Indonesia memang dilahirkan beragam. Ini terlihat ketika 6.100 peserta karnaval dari berbagai daerah di tanah air mempertunjukkan warna pakaian, gerakan, dan bunyi-bunyian yang berbeda. Justru dari sini memunculkan kemeriahan dan harmoni.

Karnaval Kemerdekaan Pesona Danau Toba 20-21 Agustus 2016 berlangsung di dua kabupaten, Simalungun dan Tobasa Provinsi Sumatera Utara. Kota Parapat menjadi tempat acara pertama dengan parade perahu hias dan musik sebagai sajian utamanya. Sementara Balige menyajikan karnaval kemerdekaan.

Kedua acara tersebut mempunyai arti penting, karena kawasan Toba yang melingkupi 7 kabupaten ditetapkan sebagai 10 tujuan wisata nusantara. Sejarah mencatat Danau Toba merupakan tempat yang istimewa, karena terbentuk oleh letusan gunung api purba raksasa. Letusannya pada 74.000 tahun silam telah membuat lanskap Toba seperti sekarang ini, danau terbesar se Asia Tenggara dengan pulau di Samosir di tengahnya sepanjang puluhan kilometer. Keunikan sejarah dan tempat inilah yang diangkat sebagai daya tarik tujuan wisata bukan hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia.

Pada akhirnya, wilayah ini kemudian memunculkan budaya yang unik. Masyarakatnya tersusun atas marga yang merupakan identitas kelompok.  Asal-usul marga secara umum dapat dikaitkan dengan nama leluhur tertentu dan perkampungannya. Jumlah marga dan cabangnya diperkirakan mencapai 400-an. Asosiasi marga terhubung dengan marga di luar Batak Toba karena faktor migrasi dan persoalan masyarakat tradisional.

Dengan keindahan alam dan kekayaan budaya pantaslah karnaval kemerdekaan ini digelar di kawasan ini. Di hari pertama acara dipusatkan di Pantai Bebas, Parapat dengan panggung apung sebagai pusatnya. Mengawali acara juru masak Bara Pattiradjawane  mempertunjukkan kepiawaian dengan memasak salah satu kekayaan kuliner khas Batak, arsik. Setelah itu ada pertunjukan musik dengan puncaknya penampilan grup musik Slank, parade perahu hias, dan pesta kembang api yang juga dihadiri oleh Presiden Joko Widodo.

Di hari ke dua Presiden Joko Widodo beserta rombongan melanjutkan acara dengan menyaksikan Karnaval Kemerdekaan di Balige, 60 km dari Parapat. Dalam sambutan singkat saat melepas karnaval kemerdekaan di Balige juga mengatakan identitas setiap daerah perlu dipertahankan dan akan mempersatukan Indonesia. Bahkan presiden meminta karnaval ini dilanjutkan tahun depan.

Keragaman budaya langsung terlihat ketika 6.100 peserta yang terbagi ke dalam 58 kelompok  dan datang dari berbagai kabupaten dan propinsi di tanah air ternasuk Papua memulai karnaval di jalanan Kota Balige sepanjang 3,5 km. Masyarakat dan peserta  antusias berbondong-bondong memadati sisi jalan yang akan dilewati peserta dan presiden sejak pukul 11.00.  Kekayaan budaya tersebut terlihat pada 3 hal: warna pakaian, gerak, dan bunyi menandai identitas masing-masing daerah.  Inilah Indonesia yang berwarna. Dan terbukti keragaman itulah yang mempersatukan negeri ini.

Rangkaian kegiatan ini diharapkan bisa menaikkan kunjungan wisata di kawasan Danau Toba. Oleh karena itu ada 3 hal yang menjadi prasyarat agar wisatawan mau datang. Yakni kesiapan infrastruktur, akomodasi, dan kesiapan tempat serta pertunjukan budaya. Pemerintah serius membenahi dan segera akan melakukan perpanjangan bandara Silangit dari 2.200 m menjadi 2.600 m. Frekuensi penerbangan juga ditambah, dari 3 kali menjadi setiap hari. Jalan tol lintas Sumatera dari Medan secara bertahap juga akan dibangun, sehingga Kota Parapat nantinya bisa ditempuh dalam waktu 2,5 – 3 jam dari Medan.

Dengan berbagai langkah ini wisatawan bisa menikmati kawasan ini dengan lebih mudah. Harapannya efek berantai kunjungan wisata akan menggerakkan ekonomi daerah karena sebenarnya potensinya sudah ada. Apalagi Sumatera Utara dikenal dengan masyarakatnya yang terbuka.