Dalam sepak bola maupun dalam industri tekstil dan produk tekstil, Indonesia bersaing keras dengan Vietnam. Presiden Jokowi berharap agar kita bisa memenangkan kedua persaingan itu.

Presiden Jokowi menaruh harapan besar pada Tim Nasional (Timnas) Sepakbola Indonesia yang akan berlaga menghadapi Vietnam, dalam pertandingan babak semifinal kedua Piala AFF Suzuki, di Stadion My Dinh, Hanoi, Vietnam, Rabu (7/12).  Setelah Presiden menyaksikan langsung permainan Timnas mengalahkan Vietnam 2-1 pada pertandingan pertama di Stadion Pakansari, Cibinong, Kabupaten Bogor (3/12), untuk pertandingan kedua Presiden tidak bisa menonton langsung pertandingan Timnas Indonesia melawan Vietnam di Hanoi. Namun Presiden Jokowi tetap memberikan dukungan dan motivasi.

“Presiden sudah menelpon Ketua Umum PSSI untuk memotivasi Timnas agar bisa menang di Vietnam,” ujar Sekretaris Kabinet (Seskab) Pramono Anung kepada wartawan usai mengikuti Rapat Terbatas, di Kantor Presiden, Jakarta (6/12). Presiden Jokowi akan melakukan kunjungan kerja ke Bali, Rabu (7/12) untuk melakukan Sosialisasi Program Tax Amnesty dan rencananya juga akan nonton bareng untuk mendukung perjuangan Timnas maju ke final Piala AFF Suzuki. Timnas Indonesia  sudah menang 2-1 atas Vietnam melalui gol dari Hansamu Yama dan Boaz Solossa. Untuk bisa maju ke babak final, Indonesia setidaknya harus bisa menahan imbang dalam pertandingan kedua di Vietnam.

Saat membahas tentang menurunnya nilai ekspor industri Tekstil dan Produk Tekstil (TPT) Indonesia beberapa waktu terakhir dalam rapat terbatas di istana Merdeka (6/12), Presiden juga menginginkan agar industri tekstil Indonesia tidak kalah oleh Vietnam dan juga Bangladesh. Presiden mengingatkan TPT, merupakan industri padat karya yang mampu menyerap banyak sumber daya manusia. Bahkan, industri ini menciptakan lapangan kerja baru di sektor distribusi dan perdagangan. Saat ini industri tekstil dan produk tekstil Indonesia terus mengalami penurunan.  Dari bulan Januari sampai Oktober 2016, ekspor TPT turun 4,3% dibanding periode yang sama tahun 2015.

“Di dalam negeri pun produk TPT kita belum mampu menguasai pasar domestik karena serbuan produk impor dari luar, yang seringkali masuk melalui praktek-praktek impor ilegal, dengan modus impor borongan atau rembesan dari kawasan berikat serta impor pakaian bekas,” jelas Presiden. Untuk itu, Presiden memerintahkan seluruh kementerian dan lembaga (K/L) terkait untuk melakukan langkah-langkah terobosan dalam mengatasi permasalahan yang ada di industri TPT kita. “Harus terus diupayakan kebijakan yang mendukung industri TPT dalam negeri sehingga lebih kompetitif,” tegasnya.

Antara persaingan industri TPT Indonesia dengan negara-negara lain dan pertandingan kedua semi final Piala AFF, kebetulan Indonesia harus berhadapan dengan Vietnam sebagai “musuh” dan “pesaing”. Ini seharusnya bisa lebih memotivasi para pemain Timnas untuk mengalahkan Vietnam dan melaju ke babak final sebagaimana diharapkan Presiden Jokowi. Berbagai upaya harus dilakukan untuk meraih kemenangan seperti juga dilakukan oleh Presiden untuk memajukan industri TPT agar Indonesia tidak kalah oleh Vietnam. “Buat proses-proses importasi bahan baku TPT menjadi lebih sederhana dan tidak mempersulit kegiatan usaha di bidang ini,” tegas Presiden. Mengenai pangsa produk TPT di Amerika dan Eropa, produk Indonesia masih dikenakan tarif 5-20% sedangkan produk Vietnam 0%.

Presiden Jokowi meminta agar dilakukan terobosan dalam negosiasi kerja sama perdagangan dengan negara-negara tujuan ekspor sehingga tidak terjadi perbedaan tarif masuk seperti itu yang menyebabkan harga produk Indonesia menjadi lebih mahal. Sama halnya di dunia sepak bola, juga harus terus dilakukan terobosan untuk membuat Timnas Indonesia mampu lebih berprestasi dan mengalahkan musuh-musuh di laga-laga internasional.*