Pemberian Makanan Tambahan adalah langkah strategis mewujudkan sumber daya manusia yang sehat dan cerdas.

Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) bagi ibu hamil, balita, dan anak sekolah terus digencarkan oleh pemerintah. Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara – Iriana Joko Widodo berkeliling ke daerah mensosialisaikan program ini. Seperti dilakukan di lapangan sepak bola Bima Sakti Pangkalan TNI AU Balikpapan, Senin 5 Desember 2016.
Oktober 2016 lalu, presiden bersama dengan Ibu Negara Iriana Joko Widodo juga meninjau pelaksanaan PMT di Kabupaten Yahukimo, Papua.

“Hari ini kita bagikan roti biskuit yang kita harap bisa jadi makanan tambahan gizi baik bagi ibu hamil, balita, dan anak-anak. Tapi meski sudah diberi biskuit, yang namanya sumber protein seperti daging, ikan, telur, tahu, dan tempe itu tetap diperlukan bagi anak-anak kita. Begitu juga sayur dan buah,” terang presiden.

Bagi ibu hamil, agar rutin mengonsumsi biskuit dua kali per hari selama tiga bulan pertama masa kehamilan. Sementara pada bulan-bulan selanjutnya, asupan makanan tambahan tersebut ditambah hingga menjadi tiga keping per hari.

PMT JAWA TIMUR

Sedangkan untuk balita, usia 6 sampai 11 bulan, bisa mengonsumsi delapan keping biskuit setiap harinya. Adapun bagi yang berusia di atasnya, disarankan untuk mengonsumsi sebanyak 12 keping setiap harinya.

Intinya, jumlah biskuit yang dikonsumsi semakin banyak seiring dengan usia kehamilan. Demikian juga untuk balita dan anak sekolah, takarannya semakin bertambah sesuai dengan perkembangan umur. Langkah pemberian makanan tambahan merupakan upaya strategis untuk mempersiapkan generasi bangsa sedini mungkin, bahkan sejak di dalam kandungan.
Kecukupan protein, berperan penting dalam perkembangan organ dan otak di masa-masa awal pembentukan janin dan perkembangan anak hingga usia umur 5 tahun. Masa ini bisa dibilang masa emas yang menentukan kesehatan dan kecerdasan seorang anak kelak. Pada masa itu, berbagai organ penting sedang dalam masa pembentukan. Diantaranya jantung, hati, tulang, dan otak.

pmt

Kegagalan pembentukan organ dan perkembangan otak di masa krusial tersebut, akan sangat menurunkan kemampuan anak selama hidupnya, terutama dalam hal kecerdasannya. Oleh karena itu intervensi melalui makanan tambahan menjadi mutlak. Itulah sebabnya pemberian makanan tambahan dan anjuran mengonsumsi protein adalah langkah kunci melahirkan generasi emas.

Bonus demografi sebenarnya juga berawal dari sini. Tanpa kemampuan intelektual yang baik dan tingkat kesehatan prima, bonus demografi bisa menjadi beban. Bahkan generasi yang hilang karena tidak sanggup berkompetisi. Padahal seperti dikatakan Presiden Joko Widodo dalam berbagai kesempatan, masa depan adalah era persaingan, terutama persaingan sumber daya manusia. Kemampuan sumber daya manusia menjadi satu-satunya keunggulan kompetitif untuk memenangkan persaingan melebih cadangan sumber daya alam. Sumber daya alam bisa habis, namun SDM yang mumpuni tak pernah hilang. Banyak contoh, bagaimana negara yang miskin sumber daya alam ternyata mempunyai kemampuan ekonomi yang tinggi. Jepang dan Singapura menjadi contoh bagimana mereka unggul secara ekonomi karena tingginya kualitas SDM-nya.

Sebaliknya ada juga negara yang sebelumnya punya banyak sumber daya alam, namun karena kemampuan SDM nya rendah, maka setelah sumber daya alamnya habis diekploitasi rakyatnya menjadi miskin. Mereka menguras kekayaan alamnya, tanpa kemampuan untuk menghasilkan nilai tambah.
PMT JABAR 2

Tahapan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas tersebut, sebenarnya sudah tercantum dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Panjang 2015-2019. Di situ dikatakan, salah satu tujuan Kementerian Kesehatan 2015-2019 adalah peningkatan status kesehatan masyarakat pada semua kontinum siklus kehidupan. Mulai dari bayi, balita, anak sekolah, dst.
Sasaran lain adalah menurunkan angka kematian bayi, dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup. Khusus anak balita adalah meningkatkan status prevalensi kekurangan gizi pada anak balita. Dari 19,6 persen menjadi 17,0 persen pada tahun 2019. Jadi, apa yang dilakukan pemerintah dengan PMT sebenarnya merupakan wujud nyata pelaksanaan RPJMN di bidang kesehatan.