Produk PT Pindad, seperti senapan SS2-V4, terbukti membawa prestasi di tingkat dunia. Perlu dukungan bersama agar industri strategis nasional bangkit menjadi salah satu yang terbaik.

Ada banyak syarat yang dibutuhkan Indonesia untuk menjadi sebuah negara besar. Mulai dari penguatan di bidang pendidikan, perekonomian hingga pertahanan dan keamanan. Aspek pertahanan dan keamanan menjadi tak terelakkan. Meskipun negara dan masyarakat berada dalam keadaan damai, namun ancaman dari dalam dan luar negeri dapat muncul sewaktu-waktu. Apalagi jika mengingat sumber daya alam kita, di darat maupun di laut, masih melimpah.

Secara obyektif, kita tentu perlu membuka mata dan telinga untuk menyerap perkembangan teknologi yang terjadi – melalui kerja sama dengan negara-negara yang telah lebih dulu mengembangkan sistem pertahanan dan keamanannya. Namun, jangan lupa memantau potensi di negeri sendiri. Sebab selalu ada inovasi anak-anak negeri. Seperti yang terjadi di PT Pindad.

Pelaku industri strategis nasional ini didirikan sejak masa Hindia-Belanda, tepatnya tahun 1808 dengan nama Constructie Winkel, lalu sempat berganti nama menjadi Perindustrian Angkatan Darat di tahun 1962 dan akhirnya menjadi PT Pindad (Persero) sejak 29 April 1983. Hingga sekarang, masih terus bertahan menghasilkan sejumlah produk unggulan, terutama senjata dan kendaraan tempur yang sudah teruji di berbagai tingkatan.

Salah satunya senjata SS2-V4 yang sudah menjadi pembicaraan di berbagai media, karena keberhasilannya membawa TNI menjadi juara umum untuk kesembilan kalinya di ajang bergengsi Australian Army Skill At Arms Meeting (AASAM) di Australia. Produk yang memiliki jarak efektif 500 meter dengan kaliber 5,56 x 45 mm dan panjang laras 500 mm ini mampu mengalahkan senjata berbagai negara besar, termasuk Tiongkok dan Amerika Serikat.

Produk unggulan lain adalah kendaraan tempur Anoa 6×6 yang telah terbukti  mendukung misi perdamaian PBB di Libanon (United Nations Interim Force in Lebanon, UNIFIL), Republik Afrika Tengah (United Nations Multidimensional Integrated Stabilization Mission in the Central African Republic, MINUSCA) dan Sudan (The United Nations-African Union Mission in Darfur, UNAMID). Produk ini, menjadi kendaraan tempur favorit di Timur Tengah, selain karena kegesitan 6 roda anti-bocornya, juga karena satu-satunya yang menggunakan pendingin ruang dengan kapasitas 10 PK.

Ada juga senapan mematikan, untuk para sniper atau penembak jitu jarak jauh. Yaitu SPR 2 dengan kaliber 12,7 x 99 mm dan panjang laras 1055 mm. Senjata ini mampu menempuh jarak fantastis  hingga 2 kilometer dengan kecepatan 900 meter/detik dan bisa menembus tank baja. Dibandingkan dengan produk negara-negara lain, SPR 2 memiliki kelebihan jangkauan, ketepatan, dan  peredam suara yang bisa menurunkan suara hentakan hingga 20-30 desibel.

Dengan potensi dan prestasi yang dimilikinya, PT Pindad yang memiliki pusat produksi di Bandung dan Malang ini tentu layak untuk mendapatkan dukungan semua pihak agar terus menjadi besar dan berkelanjutan secara bisnis serta menjadi salah satu yang terkemuka di dunia. Di sisi lain, PT Pindad sendiri perlu terus memperkuat riset dan pengembangannya, termasuk menyerap masukan dan kritik konstruktif untuk penyempurnaan berbagai macam produknya.

Presiden Jokowi sendiri sudah pernah memberikan dukungan agar PT Pindad terus berkembang.  “Saya minta manajemen untuk dapat membangun kapasitas poduksinya, teknologinya. Jika tidak bisa sendiri silakan mencari mitra kerja dari luar negeri. Produknya pun tidak hanya untuk dalam negeri, tapi pasar global,” kata Presiden dalam kunjungan ke PT Pindad tanggal 12 Januari 2015.

Dalam sidang paripurna pada 3 November 2014, Presiden juga mendukung peningkatan omzet industri pertahanan dalam negeri sebesar 30 hingga 40 persen. Hal ini  sejalan dengan Undang-Undang Nomor 16 tahun 2012 tentang Industri Pertahanan yang mewajibkan pengadaan Alutsista (Alat Utama Sistem Pertahanan) dari dalam negeri – kecuali yang belum bisa diproduksi di dalam negeri.

Untuk mewujudkannya, kuncinya adalah sinergi. Sebelum memperkuat ekspansi ke pasar luar negeri, pasar domestik harus terlebih dahulu dioptimalkan. Sebab, sebagi sebuah industri strategis, tentu tak mudah untuk memasuki pasar global karena ada begitu banyak aspek, termasuk mempertimbangkan politik pertahanan.

Dari sisi suplai, sinergi antar BUMN misalnya, dapat dilakukan dengan menyerap bahan baku atau komponen berbagai produk PT Pindad. Sedangkan dari sisi permintaan, produk PT Pindad – yang memenuhi kelayakan kualitas maupun kuantitas –  harus mendapatkan prioritas oleh berbagai pemangku kepentingan, termasuk TNI, Polri, BUMN dan yang lainnya. Bila target awal ini  tercapai, maka akan lebih mudah untuk menyasar target selanjutnya: berjaya di pasar dunia.