Tekad Presiden untuk memerangi kejahatan narkoba sudah bulat, dan untuk mewujudkannya lebih cepat, tentu harus didukung seluruh elemen masyarakat.

Masyarakat harus berpartisipasi aktif dalam berbagai upaya pemerintah untuk memerangi kejahatan narkoba. Tentu ada berbagai cara atau upaya yang bisa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk memerangi kejahatan narkoba. Namun, pada tingkat yang paling mendasar masyarakat bisa turut memerangi narkoba dengan tidak melakukan pembiaran. Bertepatan dengan Hari Anti Narkotika Internasional 26 Juni 2016, Presiden Joko Widodo sekali lagi menyatakan perang terhadap kejahatan narkotika yang disebutnya sebagai kejahatan luar biasa.

Dalam kesempatan itu, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bahu-membahu memberantas peredaran narkoba. Kejahatan narkoba yang dibiarkan berlarut-larut bisa melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat harus ikut berpartisipasi dan tidak melakukan pembiaran sekecil apapun. Tidak melakukan pembiaran bisa dimulai dari sendi masyarakat yang paling inti, yaitu keluarga. Pada tingkat keluarga, tidak melakukan pembiaran bisa dilakukan sebagai tindakan pencegahan, yaitu dengan mempererat dan meningkatkan kualitas hubungan orang tua dengan anak-anak. Selama ini hubungan yang tidak harmonis antara orang tua dan anak kerap menjadi pintu masuk kejahatan narkoba. Anak-anak yang tertekan, broken home atau frustrasi adalah sasaran empuk para pengedar narkoba.

Hubungan keluarga yang harmonis dan berkualitas bisa dibangun melalui komunikasi yang baik, keterbukaan dalam keluarga dan intensitas kebersamaan. Dalam bentuk lain, tidak melakukan pembiaran yang bisa dilakukan seluruh keluarga Indonesia adalah dengan berpartisipasi aktif memerangi kejahatan narkoba. Misalnya dengan memperhatikan lingkungan sekitar, lingkungan pergaulan anak-anak dan juga lingkungan sekolah. Lalu jika menemukan adanya indikasi yang mencurigakan bisa menghubungi pihak yang berwenang. Itu adalah bentuk sederhana tidak melakukan pembiaran.

Pada tahun 2015, diperkirakan angka prevalensi pengguna narkoba mencapai 5,1 juta orang dan 40 sampai 50 generasi muda tiap hari mati karena narkoba. Kerugian material diperkirakan mencapai 63 triliun rupiah, mencakup kerugian akibat belanja narkoba, biaya pengobatan, barang-barang yang dicuri, dan biaya rehabilitasi. Demikian data yang disampaikan Presiden dalam pidato sambutannya.

Presiden juga menambahkan tentang modus dan cara-cara baru pengedar narkoba untuk mengelabui masyarakat. Anak-anak dan wanita disebutnya sudah mulai dimanfaatkan oleh para pengedar narkoba untuk dijadikan kurir. Selain itu, mainan anak, kaki palsu, dan barang-barang yang tidak diduga lainnya kini juga menjadi modus baru dalam penyelundupan narkoba. “Semua itu harus dihentikan, harus dilawan, dan tidak bisa dibiarkan lagi. Kita tegaskan perang melawan narkoba di Indonesia. Saya ingin ingatkan kepada kita semuanya, kejar mereka! Tangkap mereka! Hantam mereka!” tegas Presiden disambut riuh para hadirin.

Diingatkan juga agar semua unsur masyarakat bersinergi. Jangan hanyut dalam runitinas harian dan tidak peduli pada sekitar. Kata-kata sudah tidak diperlukan lagi, kita memerlukan tindakan nyata. “Semua perlu bersinergi, mulai dari BNN, Polri, Kementerian/Lembaga, LSM, masyarakat, semua harus betul-betul melakukan langkah-langkah yang terpadu untuk melawan narkonba,” seru Presiden. Dengan tegas Presiden Jokowi menyatakan bahwa negara akan hadir bersama dengan masyarakat dalam usaha pemberantasan narkoba di Tanah Air. Presiden bertekad menjadikan Indonesia sebagai negara yang bersih dari peredaran dan perdagangan narkoba.

Dengan kekuatan dan ketegasan bersama, para pengedar narkoba akan bisa dikejar dan ditangkap. Dimanapun ada narkoba di Indonesia, seluruh sumber daya pemerintah harus hadir dan memberantasnya. Indonesia tidak boleh dijadikan tempat lalu lintas peredaran dan perdagangan narkoba lagi, apalagi menjadi tempat produksi barang-barang haram itu. Tekad Presiden sudah jelas, dan untuk mewujudkannya harus didukung seluruh elemen masyarakat. Langkah pertama adalah dengan tidak melakukan pembiaran sekecil apapun.