Pengoperasian sebagian Terminal 3 Ultimate adalah kesempatan untuk melakukan lompatan besar, yang dapat menginspirasi reformasi dunia penerbangan dan tatakelola udara nasional.

Tak banyak berita baik yang kita dengar tentang dunia penerbangan di Indonesia. Berita kecelakaan pesawat, saat di udara maupun di landasan, beberapa kali muncul dalam pemberitaan media lebih dari satu dekade belakangan ini. Semua itu tentu memunculkan citra negatif tentang dunia penerbangan nasional dan tatakelola udaranya secara umum. Oleh karena itu dibutuhkan momentum tepat untuk membangkitkan kejayaan kita di udara.

Kesempatan itu kiranya dapat terwujud dalam waktu dekat, dengan segera beroperasinya sebagian dari Terminal 3 Ultimate di Bandar Udara Soekarno-Hatta di Banten. Jembatan udara kebanggaan nasional ini akan mulai membuka fasilitas untuk penerbangan domestiknya, pada akhir bulan Juni 2016. Menurut rencana, untuk sementara, hanya penerbangan Garuda Indonesia yang akan menggunakan fasilitas canggih dan modern di sana.

Terminal 3 Ultimate menawarkan konsep bandar udara yang menggabungkan aspek kenyamanan, keamanan, kecanggihan teknologi, ekspresi seni-budaya dan keragaman kuliner Nusantara serta pengelolaan pergerakan pesawat yang lebih efisien dan efektif.

Untuk aspek kenyamanan, terminal yang secara total akan mampu mengelola hingga 25 juta penumpang per tahun ini, menawarkan konektivitas antar moda transportasi ke dalam maupun ke luar bandara. Kereta listrik otomatis tanpa awak atau Automated People Mover System akan bergerak menghubungkan penumpang ke seluruh Terminal (I, II dan III) menggantikan shuttle-bus yang beroperasi saat ini.

Selain memiliki 28 gerbang (10 internasional dan 18 domestik) penumpang akan dilayani oleh ratusan check-in counter yang dilengkapi dengan fasilitasi penanganan dan identifikasi bagasi secara otomatis menggunakan barcode, sehingga selain akan mengurangi kesalahan pemindahan oleh manusia, juga akan mengurangi durasi waktu perpindahan ke bagasi pesawat yang akan ditumpangi. Bukan cuma itu, puluhan self check-in counter juga sudah terpasang, lengkap dengan tempat untuk meletakkan bagasi secara otomatis.

Fasilitas kenyamanan lain berupa, ruang keberangkatan yang luas, dilengkapi dengan koneksi listrik untuk laptop maupun perlatan elektronik lainnya. Untuk kemudahan bergerak di antara ruang keberangkatan pun – total panjangnya, jika sudah rampung seluruhnya, bisa mencapai 2 kilometer dengan 44 garbarata – sudah disediakan travelator sebagaimana yang terdapat di berbagai bandara kelas dunia lainnya.

Salah satu fitur keamanan canggih yang tersedia, selain sistem pengecekan bagasi dengan menggunakan sinar xray untuk meminimalkan campur tangan secara manual, adalah penggunaan kamera CCTV yang dapat mengidentifikasi orang-orang yang mencurigakan. Contohnya, orang yang terlalu lama berada dia satu tempat akan “diikuti” secara otomatis oleh seluruh kamera yang tersedia.

Ruang-ruang luas yang terdapat di dalam dan di luar bandara pun akan diisi dengan berbagi karya seni bercita-rasa tinggi, dalam bentuk lukisan maupun karya seni rupa tradisional dan kontemporer senada dengan tema “Art and Culture” yang diusung terminal ini. Para penumpang juga berkesempatan untuk mencicipi aneka makanan Nusantara berkualitas tinggi sebagai bagian dari upaya mempromosikan keunggulan kuliner dan wisata Nusantara – 20% di antaranya dialokasikan untuk usaha kecil dan menengah.

Dari aspek pergerakan pesawat, pihak Angkasa Pura II sebagai pengelola Bandara Soekarno-Hatta menargetkan peningkatan pergerakan pesawat dari 72 per jam saat ini menjadi 86 per jam dan sudah menunjuk konsultan untuk merealisasikan hal itu. Harapannya, tingkat antrean pesawat yang biasanya cukup panjang saat ini bisa diatasi dengan adanya perbaikan sistem dan penyempurnaan jalur pergerakan pesawat (termasuk perubahan taxiway, terutama penambahan jalur East-Cross yang menghubungkan antar runway).

Budi Karya Sumadi, Presiden Direktur PT Angkasa Pura II pun berpandangan, Terminal 3 Ultimate adalah “kesempatan kita untuk melakukan lompatan besar” dalam meningkatkan citra positif dan mereformasi dunia penerbangan nasional. Melalui pengoperasian terminal seluas 422.804 meter persegi ini, diharapkan Indonesia dapat menjadi Transit Airport penting – yang sekarang masih dimonopoli oleh Changi di Singapura dan KLIA2 di Kuala Lumpur – dan mencapai visi Angkasa Pura II yaitu “World Class Airport sebagai Gerbang Ekonomi dan Budaya”.

Titik tujuan yang dilayani dari Terminal 3 Ultimate diharapkan dapat bertambah secara signifikan, dari saat ini sekitar 30 menjadi 100 titik tujuan. Syaratnya, tentu selain pelayanan yang lebih baik, adalah efisiensi biaya yang harus ditanggung berbagai maskapai penerbangan – salah satunya, biaya bahan bakar yang masih tinggi.

Presiden Jokowi sendiri sudah berpesan agar terjadi peningkatan dari tahun ke tahun di Bandara Soekarno-Hatta. “Jika sudah selesai dengan Terminal 3, segera lanjut dengan Terminal 4,” ujar Presiden saat mengunjungi Terminal 3 Ultimate pada tanggal 11 Mei 2016. Runway juga harus ditambah. Menurut Presiden, pada saat Terminal 3 Ultimate selesai seluruhnya maka kebutuhan pengangkutan penumpang udara sudah pasti akan lebih meningkat lagi.

Perubahan besar yang sedang terjadi di Bandar Udara Soekarno-Hatta saat ini, tentu harus diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan lain. Mulai dari operator penerbangan, regulator hingga ke penyedia jasa lain yang terkait.

Semangat kebangkitan ini harus menular dan menginspirasi.