Branding Indonesia sebagai negara berpenduduk Islam terbesar di dunia melekat dengan kebhinekaan beragam suku-bangsa ribuan pulau di wilayah nusantara. Ini adalah kekayaan luar biasa bangsa kita. 

Sehubungan dengan fakta itu, Presiden Jokowi mengatakan bahwa sudah saatnya Indonesia menjadi sumber pemikiran Islam dan pembelajaran Islam dunia. Negara-negara lain harus juga melihat dan belajar tentang wacana Islam dari Indonesia. Islam di Indonesia, menurut Presiden, sudah seperti resep obat yang paten yaitu Islamwasathiyyah, Islam moderat. Sedangkan negara lain bahkan masih mencari-cari formulanya.

Presiden juga sudah mengeluarkan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Pendirian Universitas Islam Internasional yaitu Perpres Nomor 57 Tahun 2016. Diharapkan universitas ini akan menjadi sumber ilmu, sumber kajian-kajian Islam, sumber cahaya moral Islam, dan benteng bagi tegaknya Islam yang berkeseimbangan (tawazun), Islam yang toleran (tasamuh), dan Islam yang egaliter, yang musawah. Demikian disampaikan Presiden Jokowi dalam sambutannya saat membuka Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Tingkat Nasional XXVI, di Astaka Utama Islamic Centre, Kota Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sabtu (30/7) malam.

Presiden menegaskan agar kita bisa mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk, damai, dan indah. Karena itu, Presiden mengajak semua pihak menjaga kebersamaan dalam berbangsa dan bernegara. “Sekarang ini, masih banyak orang yang mudah mencela, mudah mengumpat, mudah merendahkan orang lain, mengejek, menjelek-jelekkan orang lain, serta mengabaikan sopan santun. Mari kita jaga optimisme kita dalam menghadapi tantangan-tantangan yang semakin sulit terutama tantangan global,” tegas Presiden.

Sifat-sifat buruk seperti itu, menurut Presiden, kerap semakin menghebat terutama ketika terjadi kontestasi politik, seperti pemilihan gubernur, pemilihan bupati, pemilihan wali kota, dan pemilihan presiden serta pemilihan anggota legislatif. “Kandidat lain tidak lagi dilihat sebagai sahabat, sebagai teman, sebagai partner, tetapi dilihat sebagai musuh yang harus dihabisi. Mereka seakan lupa bahwa ada api yang menunggu mereka, yang menyala-nyala, yang membakar sampai ke hati,” papar Presiden Jokowi.

Terkait dengan pelaksanaan MTQ, Presiden berharap MTQ yang telah membudaya di tengah masyarakat, selain berkembang dari segi syiar dan kualitas penyelenggaraannya, juga dapat mewarnai wajah umat Islam dan bangsa Indonesia. “MTQ Nasional harus mampu membumikan Al Quran sehingga lebih dipahami dan dilaksanakan oleh masyarakat kita,” ujarnya. Meskipun tujuan dan makna kegiatan MTQ yang utama adalah prestasi, namun yang lebih utama lagi adalah syiar dan dakwah tentang bagaimana membumikan Al Quran. Harus menjadikan Al Quran sebagai nafas, sebagai pegangan hidup yang hakiki, dan sebagai kepribadian kita serta benar-benar diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Presiden meyakini, ketika kita menggaungkan Al Quran sebenarnya kita sedang mengagungkan nilai-nilai kemanusiaan, nilai-nilai kesalehan sosial, nilai-nilai yang mengutamakan pembelaan pada yang lemah. Mengutamakan pembelaan pada yang fakir, mengutamakan pembelaan pada yang miskin. Menjauhkan nilai-nilai keserakahan seperti mengumpulkan harta dan menghitung-hitungnya. Presiden Jokowi mengajak semua peserta menjadikan MTQ Nasional dan Konferensi Internasional Islam Wasathiyyah yang digelar di kota Mataram sebagai stimulan untuk meningkatkan penghayatan kecintaan dan pengamalan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin.

Masih di hari yang sama, Presiden Jokowi menghadiri puncak peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-23 di Alun-Alun Provinsi Nusa Tenggara Timur, Kupang, Nusa Tenggaa Timur. Presiden berpesan kepada para orang tua untuk dapat mengembangkan pola pikir produktif kepada diri dan anak-anaknya. Dari yang pesimis menjadi pribadi yang optimis. Dari yang malas menjadi pribadi pekerja keras. Dari yang hanya senang sebagai pengikut menjadi pribadi yang bangga sebagai pemimpin. “Bila keluarga bisa memupuk pola pikir dan perilaku yang produktif, maka kita bisa melahirkan generasi emas Indonesia. Generasi pemenang, generasi yang cerdas, generasi yang kreatif, generasi yang inovatif, generasi yang produktif, dan generasi yang visioner,” ujar Presiden.

Dengan generasi muda seperti itu, maka akan lebih mudah untuk mewujudkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sejuk, damai dan indah.