Sinergi sangat penting untuk menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Seluruh  elemen bangsa harus mampu bersinergi melawan bahaya pengeroposan nilai-nilai Pancasila.

Masalah-masalah mendasar yang terjadi di dalam negeri antara lain upaya-upaya pengeroposan nilai-nilai Pancasila, tindak kekerasan dan anarkisme terkait agama. Selain itu juga ada ancaman terorisme, peredaran narkoba, penyelundupan dan perdagangan ilegal. Reformasi TNI dan Polri adalah salah satu kunci mengatasi masalah-masalah tersebut dan merebut masa depan. Mengatasi tantangan kedaulatan negara dan keamanan ketertiban nasional yang perubahannya semakin cepat. Demikian ditegaskan Presiden Jokowi pada ratusan perwira remaja dalam upacara Prasetya Perwira TNI dan Polri Tahun 2016.

Seiring dengan persaingan yang terjadi antar negara, persaingan antar kawasan, maka ancaman terhadap pertahanan negara maupun gangguan kamtibnas akan semakin berat, semakin kompleks dan modern dari segi teknologi maupun modusnya. Ancaman terhadap persatuan dan keutuhan bangsa dan negara pun harus diantisipasi dengan berbagai cara. Karena itu, Presiden Jokowi  mengingatkan kepada prajurit TNI dan anggota Polri harus bersikap responsif, harus bersikap peka dengan kecepatan yang sangat cepat, dengan terus meningkatkan kualitas kinerja secara profesional.

Presiden juga membahas tentang konektivitas hubungan antarwilayah di tanah air yang sekarang belum sepenuhnya terwujud. Ia mengingatkan, tanpa konektivitas ketimpangan antarwilayah akan terus berlangsung dan tanpa konektivitas persatuan Indonesia juga tidak akan kokoh. Karena itu, lanjut Presiden, adalah tugas calon perwira nantinya untuk ikut menjaga, ikut memastikan, bahwa konektivitas di seluruh tanah air segera akan terwujud.

Para perwira adalah calon pemimpin-pemimpin masa depan. Presiden meminta para Capaja agar memastikan bahwa setiap langkah mereka harus mencerminkan sikap seorang ksatria dan loyalitas penuh pada bangsa dan negara. “Bangsa Indonesia menaruh harapan kepada kalian semua untuk siap dan mampu menghadapi tantangan-tantangan yang ada,” ujar Presiden. Setiap penugasan harus diterima dengan ikhlas dan semangat tinggi, pantang menyerah dan rela berkorban.

Para calon perwira remaja TNI dan Polri harus menjadi perwira yang mampu menyesuaikan diri, cepat beradaptasi dengan perkembangan lingkungan strategis, baik dalam lingkup nasional, regional maupun dalam lingkup global. TNI dan Polri harus terbuka menerima kritik dari masyarakat sebagai masukan untuk perbaikan kinerja. Semua itu diperlukan agar mampu melaksanakan tugas dengan baik. Mampu mengukir prestasi dan mencapai kinerja yang membanggakan. Keterbukaan adalah sikap yang harus dimiliki semua elemen masyarakat dalam era digital ini.

Sementara di luar negeri, isu-isu seperti kompetisi global, permasalahan perbatasan, konflik antarnegara, konflik intranegara, peperangan asimetris, perebutan cadangan energi, perlombaan senjata oleh negara-negara berkekuatan militer besar, maupun berkembangnya ISIS dan foreign terrorist fighters, menjadi isu-isu yang memberikan dampak secara langsung maupun tidak langsung terhadap negara kita Indonesia.

Presiden menegaskan, TNI dan Polri harus bersinergi, harus berkoordinasi, harus bersatu, bergotong royong untuk kepentingan bangsa, negara, dan rakyat Indonesia. “Hilangkan egosektoral, tingkatkan jiwa korsa, serta soliditas dan solidaritas TNI dan Polri, pelihara kemanunggalan TNI dan Polri dengan rakyat,” tegas Presiden.

Sinergi adalah kata kunci untuk menjaga keutuhan persatuan dan kesatuan bangsa. Jika seluruh elemen bangsa mampu bersinergi maka bahaya pengeroposan nilai-nilai Pancasila tidak akan menjadi ancaman besar bagi bangsa. Sebaliknya, jika ada elemen bangsa yang tidak membangun sinergi, maka akan terbuka celah yang bisa menggerogoti nilai-nilai Pancasila dan akhirnya akan mengakibatkan perpecahan.