Sejumlah karya seni pilihan koleksi Istana yang dipamerkan di Galeri Nasional adalah saksi sejarah, yang dapat memberikan kisah menarik tentang masa-masa awal Kemerdekaan Indonesia

Alan Wilson Watts, pemikir asal Inggris (1915-1973) mengungkapkan dengan tepat, peran seni dan budaya dalam pembangunan peradaban masyarakat. “Kita jarang menyadari, bahwa alam pikiran dan emosi kita yang paling pribadi sekalipun, sesungguhnya tak berasal dari diri kita sendiri. Karena kita berpikir dalam bahasa dan imaji yang tidak kita ciptakan, tapi yang diberikan pada kita oleh masyarakat.”

Kualitas pemikiran sebuah bangsa, yang terbentuk dalam berbagai kosa kata dalam bahasa yang diwariskan pada kita, serta berbagai karya seni yang dihasilkannya secara kolektif, tentu dapat berperan penting untuk menjadi dasar dan cerminan bagi peradaban seperti apa yang akan berkembang dari sebuah bangsa.

Generasi penerus di Indonesia tentu bisa merasa bangga, karena para pendiri bangsa memiliki kualitas pemikiran yang sangat tinggi dan universal, yang tercermin dalam Pancasila dan berbagai karya mereka di masa-masa awal kemerdekaan. Begitu juga dengan karya seni bernilai tinggi yang dihasilkan para seniman-pejuang pada masa itu.

Harta karun koleksi benda-benda seni itu, sebagian mungkin sudah rusak. Namun, sebagian lagi, masih ada. Tersebar dan tersimpan di Istana Merdeka dan Istana Negara di Jakarta, Istana Bogor, Istana Cipanas di Cianjur, Jawa Barat, Istana Tampaksiring di Bali dan Gedung Agung di Yogyakarta.

Menurut pendataan yang pernah dilakukan Sekretariat Negara pada tahun 2010, jumlahnya mencapai 16.000 koleksi benda seni! Sebagian besarnya merupakan koleksi era Presiden Soekarno, yang terdiri dari 2.700 lukisan, 1.600 patung dan 11.800 karya kriya atau kerajinan. Nilainya, konon bisa mencapai lebih dari Rp1,5 triliun rupiah.

Di antara koleksi tersebut, terdapat sejumlah karya para maestro lukis Indonesia berkelas dunia seperti Raden Saleh, S. Soedjojono, Affandi, Basoeki Abdullah dan Dullah. Lalu, ada pula karya pelukis dunia seperti Konstantin Egorovich Makovsky (Rusia), Diego Rivera (Meksiko) dan Lee Man Fong (pelukis Istana asal Tiongkok yang menjadi WNI).

Bagaimana karya-karya diperoleh Soekarno, juga bisa merupakan kisah tersendiri yang menarik untuk disimak. Salah satunya adalah lukisan “Memanah”, karya pelukis asal Sulawesi Utara, Henk Ngantung. Lukisan yang dibuat pada tahun 1943 tersebut, ketika pertama kali dilihat Soekarno, sebetulnya belum selesai. Namun, Soekarno sudah keburu jatuh hati dengan lukisan tersebut.

Yang terjadi kemudian, Henk Ngantung menyelesaikan lukisan tersebut, tapi sebelumnya meminta Soekarno untuk menjadi model lukisan tangan si pemanah yang waktu itu belum selesai. Kelak di kemudian hari, lukisan tersebut menjadi latar belakang pada saat Soekarno dan Hatta membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 di Jalan Pengangsaan Timur 56.

Lukisan tersebut, yang sayangnya berada dalam keadaan yang sedikit rusak, dipamerkan berdekatan dengan replikanya di Galeri Nasional bersama sejumlah 27 lukisan terpilih lainnya sepanjang Agustus 2016. Pameran dengan tajuk 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan dibuka oleh Presiden Jokowi pada tanggal 1 Agustus 2016. Presiden Jokowi sendiri memfavoritkan lukisan “Memanah”, karya Henk Ngantung tersebut.

“Kalau saya ditanya (saya) favoritkan karya Pak Henk Ngantung,” ungkap Presiden pada saat peresmian pameran.

Pameran seni ini memang diharapkan menjadi ajang komunikasi budaya, baik pada generasi penerus bangsa, maupun pada masyarakat internasional tentang kekayaan, keragaman dan universalisme nilai-nilai yang menjadi fondasi Indonesia Merdeka. Semoga melalui karya-karya dan kisah-kisah di baliknya, kita dapat tergerak memberikan lebih banyak sumbangan “bahasa dan imaji” bagi Indonesia jaya, yang damai, sejahtera dan berkemajuan. Merdeka!