Kabinet yang bisa bekerja dengan cepat dan solid menjadi harapan Presiden agar rakyat dapat segera menikmati hasil pembangunan dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

Perombakan Kabinet ke II, pada Rabu, 27 Juli 2016 ini akhirnya diumumkan oleh Presiden Joko Widodo sendiri di Istana Negara. Empat menteri digeser dari posisi semula dan 9 menteri baru diangkat. Salah satu yang dirombak adalah Tim Ekonomi Kabinet. Presiden memasukkan nama Sri Mulyani Indrawati sebagai Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brojonegoro yang kini berpindah posisi menjadi Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas).

Dalam pIdato Perombakan Kabinet Jilid II Presiden menegaskan latar belakang pergantian tersebut.  Bahwa, bangsa Indonesia harus menyelesaikan masalah kemiskinan, mengurangi kesenjangan ekonom kaya dan miskin, serta kesenjangan antar wilayah. Berbagai masalah tersebut harus cepat diselesaikan. Termasuk memperkuat ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan ekonomi global, seperti perlambatan ekonomi. Di saat yang bersamaan, pemerintah harus membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk rakyat sebagai upaya mengurangi pengangguran yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat.

Tantangan-tantangan tersebut, tentu membutuhkan kecepatan  bertindak dan memutuskan agar rakyat segera bisa menikmati dalam jangka pendek, jangan menengah dan jangka panjang.

“Oleh karena itu saya selalu ingin berusaha maksimal agar kabinet kerja bisa bekerja lebih cepat, bekerja dalam tim yang solid yang saling mendukung dalam waktu yang cepat. Sekali lagi saya tekankan bahwa semangat perombakan kabinet kerja adalah penguatan kinerja pemerintahan. Kabinet yang bekerja cepat dalam tim yang solid dan kompak,” ucap Presiden pidato pengantar perombakan kabinet kerja yang kedua.

Apa yang dikemukanan Presiden tersebut tentu sejalan pernyataan yang selama ini sering  kali  diucapkan di berbagai kesempatan. Yakni, bahwa di era kompetisi, persaingan antarnegara adalah sebuah keniscayaan. Oleh karena itu Indonesia mau tak mau harus terlibat dalam persaingan itu dan bisa memenangkannya. Memenangkan persaingan ini terutama di sektor barang dan jasa butuh prasyarat-prasyarat. Mulai dari kesiapan infrastruktur, regulasi, dan juga pelaksanaan di lapangan.

Dengan demikian pergantian kabinet kali ini bisa dijadikan momentum untuk memenangkan persaingan tersebut dan sektor ekonomi yang tumbuh berkesinambungan bisa menjadi leading sektor. Tim Ekonomi Kabinet Kerja mengalami perombakan yang cukup signifikan.  Sri Mulyani Indrawati yang selama ini menjabat sebagai Direktu Pelaksana World Bank dipercaya menjadi Menteri Keuangan menggantikan Bambang Brojonegoro, jabatan yang sebelumnya juga pernah ia emban. Sementara Bambang Brojonegoro  menggantikan Sofyan Djalil sebagai Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Nasional. Berikutnya Thomas Lembong digeser dari Menteri Perdagangan  menjadi Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.

Penguatan tim Ekonomi ini disambut positif, paling tidak di bursa saham. Pada pembukaan bursa saham pada 27 Juli 2016, pukul 9, IHSG  dibuka pada angka 5224 dan meningkat pada 5282 saat berita ini dinaikkan pada pukul 11.50. Berdasar pantauan, 193 saham naik, 93 saham turun, dan 91 tidak bergerak. Bila dilihat besarannya, maka 2,9 juta saham diperdagangkan dengan frekuensi 160,232 kali dan nilai Rp 5,007 triliun.

Sambutan positif tersebut menunjukkan kepercayaan pasar pada tim ekonomi baru yang baru saja dibentuk. Tentu ini bukan muncul secara tiba-tiba, tetapi  merupakan kepercayaan pada nama-nama menteri Tim Ekonomi. Salah satunya adalah nama Sri Mulyani Indrawati yang telah berpengalaman menduduki jabatan penting di sektor keuangan. Ibu Ani, panggilan akrabnya, pernah dinobatkan sebagai Menteri Keuangan terbaik Asia untuk tahun 2006. Ia adalah orang pertama  yang menduduki Direktur Pelaksana Bank Dunia dan salah satu perempuan paling berpengaruh versi majalah Forbes tahun 2008.

Kepercayaan pasar tersebut merupakan modal awal yang bagus bagi Kabinet hasil perombakan jilid II ini. Kini adalah saatnya menjaga momentum tersebut lewat kerja nyata di lapangan untuk meningkatkan ekonomi dan mewujudkan kesejahteraan rakyat.