Presiden menginginkan rakyat tetap berpegang pada ahlak dan moralitas bangsa sekaligus pada saat yang sama bersikap terbuka dan toleran di tengah iklim perubahan global yang terjadi.

Presiden Jokowi ketika mengajak masyarakat untuk mengkonsumsi ikan sebagai alternatif mengurangi konsumsi daging dan menjelaskan ikan mengandung protein yang tak kalah baik dibanding daging sapi, juga mengatakan bahwa ikan tidak diharamkan oleh semua agama. Ini merupakan penegasan sikap pluralis dan toleren dari sosok Presiden. Lalu di kesempatan lain di sela acara peresmian jalan tol Pejagan, Presiden didampingi Ibu Negara Iriana mengikuti salat Isya dan tarawih berjamaah di Pondok Pesantren At Tauhidiyyah Syekh Sa’id bin Armia, Giren, Talang, Kabupaten Tegal Kamis (16/6).

Di acara itu, Presiden Jokowi menyampaikan bahwa saat ini batas negara hampir tidak ada karena telah dibuka pada Januari 2016. “Itu baru dengan 10 negara ASEAN belum dengan negara lain Uni Eropa, Kawasan Tiongkok dan rekan-rekannya. Inilah sebenarnya yang harus kita hadapi,” ujarnya. Lebih lanjut, Presiden Jokowi juga mengucapkan syukur bisa salat tarawih dan silaturahmi beserta Kyai dan santri di pesantren At Tauhidiyyah. Dari dua acara itu, terlihat bahwa Presiden menginginkan rakyat tetap berpegang pada nilai-nilai moralitas bangsa sekaligus pada saat yang sama agar bersikap terbuka dan toleran di tengah iklim perubahan global yang terjadi.

“Hadirin-hadirat yang saya hormati, agar negara makin baldatun thayyibatun, saya harapkan Pondok Pesantren At Tauhidiyyah menghasilkan santri dengan akhlak yang baik,” kata Presiden Jokowi. Di sela-sela memberikan sambutan, Presiden Jokowi memberikan pertanyaan dan hadiah sepeda kepada para santri yang hadir dalam acara salat tarawih dan silaturahmi di Pondok Pesantren At Tauhidiyyah.

Sementara itu dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren K.H. Ahmad Saidi menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Presiden Jokowi bersama rombongan. “Tema kali ini adalah tarawih dan silaturahim makanya disingkat tarkhim,” tutur K.H Ahmad Saidi. Sesuai dengan ajaran Islam, K.H Ahmad Saidi menuturkan dan mengharapkan Presiden menjadi pemimpin yang dicintai rakyat dan kepada rakyat ia berharap agar menjadi rakyat yang dicintai pemimpin. Bagaimana seorang Presiden dicintai dan mencintai rakyatnya bisa dilihat dari berbagai sisi. Salah satunya adalah dari cara berkomunikasi seorang Presiden dengan rakyatnya seperti yang dilakukan Presiden Jokowi ketika berkomunikasi dengan Ibu Darwati.

Percakapan dengan Bu Darwati terjadi siang hari di sela-sela peresmian jalan tol. Presiden Jokowi mengundang warga untuk menjawab kuis yang disampaikannya, yaitu menanyakan isi Pancasila. Warga Brebes yang hadir, Jamhuri dan Umroh membacakan Pancasila dengan lantang satu per satu. Kemudian, Presiden Jokowi menanyakan adakah warga yang bisa menyebutkan dua nama Menteri Kabinet Kerja.

Seorang warga desa perempuan, Darwati, memberikan satu jawaban, “Ibu Susi, Pak.” Lalu ia terdiam karena terlupa nama menteri kedua yang akan disebutkannya. Bu Darwati mendadak lupa karena grogi. Terlihat ia menjadi sedikit gemetar. Namun, Bu Darwati tetap mendapatkan hadiah dari Presiden Jokowi.

“Ini hadiah dari saya karena Bu Darwati bilang Presiden ganteng. Soalnya selama ini ndak ada yang bilang ganteng kecuali Ibu Jokowi,” pungkas Presiden disambut gelak-tawa warga yang hadir dalam peresmian jalan tol ruas Pejagan-Pemalang Seksi I dan II (Pejagan-Brebes Timur), serta integrasi jalan tol ruas Jakarta-Cikampek, Cipularang, Padaleunyi, dan Cipali di Brebes, Jawa Tengah.

Itulah cara khas Presiden Jokowi berkomunikasi dengan rakyat, tidak berjarak, tidak menggunakan bahasa formal yang kaku dan bisa membuat rakyat kecil seperti Darwati merasa nyaman. Meski tetap ada perasaan grogi, mungkin karena bangga seorang rakyat kecil bisa ngobrol santai dengan Presidennya.