Pasar negara Islam tumbuh luar biasa terutama untuk makanan halal dan fesyen. Dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia, Indonesia punya peluang besar mendapatkan “kue” keuntungan dari pasar yang terus tumbuh ini.

Forum Ekonomi Islam Dunia (World Islamic Economic Forum = WIEF) ke-12  yang berlangsung di Jakarta, 2-4 Agustus 2016 punya arti penting bagi Indonesia dan dunia Islam. Di tengah kolapsnya harga komoditas, menurunnya perekonomian China, dan keluarnya Inggris dari Uni Eropa, forum ini menjadi ajang tukar pikiran antar delegasi untuk merespons dan membuat langkah menanggapi tatanan ekonomi negara yang terus berubah.

Sesuai tema WIEF, Decentratralizing Growth, Empowering Future Business,  Presiden Joko Widodo mengatakan bahwa pemberdayaan sektor usaha kecil dan menengah  penting untuk memastikan partisipasi penduduk yang lebih besar dalam perekonomian. Penguatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) akan memperkuat sektor domestik yang pada giliranya akan mendukung ekonomi global yang kompetitif. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah untuk mengembangkan perkonomian yang modern seperti terangkum dalam Nawacita atau Sembilan prioritas pembangunan yang dijanjikan di awal pemerintahan Jokowi-JK.

Menyimak struktur ekonomi Indonesia, UMKM merupakan tulang punggung perekonomian. Sekitar 99 persen bisnis di Indonesia adalah UMKM dengan lebih dari 98 persen didominasi oleh perusahaan mikro. Jumlah tenaga kerja yang terlibat lebih dari 107,6 juta dan berkontribusi 60,60 persen terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia.

Pemberdayaan UMKM yang difasilitasi pemerintah dilakukan dengan menerbitkan paket-paket kebijakan ekonomi  untuk merangsang pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Beberapa diantaranya berdampak langsung pada kepentingan UMKM. Seperti penyederhanaan izin pendirian usaha kecil dan menengah dan revisi daftar negatif investasi. Ada sembilan belas sub-sektor dicadangkan  untuk usaha kecil dan koperasi . Sekitar 62 area bisnis hanya akan dapat diakses oleh investor internasional jika mereka bermitra dengan UMKM lokal. Ini akan membantu UMKM dan perusahaan besar berkolaborasi dalam memanfaatkan pasar Indonesia.

Melalui World Islamic Economic Forum, Indonesia juga bisa memanfaatkan ekonomi negara Islam yang terus berkembang. Belanja konsumen Muslim meningkat, terutama pada layanan keuangan, investasi, asuransi, makanan halal, busana Muslim, serta wisata halal.

Berdasar laporan Global Islamic Economy yang dipublikasikan oleh Thomson Reuters-Dinar Standard, pasar fesyen negara Islam diperkirakan mencapai 326 miliar AS $ menjelang tahun 2020, sementara hingga akhir tahun 2014 nilainya sudah melampaui 230 miliar AS $. Sementara itu data WIEF memperlihatkan, pada tahun 2020 segmen makanan halal akan tumbuh 45 persen, perjalanan Islam 65 persen, fesyen Islam 42 persen, dan budaya dan rekreasi Islam 34 persen.

Proyeksi pertumbuhan tersebut tentu membuka peluang bagi Indonesia untuk ambil bagian dalam pemenuhan kebutuhan konsumen. Karena dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia Indonesia sebenarnya lebih mengerti kebutuhan konsumen muslim. Besarnya pasar produk-produk Islam tersebut bahkan dilirik oleh merek-merek mendunia,  khususnya dalam hal fesyen. Mereka ini mengeluarkan produk fesyen untuk pengguna Muslim yang disebut sebagai modest fashion.

Negara lain, Australia, juga memasuki pasar Islam sebagai produsen terbesar ketiga di dunia untuk produk makanan halal, khususnya daging yang diekspor ke negara-negara muslim. Demikian juga perusahaan makanan Amerika, Jepang, Swiss, Spanyol, Prancis, dan Meksiko mentargetkan pasar global makanan dan minuman halal. Tersedianya makanan halal bagi pelancong Muslim menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya pendapatan dan frekuensi perjalanan internasional.

Gayung bersambut, hal-hal di atas dibahas dalam WIFE. Seperti perluasan industri makanan halal global, perkembangan industri fashion muslim, meningkatkan akses pendanaan UMKM, integrasi UMKM ke ekonomi digital. Selain itu forum ini juga membahas tentang industri kreatif dan wisata Islam.

Kini tinggal bagaimana produsen Indonesia bisa menangkap peluang tersebut. Jangan sampai kesempatan ini direbut oleh orang lain. Lewat cara ini, kita sekaligus meningkatkan kapasitas UMKM merambah pasar yang luas dan terbuka.