Unggul produksi kedelai, kacang tanah, ubi, buah, dan ikan bisa menjadi pijakan untuk mengembangkan sektor perekonomian di Lampung. Apalagi letak geografis yang dekat dengan Jabodetabek yang membutuhkan pasokan bahan baku dalam jumlah besar.

Dalam rapat terbatas evaluasi pelaksanaan proyek strategis nasional dan program prioritas yang di Lampung, Senin (6/3/2017), Presiden meminta jajarannya fokus pada keunggulan daerah. Pertumbuhan ekonomi Provinsi Lampung yang saat ini berada pada angka 5,15 persen. Angka ini di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional, sebesar 5,02 persen pada 2016.

“Saya yakin ke depan perekonomian Provinsi Lampung bisa tumbuh lebih cepat lagi. Dengan catatan betul-betul fokus menggarap apa yang menjadi sektor unggulan, mengembangkan apa yang menjadi core business Provinsi Lampung,” ujar Presiden di Kantor Presiden, Jakarta.

Presiden ingin agar Lampung memprioritaskan apa yang selama ini memang menjadi unggulannya. Apa unggulan Provinsi Lampung? Data Badan Pusat Statistik 2015 menunjukkan, Lampung unggul dalam beberapa komoditas pertanian dan buah-buahan. Produksi kedelainya cukup tinggi. Pada tahun 2014 provinsi ini menghasilkan kedelai sebesar 13.545 ton. Produksi sebesar itu menduduki peringkat 4 di Sumatera. Untuk kacang tanah, bumi Lampung bisa menghasilkan 9.953 ton atau urutan ke-2 terbesar setelah Sumatera Utara. Bahkan untuk ubi kayu, Lampung menghasilkan hingga 8.059 287 ton. Angka ini terbesar di Sumatera.

kip mojosongo

Dalam komoditas buah, Lampung merupakan produsen buah mangga, durian, dan pisang. Jumlah produksinya menduduki peringkat ke-3 di Sumatera. Sementara untuk pisang dengan produksi 1.664.239 ton per tahun Lampung menduduki urutan ketiga di Indonesia, setelah Jawa Barat dan Jawa Timur.

Dalam produksi perikanan tangkap, data tahun 2013 Lampung menghasilkan 169.361 ton yang merupakan gabungan dari perikanan laut dan perikanan umum.

Potret di atas menunjukkan kekuatan Lampung ada pada sektor pertanian, buah-buahan, dan perikanan. Ketiga hal itulah yang menurut Presiden harus dikembangkan. Besarnya produksi di komoditas tersebut menunjukkan tanah dan iklim di daerah ini cocok untuk jenis tanaman pertanian dan buah-buahan. Dengan fokus pada komoditas tersebut maka akan tercapai akumulasi keterampilan dan efisiensi produksi sehingga bisa dihasilkan produk yang bermutu dengan harga yang bersaing.

Dalam hal buah, tantangannya adalah bagaimana buah yang berlimpah ini bisa menembus pasar internasional. Pasar ekspor nyaris tak terbatas. Kuncinya adalah memenuhi spesifikasi di negara penerima. Keseragaman buah dalam hal ukuran, warna, dan tingkat kematangan menjadi prasyarat utama. Selain kebersihan dan ketepatan waktu pengiriman. Tantangan menembus pasar global ini sebanding dengan nilai tambah yang bakal diterima.

Dalam hal kedelai, yang perlu dilakukan adalah perluasan lahan dan peningkatan produksi per luas tanaman. Ini karena kedelai sangat dibutuhkan untuk memasok sebagai bahan pembuatan tempe dan tahu. Seperti kita ketahui, negara kita masih mengimpor kedelai dari luar.

listrik NTT 2

Dengan berbagai keunggulan Lampung tersebut, tak ayal jika Presiden berpandangan Provinsi Lampung menyimpan potensi besar, di sektor pertanian, perikanan, dan perkebunan. Hal itu dapat dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung, dengan 31,45 persennya berasal dari sektor tersebut untuk kemudian diikuti di bawahnya dari sektor pengolahan yang memberi sumbangsih sebesar 18,83 persen.

Selain fokus pada bisnis unggulan, Presiden juga ingin proyek strategis dan juga program prioritas yang tengah dikerjakan bisa berdampak langsung untuk mengurangi kesenjangan. Dampak dari pelaksanaan proyek dan program tersebut diharapkan tidak hanya dirasakan dari segi peningkatan pertumbuhan ekonomi daerah saja, melainkan turut berperan pada pengentasan kemiskinan di daerah tersebut.

“Saya minta agar pertumbuhan ekonomi yang semakin tinggi itu harus bisa berdampak langsung pada 13,86 persen penduduk miskin di Provinsi Lampung,” ucap Presiden.

Agar perekonomian daerah tumbuh lebih cepat, infrastruktur pendukung transportasi, dan infrastruktur yang menopang sektor perikanan dan pertanian harus dibenahi. Seperti jalan Tol Trans-Sumatera, kelistrikan, cold storage untuk sektor perikanan, dan saluran irigasi yang mendukung sektor pertanian.

Sementara itu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengembangkan melalui Wilayah Pengembangan Strategis (WPS) Pertumbuhan Terpadu Merak-Bakauheni-Bandar Lampung-Palembang-Tanjung Api-Api (MBBPT).

Wujudnya adalah pembangunan beberapa ruas tol yang merupakan bagian dari jalan tol Trans-Sumatera seperti Ruas Bakauheni-Terbanggi Besar dan Terbanggi Besar-Pematang Panggang-Kayu Agung.

AGRARIA 4

Jalan Tol Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140,9 kilometer merupakan salah Program Strategis Nasional (PSN) yang tengah dikerjakan oleh PT Hutama Karya.
Pembangunan yang dimulai sejak 2015 ini menyerap investasi sebesar Rp 16,79 triliun. Untuk mengejar target operasional pada 2018 mendatang, beberapa bagian pada ruas Bakauheni-Terbanggi Besar bisa dirampungkan pada 2017 ini.

Di antaranya adalah ruas Pelabuhan-Bakauheni sepanjang 8,9 kilometer dan ruas Lematang-Kota Baru dengan panjang 5,64 kilometer yang selesai pada Maret 2017.
Sementara ruas Branti-Metro sepanjang 13,5 kilometer dan ruas Gunung Sugih-Terbanggi besar 10 kilometer pada Desember 2017 dan sisanya pada 2018. tambah Basuki.

Selain itu untuk mendukung mobilitas penduduk maupun barang yang lebih baik, kualitas pelayanan penyeberangan Pelabuhan Bakauheni-Merak diminta Presiden untuk turut ditingkatkan. Terutama dalam hal waktu tunggu sandar yang masih lama, sarana prasarana pendukung tidak representatif, dan masih rendahnya aksesibilitas menuju pelabuhan.

Kalau hal-hal di atas bisa dibenahi, kita berharap perekonomian Lampung akan tumbuh lebih cepat lagi.