yang bergelut di bidang ini.

Apa yang terjadi adalah meningkatnya impor buah-buahan dan sayur-mayur tidak diikuti dengan peningkatan produktivitas nasional. Untuk tahun 2014 misalnya, total produk hortikultura yang diimpor mencapai hampir 2 miliar dolar AS, naik hingga 54% dibandingkan dengan tahun 2010. Dengan melakukan pembenahan di sana-sini, peluang untuk menjadikan beragam produk hortikultura sebagai penunjang kesejahteraan petani dan ketahanan pangan nasional masih sangat terbuka.

Salah satu hal penting untuk dilakukan adalah penguatan dari sisi penelitian dan pengembangan (R&D), terutama untuk menghasilkan berbagai jenis benih yang memiliki produktivitas yang tinggi. Sebagai contoh, benih kentang varietas lokal hanya dapat memproduksi 10 ton per hektar – bandingkan dengan benih di Tiongkok yang bisa mencapai 50 ton per hektar.

Pembelian benih merepresentasikan sekitar 3% hingga 7% dari total biaya produksi petani. Untuk itu, sebagai langkah awal, lebih baik jika para petani menggunakan benih hibrida dibandingkan dengan benih lokal agar dapat meningkatkan produktivitas serta pendapatannya. Data dari Asosiasi Produsen Benih Hortikultura Indonesia (Hortindo) menunjukkan bahwa penggunaan benih hibrida dapat meningkatkan rata-rata jumlah panen sebanyak 71% dan rata-rata harga jual sebesar 47%.

Namun secara komprehensif, pengembangan hortikultura di Thailand bisa menjadi pelajaran bagi kita. Pertama, Thailand memanfaatkan R&D untuk menghasilkan bibit unggul melalui rekayasa bioteknologi, bioproses dan kultur jaringan. Kedua, Thailand memanfaatkan badan penyuluhan pertanian di daerah untuk memberikan bimbingan pertanian sekaligus menyediakan informasi pasar bagi petani agar bisa merencanakan jenis dan kuantitas produksi yang memiliki prospek bisnis baik.

Ketiga, pemerintah memanfaatkan berbagai perwakilannya di luar negeri untuk melakukan riset pasar untuk memahami aspek permintaan yang kemudian akan diolah oleh badan penyuluhan pertanian. Keempat, pemerintah berusaha menjadi fasilitator dan memastikan bahwa perbedaan harga yang dibayarkan konsumen dan yang diterima petani relatif kecil – sehingga dari segi harga, produk hortikultura negara tersebut menjadi sangat kompetitif.

Kelima, adanya pembiayaan berbunga rendah yang diberikan oleh Bank of Agriculture and Agricultural Cooperation (BAAC), sehingga biaya produksi dapat ditekan – yang juga berarti bahwa marjin keuntungan petani menjadi lebih baik. Terakhir, adanya integrasi yang dilakukan dengan agroindustri hilir yang telah memperhitungkan berbagai aspek, terutama waktu dan bentuk, sehingga memungkinkan produk-produknya bertahan lebih lama dan mengakses pasar yang lebih luas dan jauh.

Dulu, Thailand pernah belajar tentang pertanian dari Indonesia. Namun, dengan kerja keras dan inovasi, mereka mampu menghasilkan berbagai produk pertanian unggul. Kita juga tak perlu malu dan ragu belajar dari siapapun yang telah mencapai kemajuan. Ada saatnya, pengalaman dan inovasi yang kita lakukan akan memberikan keunggulan dan keunikan baru yang mungkin tak pernah terpikirkan sebelumnya.