Memetakan kondisi lahan dan menata kembali sesuai fungsinya khususnya di hulu Sungai Cimanuk menjadi langkah agar banjir bandang tidak terulang di masa mendatang.

Banjir bandang di Kabupater Garut pada Selasa (20/9) malam sungguh mengejutkan. Selain meluluhlantakkan kawasan pemukiman, banjir tersebut, sampai Jumat (23/9) juga menyebabkan 26 korban tewas, 23 orang masih belum ditemukan dan sekitar 500 keluarga di tujuh kecamatan terkena dampak. Kita berduka untuk korban yang meninggal dan belum ditemukan.

Pemerintah bertindak cepat dengan mengirimkan bantuan, menampung para pengungsi , membersihkan lokasi bencana. Semuanya ditujukan agar pemukiman tersebut kembali pulih dan masyarakat bisa bertempat kembali di sana melanjutkan kehidupan.
Disebutkan, banjir bandang tersebut datang secara tak terduga. Volume air yang melonjak secara tiba-tiba membawa serta banyak material dan menerjang pemukiman. Beberapa pakar menyebutkan salah satu penyebab banjir bandang adanya alih fungsi lahan yang tidak terkendali.

Alih fungsi lahan menyebabkan volume aliran permukaan melonjak secara tiba-tiba karena tidak adanya mekanisme pengereman sebelum air tersebut masuk ke sungai. Dalam kondisi lingkungan yang masih alami, aliran air hujan akan terdistribusi secara merata. Air hujan itu akan mengenai dedaunan pohon, semak, atau rerumputan terlebih dahulu sebelum mencapai sungai. Mekanisme ini membuat aliran air mempunyai jeda waktu dari mulai jatuh hingga memasuki sungai sebagai aliran air. Jeda waktu ini semakin lama bila lahan masih dipenuhi dengan pepohonan yang lebat.

Ketika lahan kurang vegertasi, maka air hujan langsung mengenai tanah dan menghanyutkannya, akibatnya aliran air seperti kendaraan yang melaju kencang tanpa rem. Kemiringan lahan membuat aliran air semakin kencang dan pada titik tertentu sungai tidak lagi bisa menampung volume air. Sehingga terjadilah banjir bandang. Kondisi inilah yang terjadi di Garut dan daerah-daerah lain dalam kasus banjir bandang. Pada akhirnya yang menjadi korban adalah masyarakat yang berada di hilir aliran. Karena di hilir kumpulan air dan material telah menjadi kekuatan yang mematikan.

Melihat gambaran di atas, inilah saatnya membenahi lingkungan hulu, karena pada dasarnya, aliran sungai dan lingkungan yang melingkupinya adalah sebuah daerah aliran sungai (DAS). Penataan harus dilakukan dengan memperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan aliran air. Faktor-faktornya meliputi: tinggi rendahnya curah hujan, tingkat penutupan lahan, kemiringan tanah, dan sistem pengolahan tanah.

Faktor besar kecilnya curah tidak bisa kita pengaruhi, tapi 4 faktor berikutnya sepenuhnya berada dalam kendali manusia, itu artinya bisa kita benahi. Pembenahan ke-4 faktor penyebab banjir tersebut bisa dimulai dengan menghijaukan daerah-daerah yang gundul serta mengembalikan lahan sesuai fungsinya. meningkatkan penutupan lahan untuk mengerem aliran air. Kemudian yang perlu dilakukan juga adalah membuat zonasi, daerah mana yang masih boleh ditanami palawija atau tanaman pangan dan daerah mana yang tetap harus berupa hutan konservasi. Dalam hal hutan konservasi, maka wilayah ini tidak boleh diusahakan karena kemiringan tanah yang di atas 45o. Pengusahaan tanah di tempat ini bisa mengakibatkan longsor atau banjir.

Pelajaran yang bisa dipetik adalah selalu ada hikmah dibalik musibah. Kejadian banjir bandang sebisa mungkin tidak terulang. Faktor-faktor penyebab sebenarnya sudah bisa diidentifikasi, kini tinggal pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat berkerja bersama membenahi persoalan tersebut.