PLBN bisa dimanfaatkan sebagai gerbang ekspor produk lokal ke negara tetangga. Bukan hanya sekadar pencatatan administrasi lalu-lintas orang.

Memberdayakan perbatasan! Keinginan itulah yang sebenarnya menjadi latar belakang peresmian berbagai Pos Lintas Batas Negara (PLBN) di Tanah Air. Sebagai negara kepulauan Indonesia dengan rentang jarak sekitar 5.000 km dari Sumatera hingga Papua, negara kita berbatasan dengan 3 negara tetangga di tiga provinsi. Papua dengan Papua Nugini. Nusatenggara Timur dengan Timor Leste, dan Kalimantan dengan Malaysia.

Dalam kesempatan meresmikan PLBN di dan mengunjungi perbatasan Presiden menyampaikan dua pesan penting.

Pertama, soal harga diri bangsa. Menurut Presiden sosok bangunan pos lintas batas mencerminkan kebanggaan suatu bangsa. Bagaimana masyarakat di tempat tersebut merasa bangga dengan negaranya, jika sosok bangunan pos lintas batas saja kalah jauh dengan bangunan pos lintas batas negara tetangga. Oleh karena itu, ketika melihat pos lintas batas yang kurang layak lebih dari setahun lalu, Presiden meminta pos lintas batas dibangun dengan megah melebihi negara tetangga.

Pesan kedua adalah agar pos lintas batas negara tidak sekadar sebagai lalu-lintas orang saja dan pengurusan administrasi wilayah perbatasan. Namun juga diberdayakan sebagai pusat pertumbuhan ekonomi untuk mensejahterakan masyarakat sekitar. Caranya dengan menumbuhkan pusat-pusat kegiatan ekonomi baru.

kerja keras

“Bisa menumbuhkan ekonomi masyarakat. Kita ingin pos-pos ini bisa kita pakai untuk akses produk-produk lokal, produk-produk Indonesia ke negara tetangga,” ucap Presiden Joko Widodo usai meresmikan PLBN Aruk di Kabupaten Sambas, Jumat (17/3/2017).

Dengan cara-cara seperti ini, lanjut Presiden, akan mempercepat PLBN menjadi titik pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Seperti di PLBN Badau, dimana terdapat ekspor CPO sebanyak 70 ribu metrik ton. Dan diharapkan tahun ini naik menjadi 100 ribu metrik, kesempatan macam ini harus harus diambil.

Sementara di PLBN Aruk Kabupaten Sambas, komoditas unggulan yang diekspor berbeda dengan komoditas di PLBN Badau. Di sini komoditas unggulan yang ada di Kabupaten Sambas bisa diberdayakan. Macam jeruk, lada dan buah naga. “Dorong semuanya untuk ekspor,” kata Presiden.
Produk yang berorientasi ekspor secara langsung juga akan meningkatkan mutu produk karena persyaratan yang diminta lebih ketat. Dengan cara ini petani dididik untuk menjaga mutu mulai dari pemilihan bibit hingga penanganan paska panen.

laporkan 2

Di sisni petani tidak bisa berjalan sendiri. Dukungan pemerintah daerah, baik dari gubernur, bupati maupun walikota sangat diharapkan dalam bentuk penyuluhan hortikultura atau bahkan pengemasan produk agar memikat calon pembeli dan dapat bersaing di pasar internasional. “Harus menyiapkan produk-produknya agar bisa kompetitif, memiliki kualitas yang baik, agar bisa diterima untuk pasaran ekspor,” kata Presiden.

Bahkan Presiden ingin agar negara tetangga dimanfaatkan sebagai jembatan menuju pasar internasional. “Dari sini lewat Kuching bisa ke negara lain, tidak apa-apa, kenapa tidak? Tapi jangan sampai (produk) dari sana masuk kebanyakan ke sini,” ucap Presiden.

kerja keras 4

Peresmian PLBN menunjukkan komitmen Presiden dalam membangun daerah terluar, terdepan, dan tertinggal. Sebagai bagian dari tumpah darah Indonesia, kawasan perbatasan wajib mendapatkan perlakukan yang adil dengan memberi kesempatan yang sama untuk berkembang.

Butir Nawacita seperti disampaikan Jokowi-JK dalam janji kampanyenya juga menggarisbawahi, pemerintah akan membangun daerah pinggiran dan memusatkan pembangunan bukan lagi Jawa Sentris tetapi Indonesia Sentris. Ini adalah wujud pemerataan pembangunan untuk kesejahteraan rakyat yang akan dipercepat lagi pada tahun 2017.

Jika kesejahteraan rakyat terwujud, artinya PLBN berhasil memberdayakan kawasan perbatasan seperti harapan Presiden.