Melalui pameran lukisan koleksi Istana Negara, Presiden Jokowi antara lain menegaskan kembali bahwa istana adalah milik bangsa dan rakyat berhak menikmati koleksi seni miliki istana.

Istana Negara merupakan representasi dari berbagai dimensi kehidupan negara, tidak melulu sebagai tempat kerja seorang Presiden dalam mengurus dan mengatur negara. Termasuk di dalamnya adalah dimensi kehidupan budaya bangsa. Hal ini disadari oleh founding father kita, Ir. Soekarno yang banyak menciptakan ruang budaya di Istana Negara. Presiden Jokowi juga menyadari pentingnya sisi kultural istana. Pada tahun 2015, Presiden berbicara tentang gagasan untuk mensosialisasikan koleksi seni rupa Istana Kepresidenan secara terbuka. Gagasan ini akhirnya diwujudkan. Istana Kepresidenan untuk pertama kalinya akan menggelar Pameran Koleksi Seni Rupa Istana Kepresidenan di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta,  1 – 30 Agustus 2016.

Pameran seni rupa koleksi Istana Kepresidenan itu merupakan rangkaian acara peringatan ulang tahun kemerdekaan RI ke-71. Demikian dijelaskan Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pratikno. “Selama bulan Agustus ini kita mencanangkan sebagai Bulan Kemerdekaan. Jadi mulai tanggal 1 Agustus akan mengajak seluruh komponen bangsa untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan kita ke-71,” jelas Mensesneg kepada pers di  Gedung Utama Kemensetneg (25/7). Koleksi lukisan masterpiece para pelukis hebat Indonesia yang dikoleksi istana, terutama pada era Presiden Soekarno akan dipamerkan.

“Kami ingin memamerkan koleksi Istana untuk dinikmati oleh masyarakat. Ini pertama kali lukisan-lukisan Istana dibawa keluar dan dipamerkan. Acara ini merupakan bentuk penghargaan untuk karya-karya besar kita agar bisa diketahui, ditelaah, dianalisis, untuk dipelajari, dan menginspirasi bangsa secara keseluruhan,” papar Pratikno. Pameran bertajuk 17/71: Goresan Juang Kemerdekaan ini akan menampilkan koleksi benda-benda seni yang ada di Istana Kepresidenan Republik Indonesia.

Setidaknya ada 15.000 item koleksi benda-benda seni yang ada di Istana Kepresidenan, termasuk lukisan. Koleksi lukisan yang ada dikurasi oleh tim kurator dan hasil kurasi sejumlah 28 lukisan karya 21 pelukis akan dipamerkan. Lukisan yang dipamerkan berasal dari koleksi Istana Kepresidenan Jakarta, yaitu Istana Negara dan Istana Merdeka, Istana Bogor, Istana Cipanas dan Istana Yogyakarta. 28 lukisan yang terpilih berasa dari karya tahun 1930an, 40-an, 50-an dan yang relatif baru adalah tahun 70-an.

Karya-karya maestro senirupa Indonesia seperti Affandi yang dijuluki sebagai pelopor aliran ekspresionisme di Indonesia, Basoeki Abdullah (maestro realisme di Indonesia), Sudjojono dan Raden Saleh akan menjadi koleksi yang dipamerkan. Selain juga karya pelukis besar lain dari beragam aliran senirupa seperti Diego Rivera, Lee Man Fong, Gambiranom Suhardi, Hendra Gunawan, Henk Ngantung, Ida Bagus Made Nadera dan juga karya Ir. Soekarno sendiri. Ada nilai historis penting pada setiap karya yang dipamerkan yang kini dicoba diaktulisasikan dan dihidupkan kembali melalui pameran ini. Nilai ini juga mencerminkan kekayaan budaya Indonesia.

Pameran ini merupakan bentuk penghargaan terhadap karya-karya budaya anak bangsa dan akan menjadi acara rutin ke depan. Diharapkan ini menjadi sebuah langkah awal untuk membangun sebuah ruang  budaya melalui karya-karya berharga koleksi istana agar bisa dinikmati seluruh lapisan masyarakat. Istana negara sebagai ruang budaya bagi masyarakat adalah sebuah keniscayaan dalam konsep pembangunan manusia seutuhnya di suatu negara yang berbudaya. Negara yang maju adalah negara yang menghargai, memelihara dan menjadikan kebudayaan sebagai medium aspek pembangunan manusia.

Selama ini istana Negara menyimpan kekayaan seni-budaya yang luar biasa namun kurang mendapat perhatian karena hanya tersimpan sebagai koleksi. Presiden Jokowi melalui kegiatan pameran ini mengingatkan kembali pada seluruh anak bangsa agar kembali memuliakan seni-budaya. Karena dari seni dan budayalah bersumber keluhuran ahlak dan jiwa yang baik. Selain itu, Presiden juga menegaskan kembali bahwa rakyat berhak menikmati seluruh koleksi seni yang dimiliki istana negara.