Berkurangnya penduduk miskin antara lain karena persentase kenaikan pendapatan penduduk miskin dan inflasi yang relatif rendah. Pola hidup konsumtif juga harus diubah menjadi produktif.

Presiden Jokowi sejak awal menjabat sudah mengajak masyarakat untuk mengubah pola hidup konsumtif menjadi produktif. Dalam banyak kesempatan Presiden terus mengajak masyarakat untuk mengubah pola hidup. Hal ini juga yang mendasari kebijakan mencabut subsidi BBM yang dikatakan Presiden merupakan subsidi yang bersifat konsumtif dan lebih banyak dinikmati masyarakat menengah ke atas. Persoalan mengubah pola hidup konsumtif menjadi produktif memang sangat erat kaitannya dengan upaya pemerintah untuk mensejahterakan masyarakat.

Perlu dipahami bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar jumlah dan persentase penduduk miskin. Akar penyebab kemiskinan terkait banyak faktor yang salah satunya adalah pola hidup konsumtif tersebut. Dimensi lain yang perlu diperhatikan dalam melihat persoalan kemiskinan adalah tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan. Kebijakan dan upaya pemerintah untuk mengurangi angka kemiskinan juga mencakup upaya untuk mengurangi tingkat kedalaman dan keparahan kemiskinan tersebut. Artinya upaya tersebut dilakukan untuk mengatasi akar permasalahannya.

Indikasi yang penting adalah indeks kedalaman kemiskinan, yaitu indikasi rata-rata pengeluaran penduduk miskin (harus cenderung menjauhi garis kemiskinan). Sedangkan indeks keparahan kemiskinan mengindikasikan ketimpangan pengeluaran di antara penduduk miskin. Indeks kedalaman dan keparahan kemiskinan di desa saat ini masih lebih buruk dibandingkan dengan penduduk di kota. Penyebabnya antara lain karena pada era pemerintahan di masa lalu,  pembangunan masih cenderung sangat berorientasi ke kota.

Presiden Jokowi membuat perubahan melalui butir kedua Nawacita, yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dan desa-desa. Orientasi pembangunan juga tidak lagi Jawa Sentris di era pemerintahan Jokowi. Presiden berulang-kali mengatakan bahwa kini pembangunan harus berorientasi Indonesia Sentris.  Saat ini upaya pemerintah mulai membuahkan hasil. Menurut data BPS, pada Maret 2016 jumlah penduduk miskin atau penduduk dengan pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan sekitar 28 juta orang (10,86%). Berkurang sebesar 580 ribu orang dibandingkan dengan jumlah pada September 2015 yang mencapai 11,13%.

Persentase penduduk miskin di daerah perkotaan turun menjadi 7,79% pada Maret 2016. Sebelumnya pada September 2015 masih sebesar 8,22%. Sementara persentase penduduk miskin di daerah pedesaan dari 14,11% padaSeptember 2015 menjadi 14,09% pada Maret 2016. Di sisi lain, kontribusi komoditi makanan terhadap garis kemiskinan juga lebih besar dibandingkan peranan komoditi bukan makanan seperti perumahan, sandang, pendidikan, dan kesehatan. Sumbangan komoditi makanan terhadap garis kemiskinan pada Maret 2016 tercatat sebesar 73,50%. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan kondisiSeptember 2015 yaitu sebesar 73,07%.

Menurut data BPS selama periode September 2015–Maret 2016, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan turun dari 10,62 juta orang pada September 2015 menjadi 10,34 juta orang pada Maret 2016. Sementara untuk daerah pedesaan turun dari 17,89 juta orang pada September 2015 menjadi 17,67 juta orang pada Maret 2016. Penurunan di daerah pedesaan masih lebih rendah dibandingkan dengan penurunan kemiskinan di daerah perkotaan. Perputaran uang di desa juga jauh lebih kecil dibandingkan di kota. Apalagi semua uang di desa juga selalu langsung bergerak ke kota.

Sebagai bagian penting untuk terus mengurangi rakyat miskin, penting untuk dijaga harga-harga jenis komoditi makanan yang berpengaruh besar terhadap nilai garis kemiskinan di perkotaan maupun di perdesaan. Komoditas itu antara lain beras, telur ayam ras, gula pasir, mie instan, bawang merah, rokok kretek (filter) dan roti. Sedangkan untuk komoditi bukan makanan yang terbesar pengaruhnya terhadap kemiskinan adalah biaya perumahan, listrik, bensin, pendidikan, dan perlengkapan rumah tangga. Diperlukan juga partisipasi masyarakat untuk turut berjuang mengurangi kemiskinan, salah satu cara yang harus dilakukan adalah mengubah pola konsumtif menjadi produktif serta mencintai dan membeli produk-produk dalam negeri.