Kesadaran akan kebhinnekaan dan keragaman akan menumbuhkan sikap saling menghargai dan memandang perbedaan sebagai anugerah yang wajib dijaga dan dirawat.

Presiden Joko Widodo mengingatkan kembali tentang keberagaman pada peringatan Hari Guru Nasional dan Hari Ulang Tahun Ke-71 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Tahun 2016, Minggu, 27 November 2016. Menurut Kepala Negara, Indonesia memiliki 17.000 pulau, 516 kabupaten/kota, 34 provinsi, 700 suku dan 1.100 bahasa lokal. Jika mau ditambah lagi, berdasar data Badan Pusat Statistik tahun 2015, negara kita mempunyai 81.626 desa. Jarak ujung barat hingga ujung timur sejauh lebih kurang 5.000 kilometer, melingkupi kira-kira seperdelapan keliling bumi yang sejauh 40.000 kilometer.

Menyadari realitas itu, presiden menyatakan, perbedaan ini adalah anugerah dari Allah SWT yang diberikan kepada Indonesia dan harus dijaga serta dirawat dengan benar. “Kita semua ini adalah saudara, NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Agar bangsa kita tetap satu NKRI dalam keadaan dan situasi apapun.”

MERAWAT

Bila ditelisik lebih jauh berbagai keberagaman yang ada di bumi pertiwi agaknya berakar dari letak geografi Indonesia. Dimana sebanyak 17.000 pulau dipisahkan oleh lautan, sehingga tidak memungkinkan orang yang ada di satu pulau, pada masa itu, karena keterbatasan transportasi, melakukan perjalanan ke pulau lain. Alhasil masing-masing pulau seperti terisolasi dan kemudian mengembangkan bahasa, adat istiadat, kebiasaan, kepercayaan, dan budayanya sendiri. Setelah ratusan tahun muncullah berbagai keragaman dalam wujud yang kita lihat sekarang. Namun menyatu dalam satu wilayah, pemerintahan, dan kedaulatan, dan negara Indonesia.

Bahkan dalam satu daerah saja yang dipandang sama-sama “Jawa”, Yogyakarta dan Surakarta, mempunyai adat istiadat yang berlainan. Demikian juga di kawasan Danau Toba, Sumatera Utara. Suku Batak di sana terbagi dalam berbagai sub etnik yang masing-masing punya adat yang berbeda. Hal yang sama juga bisa ditemui di kawasan Papua, isolasi alam akan memunculkan k sub etnis, sub bahasa yang khas untuk daerah tersebut.

Oleh karena itu adalah tepat, ketika para pendiri bangsa ini mengambil Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan Indonesia – “Berbeda-beda tetapi tetap satu”. Semboyan ini digunakan untuk menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa dan negara kesatuan Republik Indonesia yang terdiri atas beraneka ragam budaya, bahasa daerah, ras, suku bangsa, agama dan kepercayaan.

MERAWAT 2

Bahkan dalam salah satu pidatonya, Presiden Soekarno mengatakan, “Negara Republik Indonesia ini bukan milik sesuatu golongan, bukan milik sesuatu agama, bukan milik sesuatu suku, bukan milik sesuatu golongan adat-istiadat, tetapi milik kita semua dari Sabang sampai Merauke!”

Kesadaran akan kebhinnekaan pada masyarakat ini memunculkan saling menghargai antar invididu. Bahkan kekuatan untuk mengusir penjajah. Terbukti para pemuda pejuang bersenjatakan kesadaran akan keutuhan kekuatan dalam semangat Sumpah Pemuda membuat kebhinnekaan Indonesia menghasilkan daya juang yang solid. Dan pada akhirnya membawa Indonesia pada proklamasi, 17 Agustus 2016.

KEBERAGAMAN ok
Bisa dibayangkan pada waktu itu, jika elemen bangsa ini lebih mengedepankan primordialisme dan kedaerahan, maka dengan gampang penjajah akan tetap mencekeram dengan politik pemecah belah atau devide at impera.

Pidato Soekarno berpuluh-puluh tahun lalu, kini perlu digelorakan lagi, terutama pada generasi muda yang tidak merasakan masa beratnya perjuangan merebut kemerdekaan dari tangan penjajah. Bisa jadi kemajuan teknologi dan cepatnya arus informasi telah menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai yang diyakini sebagai karakter bangsa Indonesia. Seperti gotong royong, ramah tamah, santun, dan toleran.

Oleh karena itu menjadi tugas kita bersama menumbuhkan rasa kebangsaan dan kebersamaan pada putra-putri kita, dari manapun asal, suku, agama, ras. Kebangsaan adalah pernyataan yang menumbuhkan gelora semangat yang di dalamnya ada harga diri.