Presiden menemui perwakilan masyarakat Kendeng di Istana Negara guna mencari solusi terbaik bagi semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan pabrik semen di Gunung Kapur, Peti, Jawa Tengah.

Dalam setiap persoalan yang terjadi di masyarakat, hal terpenting untuk mencari penyelesaiannya adalah adanya ruang untuk berdialog. Adannya keterbukaan untuk berkomunikasi dari pihak-pihak yang berselisih agar bersedia saling mendengarkan. Presiden Joko Widodo adalah sosok yang selalu bersedia untuk mendengarkan, berdialog dan berkomunikasi dalam mencari solusi berbagai persoalan. Itulah yang juga diperlihatkannya ketika menerima rombongan warga Kendeng pada Selasa sore, 2 Agustus 2016.

Sore itu Presiden menemui perwakilan masyarakat Kendeng di Istana Negara, setelah sebelumnya rombongan diterima oleh Kepala Staf Presiden, Teten Masduki. Sekira 17 orang perwakilan masyarakat Kendeng menyampaikan keluhan mereka terkait masalah pendirian pabrik semen dan eksploitasi kawasan Gunung Kapur, Pati, Jawa Tengah. Perjuangan masyarakat Kendeng selama ini sudah cukup panjang dan berliku dan Presiden pun memahami dengan baik perjuangan mereka.

Kepala Kantor Staf Kepresidenan Teten Masduki yang turut hadir mendampingi Presiden menjelaskan hasil pertemuan tersebut. Menurutnya, diskusi antara Presiden Joko Widodo dengan perwakilan masyarakat Kendeng berjalan dengan sangat baik. “Saya kira pembicaraan cukup baik, Presiden berbicara dalam bahasa Jawa yang santun. Intinya saya kira tadi Bapak Presiden sudah mendengar keluhan dari masyarakat Kendeng tentang pembangunan pabrik semen dan eksploitasi kawasan Gunung Kapur di wilayah Kendeng,” ujar Teten.

Presiden Joko Widodo menawarkan solusi untuk dilakukannya kajian lingkungan strategis terkait kelayakan eksploitasi kawasan tersebut. Menurut keterangan Teten, Presiden sudah menyepakati akan dilakukan kajian lingkungan strategis supaya bisa diketahui di kawasan Gunung Kapur ini mana yang bisa dieksploitasi mana yang tidak.

Kondisi yang aktual saat ini memang sudah dibangun satu pabrik semen milik PT Semen Indonesia dan sudah mencapai tahap 95% penyelesaian. Namun, jarak antara pabrik tersebut dengan kawasan tambangnya mencapai 10 kilometer. “Jadi kalau di pabriknya ini memang sudah dapat izin, begitu pula pabriknya sudah berdiri. Tapi kawasan tambangnya itu masuk dalam kategori yang perlu dilihat kembali lewat kajian lingkungan hidup strategis,” jelas Teten.

Presiden Jokowi pun langsung menugaskan Kantor Staf Kepresidenan untuk memimpin jalannya kajian lingkungan strategis tersebut. Teten menegaskan, selama proses kajian berlangsung, eksploitasi tambang belum bisa dilakukan. Presiden sudah meminta KSP yang akan mengkoordinir studi ini. Karena ini bukan hanya lintas kementerian, tapi juga lintas daerah. Setidaknya diperlukan waktu kira-kira 1 tahun untuk melakukan dan melengkapi studi itu sampai selesai. Teten menambahkan, studi tersebut nantinya akan melibatkan berbagai pihak. Salah satunya ialah Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup dan bebeberapa universitas di Indonesia.

Selain Teten Masduki, Koordinator Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng, Gunretno, juga ikut memberikan keterangan pada pers usai pertemuan itu. Gunretno sepakat dengan apa yang disampaikan Presiden kepada perwakilan masyarakat Kendeng. Senada dengan anjuran Presiden, ia juga menyatakan bahwa warga Kendeng siap untuk dilibatkan dan diajak berdiskusi bersama. “Karena sudah ada kesepahaman dengan Pak Jokowi, saya berharap agar hal tersebut ditindaklanjuti secepatnya. Warga siap diajak rembukan, karena selama ini warga tidak pernah diajak berembuk. Budaya rembukan harus kita pelihara bersama,” ujarnya.

Teten Masduki berharap solusi yang ditawarkan Presiden tersebut dapat menjadi jalan keluar terbaik bagi semua pihak. “Jadi nanti hasil studi itu yang akan jadi rujukan kita semua. Bagi pemerintah daerah, pemerintah pusat, investor, termasuk masyarakat. Saya kira itu jalan keluar terbaik bagi kemelut persoalan pabrik semen,” tegasnya. Kesediaan Presiden menerima perwakilan masyarakat Kendeng telah memberi harapan baru pada semua pihak untuk bersama-sama menyelesaikan masalah pabrik semen di wilayah Pati tersebut.