Presiden Jokowi mengatakan sosok Taufiq Kiemas adalah sosok yang tulus dan berani bersikap untuk menjadi jembatan pemersatu bangsa dalam mengatasi berbagai konflik yang pernah terjadi.

Dalam acara perayaan tiga tahun meninggalnya Taufiq Kiemas, Presiden Jokowi hadir diantara para tokoh dan pemimpin bangsa lainnya. Dalam sambutannya, Presiden mengingat betapa sosok Taufiq Kiemas, selalu mengingatkan siapa saja tentang empat pilar kebangsaan. Pancasila sebagai filosofi bangsa, UUD 1945 sebagai dasar Negara, Bhineka Tunggal Ika sebagai pemersatu kehidupan sehari-hari masyarakat dan NKRI sebagai lembaga yang hidup. Presiden menegaskan betapa sosok Taufiq Kiemas adalah sosok yang tulus dan berani bersikap untuk menjadi jembatan dalam mengatasi berbagai konflik yang terjadi di masyarakat. Baik itu konflik individu maupun partai dan lembaga.

Hadir dalam acara itu, Wapres Jusuf Kalla, Mendagri Tjahjo Kumolo, Menkumham Yasonna Laoly, Menteri KP Susi Pudjiastuti, Kepala Staf Presiden Teten Masduki dan beberapa Deputi KSP, mantan Wapres Tri Sutrisno, mantan Wapres Budiono dan sejumlah pimpinan Partai Politik dan juga jajaran pengurus DPP PDIP. Acara dimulai dengan siraman rohani dari Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj yang memberikan pencerahan tentang hubungan Islam dan Nasionalisme sejak zaman perjuangan kemerdekaan sebagai keunikan bangsa Indonesia. Islam seperti itulah yang kemudian dideklarasikannya sebagai Islam Nusantara.

Para undangan, seperti Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso, Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Budi Gunawan, Menteri Agama Lukman Hakim Saefuddin, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo dan Jaksa Agung Prasetyo, tertawa bersamaan saat Said Aqil melontarkan kelakar tentang tidak adanya Menteri dari NU dalam pemerintahan Presiden Jokowi. Siraman rohani tentang Islam Nusantara yang semangatnya juga melekat pada sosok almarhum Taufiq Kiemas, dilanjutkan dengan tausyiah dari Ketua Umum Muhammadiyah, Haedar Nashir. Berbeda dengan konsep Islam Nusantara yang dipelopori PBNU, Muhammadiyah memiliki konsep Islam Berkemajuan yang juga mendukung semangat nasionalisme di dalamnya.

Presiden Jokowi menanggapi kelakar Said Aqil dengan mengatakan bahwa sudah ada 6 orang Menteri dari NU. “Ini saya hitung sambil mendengarkan tausyiah tadi. Kalau dari Muhammadiyah saya tidak hitung karena tidak ditanya oleh Pak Haedar,” ujarnya disambut tawa riuh para undangan. Namun sebagaimana dikatakan oleh Said Aqil, bendera aliran dalam agama di Indonesia bukan merupakan faktor yang bisa memecah-belah karena ada nasionalisme yang menjadi perekat bangsa.

Dalam kesempatan itu, Presiden juga menjawab lontaran Said Aqil soal Menteri NU yang membuatnya merasa jadi diingatkan kembali pada soal reshuffle kabinet. Spontan para hadiran tertawa riuh membuat suasana menjadi penuh keakraban dan persatuan. Seperti dikatakan Presiden tentang sosok Taufiq Kiemas, perekat kebangsaan antar berbagai unsur masyarakat memang nyata ada dalam kehidupan bangsa Indonesia.