Slogan “Kalau mau lancar nyebrang di Merak, ayo siang hari!” adalah upaya mengedukasi para pemudik. Namun edukasi ini memerlukan upaya terpadu dengan pelabuhan Bakauheni dan terminal Rajabasa.

Pelabuhan Merak menjelang arus mudik lebaran 2016 telah mempersiapkan diri untuk mengantisipasi lonjakan dan penumpukan penumpang seperti yang selalu terjadi setiap tahun. Berdasarkan hasil evaluasi arus mudik tahun 2015, pelabuhan Merak telah menyiapkan loket tambahan untuk penumpang menjadi 23 loket dari sebelumnya hanya 8 loket penumpang. Loket mobil menjadi 18 loket dari sebelumnya hanya 10 loket. Selain di pelabuhan, penambahan loket juga diperluas dengan membuka loket di rest area jalan tol Jakarta – Merak, yaitu di kilometer 43 dan kilometer 68. Di dua rest area itu, masing-masing dibuka 3 loket tambahan untuk para calon penumpang yang mampir beristirahat atau mengisi bahan bakar.

General Manager ASDP Pelabuhan Merak, Tommy Kaunang, menjelaskan bahwa semua persiapan telah selesai pada minggu kedua bulan Juni, termasuk pembangunan sarana ruang tunggu yang bisa menampung sekitar 200an penumpang sebelum mereka menyebrang. “Ruang tunggu baru itu dilengkapi dengan televisi, pendingin udara dan juga internet sehingga para penumpang bisa nyaman menunggu,” jelasnya. Sarana lain seperti toilet juga mendapat perhatian khusus. Seluruh jajaran staf pelabuhan Merak termotivasi untuk menjaga kebersihan yang telah membuahkan penghargaan dari Kementerian Kesehatan pada 2015 sebagai Pelabuhan Terbersih di Indonesia. “Tahun ini disiapkan 40 toilet dan pos kesehatan yang dikelola bersama instansi terkait, antara lain pemerintah propinsi,” tutur Tommy Kaunang.

Persoalan penumpukan penumpang di malam hari karena para penumpang yang selama ini merasa lebih nyaman dan aman menyebrang malam hari, memang masih belum bisa sepenuhnya diantisipasi. Manager Usaha Pelabuhan Merak, Abdillah, mendorong masyarakat agar mau menyebrang siang hari dengan membuat slogan: Kalau mau lancar nyebrang di Merak, ayo siang hari! Namun persoalan ini memerlukan upaya terpadu dengan pelabuhan Bakauheni dan terminal Raja Basa di Lampung. Persepsi masyarakat tentang jalan lintas Sumatera yang rawan masih cukup kuat mempengaruhi para pemudik meski sebenarnya keamanan di sepanjang jalan raya Bakauheni menuju Rajabasa sudah jauh lebih baik. Kondisi jalan pun sudah mulus sejak beberapa tahun yang lalu.

Bagaimana mengubah persepsi masyarakat terkait citra sebuah terminal juga terus dilakukan oleh Kadishub (Kepala Dinas Perhubungan) Bandar Lampung, Kadek Sumarta. “Kami jamin terminal Rajabasa 100% aman untuk lebaran 2016 ini. Pengerahan personil keamanan untuk terminal Rajabasa sebenarnya sudah beberapa tahun terakhir dilakukan secara maksimal. Bila perlu setiap penumpang kami kawal begitu turun dari bus,” tegas Kadek. Hal senada ditegaskan juga oleh Kepala Pelabuhan Bakauheni, Eddy Kurniawan. “Sebenarnya, keamanan mulai dari Bakauheni sampai Rajabasa sudah lama terjamin sejak beberapa tahun lalu. Saat ini sudah nyaris tidak ada kelompok begal yang dikenal sebagai bajing loncat,” ujar Eddy.

Pelabuhan Merak pun sejak beberapa tahun lalu sudah sangat aman. “Kami sudah zero kriminalitas, tak ada lagi kejadian kriminal. Namun untuk antisipasi keamanan lebaran 2016, posko terpadu tetap meningkatkan jumlah personil. ASDP akan mengerahkan 130 personil, pihak kepolisian dan marinir total akan mengerahkan 450 personil,” jelas Tommy Kaunang. Sedangkan untuk sekuriti di setiap keberangkatan kapal yang menyebrang akan dijaga oleh 6 sampai 9 personil tergantung besar kapal dan jumlah penumpang. Antisipasi lain yang dilakukan Pelabuhan Merak untuk kenyamanan dan keamanan adalah pemisahan jalur masuk dan jalur keluar para penumpang.

Persoalan yang membuat para penumpang lebih suka menyebrang malam hari dari pelabuhan Merak atau menunggu pagi di pelabuhan Bakauheni selain faktor keamanan adalah faktor ketersediaan bus antar kota dalam propinsi dari Terminal Rajabasa menuju sedikitnya 8 kota tujuan akhir. Hal ini yang justru menjadi kendala utama mengingat faktor keamanan sebenarnya sudah berhasil diatasi sejak beberapa tahun lalu. Bus tanggung antar kota dalam propinsi yang tersedia saat ini beroperasi hanya sampai sore hari sehingga bila penumpang tiba di Rajabasa sore hari, mereka tak mendapat bus dan harus menunggu sampai esok hari untuk bisa meneruskan perjalanan. Hal inilah yang dihindari para pemudik sehingga mereka memilih menyebrang malam hari dari pelabuhan Merak.

Secara keseluruhan para pejabat dan jajarannya mulai dari Pelabuhan Merak, Bakauheni dan terminal Rajabasa, sudah siap menyambut arus mudik dengan berbagai langkah antisipasi berdasarkan hasil evaluasi mereka terhadap arus mudik tahun 2015.