Istana Negara dan perayaan Hari kemerdekaan tak bisa dilepaskan satu sama lain. Puncak  perayaan kemerdekaan di istana Negara pada saat yang sama menjadi momen seluruh bangsa Indonesia.

Momen ini dirayakan oleh seluruh lapisan masyarakat di semua tempat. Pada momen inilah istana Negara sebagai tempat pusat kekuasaan bersatu dengan seluruh rakyat. Pada momen inilah istana menjadi milik seluruh bangsa Indonesia. Presiden Jokowi menyadari hal ini dan mewujudkannya dalam perayaan HUT kemerdekaan RI ke 71 tahun 2016.

Presiden mengundang ribuan warga masyarakat untuk menghadiri peringatan Kemerdekaan Republik Indonesia ke-71 di Istana Merdeka. Presiden menginginkan masyarakat diberi kesempatan lebih besar datang ke istana Negara untuk merayakan peringatan kemerdekaan. Ada sekitar 2.210 warga masyarakat diundang menghadiri perayaan 17 Agustus 2016. Kemeriahan perayaan kemerdekaan diisi oleh kebudayaan lokal berbagai daerah. Ada  musik tradisional Jawa Timur, perkusi ‘sape’ dari Kalimantan Barat, musik bambu dari Toli Toli (Sulawesi Selatan), kesenian massal Rampag Bedug, tari Krida Kusumaning Bangsa sampai marching band, koor anak-anak dan musik dari band popular.

Menurut Deputi IV Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, di era Presiden Soekarno, istana tidak hanya menjadi simbol lembaga kepresidenan tapi juga mempunyai fungsi sosial dan budaya. “Istana dijadikan sebagai ruang budaya yang bisa mengakomodasi berbagai kegiatan artistik, informal, populis dan inklusif. Soekarno menyadari pentingnya menjadikan istana sebagai ruang budaya yang bisa meleburkan berbagai sekat politik yang ada. Sebagai ruang budaya, istana menjadi sebuah ruang bersama untuk berdialog antar seluruh elemen bangsa,” jelas Eko. Kekayaan seni dan budaya Indonesia yang ada di istana dijadikan Soekarno sebagai sarana untuk mengenalkan karakter bangsa pada para tamu asing.

Para tamu Negara yang berkunjung selalu disuguhi tarian dan makanan tradisional dan diajak menikmati koleksi lukisan dan patung-patung di istana. Hiburan rakyat seperti wayang juga menjadi pertunjukan rutin di halaman istana yang terbuka untuk ditonton para undangan. Ki Gitosewoko adalah salah satu dalang favorit Presiden Soekarno. Sebagai pemimpin kerakyatan, Soekarno berhasil menciptakan istana Negara yang inklusif. Semangat ini pula yang dimiliki Presiden Jokowi saat ini.

Dalam perayaan kemerdekaan ke 71 ini, Presiden mengundang rombongan dari Jawa Barat yang terdiri dari para petani, peternak, petugas kebersihan, komunitas kreatif film, komunitas hijabers, guru, seniman, dan pengrajin. Peringatan kemerdekaan kali ini lebih didominasi oleh masyarakat ketimbang pejabat. Perbandingannya 70% undangan dari rakyat dan 30% pejabat. Rakyat diajak untuk ikut merayakan dan menikmati rasa kemerdekaan di istana negara. Istana merayakan peringatan kali ini lebih merakyat. Dimeriahkan pula oleh parade bendera pusaka dari Monumen Nasional (Monas) menuju Istana Merdeka untuk mengawali prosesi peringatan kemerdekaan. Di tahun-tahun sebelumnya, bendera pusaka  hanya diletakkan di meja mimbar kehormatan selama prosesi berlangsung.

Karakter istana yang dibangun Soekarno sebagai istana yang inklusif, merakyat dan berbudaya, mengalami keruntuhan di era Orde Baru. Soeharto menjadikan istana dengan ruh yang sama sekali berbeda. Istana menjadi simbol kekuasaan yang angker. Fungsi istana sebagai ruang budaya digantikan semata oleh fungsi politik kenegaraan. Presiden Jokowi meneruskan semangat Presiden Soekarno untuk mendesakralisasi istana yang sebelumnya pernah dirintis oleh Gus Dur, Presiden ke 4 RI. Gus Dur bahkan menghilangkan ketatnya protokuler istana dan membiarkan warga masyarakat keluar-masuk istana tanpa prosedur yang ketat. Karakter Gus Dur menghidupkan ruh istana yang inklusif seperti di era Soekarno. Semangat ini kembali diteruskan Presiden Jokowi.

Jokowi di hari pertamanya sebagai presiden memerintahkan Paspampres membuka pintu gerbang istana dan mengizinkan ribuan rakyat masuk menikmati istana merdeka. Presiden Jokowi pernah mengatakan pada relawan pendukungnya bahwa rakyat diijinkan ke istana tapi dengan pengaturan waktu tertentu guna menyesuaikan dengan jadwal presiden yang sangat padat. Presiden Jokowi mulai menjadikan istana sebagai ruang budaya yang inklusif dan merakyat sejak perayaan kemerdekaan tahun 2015. Pada perayaan HUT kemerdekaan RI tahun 2015 itu, Presiden mengundang ribuan rakyat biasa dari beragam organisasi relawan untuk menghadiri upacara detik-detik proklamasi.

Selain itu, Presiden Jokowi juga mulai mengundang berbagai elemen masyarakat untuk berdialog di istana. Perwakilan nelayan, buruh, aktivis mahasiswa, pegiat sosmed, korban pelanggaran HAM sampai para pelawak tercatat telah diundang Presiden ke istana Merdeka. Karakter Presiden Jokowi yang sederhana, merakyat dan suka blusukan memang seharusnya juga menjadi ruh dari karakter istana Negara. Karakter ini tercermin juga dalam perayaan HUT Kemerdekaan RI ke 71 tahun 2016 yang memberi tempat lebih besar pada masyarakat umum dibandingkan kepada para pejabat.

Menurut Eko Sulistyo, di tengah dinamika dunia politik diperlukan sebuah ruang budaya di istana yang bisa mencairkan sekat-sekat kepentingan politik dalam sebuah dialog yang lebih manusiawi. “Ruang budaya di istana adalah salah satu cara agar bisa terjadi dialog yang lebih akrab. Ruang budaya juga bisa menjadi ‘soft diplomacy’ pemerintah untuk menjelaskan pembangunan karakter bangsa Indonesia yang bhineka tunggal ika,” jelas Eko. Perayaan ulang tahun kemerdekaan Indonesia ke 71 tahun ini memperkuat langkah-langkah Presiden Jokowi untuk menjadikan istana Negara sesuai dengan karakternya yang sederhana dan merakyat.