Sepanjang keikutsertaan Indonesia dalam ajang olahraga multievent internasional, tidak banyak cabang olahraga yang mampu menyumbangkan medali bagi bangsa Indonesia.

 

Semakin tinggi ajang olahraganya, semakin sedikit pula cabang-cabang olahraga yang secara konsisten mampu menyumbangkan medali bagi negeri ini. Di tingkat Asia, bangsa Indonesia pernah menduduki peringkat ke-2 setelah Jepang pada saat Asian Games diselenggarakan di Jakarta tahun 1962. Setelah itu, posisi Indonesia di ajang olahraga bangsa-bangsa Asia tidak pernah mencapai tingkat yang lebih baik dari masa itu.

 

Sementara di tingkat dunia, hanya ada 3 cabang olahraga yang berhasil menyumbangkan medali bagi negeri berpenduduk lebih dari 252 juta jiwa ini. Ketiganya adalah panahan, bulutangkis, dan angkat besi.

 

Medali dari cabang panahan diraih pada Olimpiade Seoul 1988 melalui trio srikandi Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani, dan Kusuma Wardhani. Di bawah asuhan pelatih legendaris Donald Pandiangan, ketiga pemanah putri tersebut merebut medali perak.

 

Sejak bulutangkis dipertandingkan sebagai cabang olahraga di Olimpiade 1992, cabang olahraga inilah yang kemudian menjadi satu-satunya tumpuan terbesar untuk memberikan kehormatan bagi bangsa Indonesia di kancah internasional.

 

Ketika itu, lima medali disumbangkan oleh atlet-atlet bulutangkis Indonesia, dua di antaranya adalah medali emas, melalui Alan Budikusuma dan Susy Susanti. Pencapaian di Barcelona juga merupakan pencapaian tertinggi dalam hal pengumpulan medali yang berhasil diraih oleh Indonesia sepanjang keikutsertaannya di Olimpiade.

 

Perolehan medali dari cabang bulutangkis dari Olimpiade ke Olimpiade memang konsisten terpenuhi, kecuali pada Olimpiade London 2012. Akan tetapi, “kualitas” medali yang berhasil direbut berbeda-beda, dan justru sudah lebih dari satu dekade pencapaian medali bulutangkis sejak Barcelona 1992 tidak pernah bisa lebih baik.

 

Cabang lain yang sebenarnya kurang mendapatkan perhatian, baik dari sisi fasilitas maupun dari sisi peliputan di media adalah angkat besi. Olahraga ini, semenjak Olimpiade Sydney 2000 secara rutin terus menyumbangkan medali bagi kontingen Indonesia, sekalipun belum pernah merupakan medali emas. Cabang ini juga “menyelamatkan muka” Indonesia pada Olimpiade London 2012 ketika bulutangkis yang diharapkan untuk menyumbang medali, harus pulang dengan tangan kosong.

 

 

Fokus dan Fokus

 

Untuk itu, Presiden Jokowi telah menegaskan dan memerintahkan Kementerian Pemuda dan Olahrga untuk fokus pada olahraga yang sudah jelas mencatat prestasi dalam keikutsertaan di ajang internasional. Ketika menerima atlet yang meraih medali di Olimpiade Rio de Janeiro Brazil 2016, Presiden Jokowi mengutarakan jelas visinya dalam membangun politik keolahragaan di tanah air. “Fokus pada cabang-cabang olahraga unggulan. Beri prioritas pada cabang-cabang olahraga yang sudah kelihatan prestasinya, baik dari sisi sarana prasarana, camp pelatihan, pelatnas” ujar Presiden Jokowi.

 

Kementerian Pemuda dan Olahraga sendiri mengidentifikasi ada enam cabang yang menjadi prioritas yakni bulutangkis, angkat besi, panahan, atletik, dayung, dan renang.

 

Fokus, sebagaimana yang divisikan Presiden Jokowi memang sangat penting dalam soal ini. Di dalam kancah olahraga internasional, salah satu negara yang fokus untuk mengembangkan satu cabang olahraga unggulan adalah Kenya. Mereka menghasilkan ratusan, bahkan ribuan, atlet pelari jarak menengah dan jarak jauh, yang tak pernah putus dari waktu ke waktu.

 

Di Kenya, cabang olahraga atletik telah menjadi salah satu instrumen mobilitas sosial dan ekonomi warganya, sehingga pemerintahnya pun tak ragu-ragu membangun fasilitas dan sistem pembinaan yang representatif, mulai dari tingkat anak-anak sampai dengan atlet di jalur prestasi.

 

Hasilnya, dalam perlombaan olahraga internasional, nama Kenya selalu terselip di antara negara-negara pengumpul medali emas. Atlet-atlet mereka juga tercatat dalam banyak rekor dunia atletik dari waktu ke waktu, terutama pada nomor jarak menengah dan jarak jauh.

 

Contoh aktual lain yang paling nyata adalah dua negara tetangga di Asia Tenggara, Vietnam dan Singapura. Pada Olimpiade Rio 2016, kedua negara tersebut berhasil mendulang emas dari cabang menembak dan renang. Perenang Singapura, Joseph Schooling, menyabet medali emas pertama bagi negeri singa itu dengan mengalahkan salah satu legenda hidup Olimpiade Michael Phelps dari Amerika Serikat, yang juga merupakan idola atlet Singapura itu.

 

Visi Presiden Jokowi tentang arah pengembangan keolahragaan sudah sangat jelas. Dengan visi tersebut, diharapkan dalam beberapa tahun ke depan, manakala atlet-atlet kita berkompetisi dengan atlet-atlet dari negara-negara lain, Indonesia dapat berbicara lebih banyak dan memberikan kebanggaan yang lebih besar bagi bangsa ini.

 

Fokus, akan menghasilkan dampak yang lebih nyata dibandingkan sekadar memeratakan. Dan untuk memfokuskan diri, keberanian untuk mengubah cara dan pendekatan menjadi kuncinya. “Tak mungkin mengharapkan hasil yang berbeda atas satu hal jika hal tersebut dilakukan dengan cara-cara yang sama,” begitu kata pepatah bijak.