Sepak bola Indonesia telah terbukti sebagai alat pemersatu bangsa. Kini pemerintah serius membenahi secara total sistem dan tata kelola kompetisi yang mengedepankan fair play.

Barangkali baru kali ini ada rapat terbatas (ratas) yang membahas kiprah Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dengan topik Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional, Selasa (24/1/2017). Dalam ratas yang dipimpin oleh Presiden Joko Widodo tersebut ditegaskan pentingnya pembenahan total sistem dan tata kelola kompetisi sepak bola yang lebih kompetitif, berkualitas, dan mengedepankan fair play. Disinggung juga tentang perlunya pembinaan usia dini.

Ini menandakan, sepak bola adalah bagian penting sebagai olahraga yang digemari dan alat pemersatu bangsa. Sepak bola sebagai pemersatu bangsa itulah yang barangkali harus terus digelorakan, seperti ketika saat Ir. Soeratin Sosrosoegondo mendirikan PSSI pada 19 April 1930. Ketika itu para pemuda masih dalam suasana gelora Sumpah Pemuda pada 1928. Soeratin sendiri, masih berumur 30 tahun dan tergugah untuk menyatukan nusantara yang dipecah belah oleh Belanda melalui politik divide et impera.

Ia pun menggalang nasionalisme dengan cara tidak langsung. Mendirikan Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (sekarang PSSI). Semangat nasionalisme itulah yang tak boleh hilang dari PSSI sampai kapan pun.

timnas garuda

Ketika menerima perwakilan pengurus klub sepak bola dan pengurus PSSI di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (15/4/2016), Presiden mengatakan, “Reformasi persepakbolaan nasional tidak boleh tanggung-tanggung, tidak boleh terhenti. Saya ingin sebuah reformasi total.”

Apa yang dikatakan Presiden merupakan isyarat, PSSI harus berbenah. Persoalan yang membelit dan mengakar selama bertahun-tahun telah membuat prestasi sepak bola mandeg. Pada 17 April 2015, pemerintah melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga membekukan PSSI setelah didahului dengan dua kali surat teguran. Habis itu, pada 30 Mei 2015 FIFA memberikan sanksi untuk PSSI, larangan bertanding di turnamen internasional. Masa itu adalah masa gelap persepakbolaan Indonesia. Sanksi tersebut kemudian dicabut oleh FIFA pada 13 Mei 2016.

Ratas tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional, boleh dibilang menjadi momentum kebangkitan kembali persepakbolaan nasional. Apalagi PSSI juga menorehkan prestasi yang spektakuler, menjadi runner up Piala Suzuki AFF 2016 pada Desember lalu.

Pencapaian tersebut menunjukkan, kekuatan sepak bola Indonesia tak bisa diabaikan. Banyak pelatih luar yang pernah menangani PSSI menilai bagaimana tingginya bakat pemain yunior Indonesia. Sayangnya, ketika naik kelas menjadi pemain senior kemampuan justru kurang tergarap. Oleh karena itu, persoalannya sebenarnya ada pembinaan tingkat lanjut.

timnas garuda (2)

Agar bibit-bibit muda tersebut tetap bersinar, maka pembinaan yang teratur dan berjenjang menjadi kunci. Jika ini berjalan maka tim pencari bakat akan mudah mendapatkan pemain potensial dengan melihat catatan pertandingan dan prestasi yang ditorehkan oleh masing-masing pemain. Cara ini akan meminimalisir pemilihan pemain atas dasar pilih kasih.

Sepak bola adalah olahraga kompetitif, untuk membangun tim sepak bola yang kuat, kompetisi yang teratur menjadi keharusan. Lewat kompetisi, kemampuan seorang pemain akan teruji. Termasuk kerja sama tim dan kemampuan fisik.

Jalannya roda kompetisi juga perlu diatur menyesuaikan dengan kejuaraan tingkat Asia Tenggara atau Asia. Tujuannya, agar pada saat kejuaraan itu berlangsung, kompetisi nasional telah usai. Sehingga mereka yang mewakili kejuaraan tersebut adalah pemain-pemain terbaik. Klub juga tidak dirugikan, karena pemain tiba-tiba dicomot. Di lain sisi pemain terjaga kebugarannyan dan bisa berkonsentrasi penuh.

timnas garuda 3

Juga jangan dilupakan peran sepak bola sebagai penggerak roda ekonomi. Mulai dari penjualan tiket, hak siar, iklan, merchandise, transfer pemain, dsb. yang menciptakan efek berantai yang berimbas pada meningkatkan kegiatan ekonomi. Kita bisa melihat, bagaimana antusiasme masyarkat ketika tim Garuda bertanding. Nyaris tak ada tempat duduk yang tersisa. Penonton bahkan rela antre berjam-jam untuk mendapatkan tiket
.
Nilai-nilai nasionalisme, rupanya langsung melekat dalam diri setiap insan Indonesia tatkala timnas berlaga. Tak peduli siapa yang menjadi kapten, tak peduli dari mana pemain berasal. Masyarakat melihat mereka adalah tim nasional yang mewakili Indonesia.

Kini di era Joko Widodo, sepak bola mau dibangun dengan mengedepankan sportivitas dan memutar roda kompetisi yang transparan tanpa suap.