Peresmian PLTG MPP sebesar 500 MW yang di pusatkan di Kalimantan Barat bermakna penting. Lantaran listrik adalah komponen utama proses produksi usaha skala rumah tangga hingga industri.

Listrik adalah penanda kemajuan. Bagi masyarakat yang tinggal di kota besar putusnya aliran listrik bisa disebut malapetaka. Pemadaman listrik menunjukkan terbatasnya cadangan untuk memenuhi kebutuhan penerangan. Singkatnya, terjadi kekurangan pasokan listrik.

Ketertinggalan pasokan listrik disebabkan oleh berbagai hal. Di antaranya tersendatnya pembebasan lahan, regulasi, dan perizinan, pendanaan, hingga negosiasi harga jual listrik antara pihak swasta dengan PLN. Namun pemerintah, punya jurus untuk mengatasi berbagai kendala tersebut, sehingga diharapkan mempercepat pembangunan pembangkit.

Angka statistik menunjukkan, pertumbuhan permintaan listrik nasional sebesar 7.000 Megawatt pada tahun 2016 atau rata-rata 8,7%. Kebutuhan ini sebaiknya terpenuhi sebagai prasyarat pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 7-8% pada tahun 2019.

listrik kalbar 4

Sementara ini, kapasitas pembangkit baru bisa mengaliri listrik pada 88,30% rumah tangga. Pada akhir tahun 2019, pemerintah menargetkan 97,3 % rumah tangga terhubung dengan listrik. PLN sendiri telah hadir di 85% desa di Indonesia.

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Jarman, mengungkapkan, dalam program 35.000 MW, Kementerian ESDM juga meluncurkan Program Indonesia Terang (PIT) dalam rangka memenuhi target peningkatan rasio elektrifikasi nasional di tahun 2019. Lewat Program Indonesia Terang yang dilakukan oleh Kementerian ESDM akan dijangkau 12.659 desa yang belum sepenuhnya menikmati listrik. Dimana 2.519 desa diantaranya masih gelap gulita.

Yang pasti, minimnya pasokan listrik bukan saja mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga menurunkan daya saing industri dan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional. Program listrik 35.000 MW adalah cara untuk mengejar ketertinggalan pasokan listrik di seluruh tanah air. Program ini menjadi program strategis nasional. Meski begitu, suara pesimis sempat muncul atas sebuah program yang cukup ambisius ini. “Bagaimana mungkin menambah pasokan listrik hingga 35.000 MW, sementara dalam kurun waktu 69 tahun sejak merdeka kapasitas yang dibangun hanya mencapai sekitar 52.000 MW.

listrik kalbar 2

Tapi Presiden Joko Widodo optimis target ini bisa dicapai. “Target 35.000 MW bukanlah hal ringan, tapi harus dicapai dengan kerja keras,” ucap Presiden.

Oleh karena itu peresmian 8 Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Mobile Power Plant (MPP) yang berkapasitas total 500 MW adalah langkah untuk mengatasi kelangkaan pasokan listrik.

Peresmian delapan PLTG MPP dengan total kapasitas 500 MW dan sembilan infrastruktur ketenagalistrikan di Kalimantan Barat itu dipusatkan di PLTG MPP Parit Baru (Pontianak) di Desa Jungkat, Kabupaten Mempawah, Provinsi Kalimantan Barat, Sabtu (18/3/2017).

Tambahan daya listrik tersebut diyakini dapat memenuhi kebutuhan listrik bagi 100 ribu rumah tangga. Mengingat saat ini pasokan listrik sangat dibutuhkan untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi serta pembangunan di Bumi Khatulistiwa.

Dipilihnya mobile power plant karena proses pembangunannya hanya memakan waktu 6 bulan. “Kalau kita pakai yang batu bara bisa 4 tahun sampai 5 tahun (membangunnya) tapi ini bisa dikerjakan cepat,” ujar Presiden.

listrik kalbar 3

Bukan hanya Kalimantan Barat, sejumlah provinsi di Indonesia juga dapat merasakan manfaat dari pembangunan PLTG tersebut. Selain menggunakan gas sebagai bahan baku yang murah dan tidak merusak lingkungan, PLTG MPP tersebut bisa berpindah tempat sesuai dengan kebutuhan.

Pembangunan pembangkit untuk meningkatkan pasokan listrik adalah langkah strategis pemerintah, karena berpotensi menggerakkan roda perekonomian. Pasalnya, listrik adalah komponen utama pembuatan produk, mulai dari industri yang berskala rumah tangga, menengah, ataupun besar. Besarnya konsumsi listrik per Kilowatt-hour atau KWh per kapita berkorelasi erat dengan tingkat kesejahteraan masyarakat.

listrik kalbar 5

Kementerian ESDM menyebut konsumsi listrik nasional saat ini masih terbilang kecil. Hanya seperempat dari indikator negara maju di dunia. Dengan angka 956 (KWh) per kapita. Konsumsi listrik Indonesia ini baru mencapai 23,9 persen dari konsumsi listrik negara maju sebanyak 4 ribu KWh per kapita.
Oleh sebab itu peningkatan rasio elektrifikasi dan penyediaan listrik penting untuk meningkatkan konsumsi listrik dalam negeri dan membawa pada kemajuan.