Wajah anak-anak yatim dan disabilitas itu ceria dan berseri-seri. Mereka tak mengira bisa diundang ke istana untuk berbuka puasa bersama Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana. Setitik kebahagiaan mereka rasakan sore itu.

Setiap manusia ingin diperhatikan, dipedulikan dan disayangi. Apalagi anak-anak yatim yang sudah kehilangan kasih sayang orang tua sejak mereka kecil. Presiden Jokowi adalah sosok yang memiliki kepekaan terhadap anak-anak dan generasi muda pada umumnya. Tindakan tegasnya ketika terjadi berbagai kasus kejahatan seksual terhadap anak atau sikap kerasnya terhadap bahaya narkoba yang mengancam generasi muda adalah fakta dan bukti kepekaan dan kepeduliannya pada anak-anak dan generasi muda.

Sikap ini kembali dibuktikan di Istana Kepresidenan Bogor. Selasa sore itu (28 Juni 2016), tampak berkumpul rapi anak-anak yatim dan penyandang disabilitas di atas gelaran karpet yang telah disiapkan sebelumnya. Presiden Jokowi dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo ‎mengadakan buka puasa bersama dengan seribu anak yatim dan penyandang disabilitas. Wajah-wajah anak yatim dan penyandang disabilitas itu ceria dan berseri-seri. Mereka tak mengira bisa diundang ke istana kepresidenan dan berbuka puasa bersama Presiden dan Ibu Negara.

Presiden Jokowi, seperti biasa, tidak kaku dan formal. Ia tidak langsung menempati tempat yang telah disediakan. Presiden memilih untuk menyapa terlebih dahulu anak-anak yang telah berkumpul rapi menunggu kedatangan Presiden sekaligus membagi-bagikan buku tulis seperti kebiasannya selama ini. Sementara di samping lokasi acara sudah berjejer banyak sepeda yang siap untuk dibagi-bagikan. Anak-anak yang disapa Presiden tampak tersenyum bahagia. Mungkin itu adalah senyum paling bahagia dalam hidup mereka.

Dalam sambutan singkatnya, Presiden Joko Widodo berpesan kepada anak-anak yang hadir agar selalu rajin belajar dan berdoa. “Anak-anakku semuanya yang saya cintai, saya ingin mengingatkan untuk anak-anakku semuanya untuk terus rajin belajar dan berdoa. Rajin belajar kita akan banyak ilmu dan rajin berdoa akan menambah iman kita.” Nasihat sederhana namun mendasar itulah yang pertama disampaikan Presiden. “Anak-anakku semuanya, jangan ada yang berpikir bahwa tidak ada yang menyayangi kalian. Banyak. Allah menyayangi kalian dan banyak orang di sekitar kita juga menyayangi anak-anakku,” tambah Presiden.

Selain kebahagiaan, Presiden mencoba memberikan anak-anak itu sebuah keyakinan, sebuah motivasi bahwa mereka memiliki tempat dalam kehidupan di masyarakat. Mereka tidak kehilangan peluang untuk disayangi oleh banyak orang. Anak yatim dan disabilitas selama ini banyak mengalami krisis kepercayaan diri karena merasa sebagai kelompok terbuang. Kelompok yang tidak diinginkan padahal potensi mereka sama hebatnya dibandingkan anak-anak lain. Usai sambutan singkat, Presiden meminta salah satu anak untuk maju ke depan. Seperti biasa, Presiden hendak membagikan hadiah yang kali ini berupa sepeda bagi yang mampu menjawab pertanyaannya.

“Hafal Pancasila? Coba, kalau bisa saya beri sepeda,” tanya Presiden ke salah seorang anak dari Bekasi yang sebelumnya memperkenalkan diri dengan nama Doni. Doni pun menjawab dengan menyebut 5 sila Pancasila tanpa kesulitan. Sesuai janjinya, Presiden Jokowi memberi hadiah sepeda dan menyuruh Doni memilih sendiri sepeda yang akan menjadi miliknya. Selain Doni, masih ada sedikitnya 13 anak lain yang mendapat hadiah sepeda dari Presiden untuk mereka bawa pulang.

Presiden dalam acara itu juga didampingi oleh  Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, dan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa. Acara yang hanya memakan waktu sekitar dua jam itu memiliki dampak sangat besar bagi anak-anak yatim dan disabilitas. Acara itu semoga akan menancap di sanubari mereka dan menjadi sumber kekuatan dan motivasi yang akan mendorong anak-anak itu untuk berkarya di bidang masing-masing. Setitik kebahagiaan telah mereka reguk sore itu.