Dalam memperingati Sumpah Pemuda 28-10-2016, para pemuda harus menyambut tekad Presiden Jokowi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia sekaligus menjawab tantangan zaman.

Realitas bangsa Indonesia  sebagai negara kepulauan terbesar di dunia merupakan modal besar untuk menjadi poros maritim dunia. Jadi, Indonesia memang negara maritim dan para pemuda sudah terlalu lama memunggungi laut dan samudera. Bahkan di daerah-daerah yang terkenal dengan nenek moyang pelautpun, para pemudanya juga banyak memunggungi laut.

Terkait cita-cita poros maritim, para pemuda harus memahami lima pilar utama yang disampaikan Presiden Jokowi. Pilar pertama adalah pembangunan kembali budaya maritim Indonesia. Pilar kedua, komitmen menjaga dan mengelola sumber daya laut dengan fokus membangun kedaulatan pangan melalui industri perikanan dan kekayaan laut. Pilar ketiga, komitmen mendorong pengembangan infrastruktur dan koneksitas maritim dengan membangun tol laut, pelabuhan, logistik, industri perkapalan dan pariwisata maritim. Pilar keempat, diplomasi maritim untuk mengajak semua mitra Indonesia bekerja sama dalam bidang kelautan. Pilar kelima adalah membangun kekuatan pertahanan maritim.

Tantangan untuk para pemuda di zaman ini adalan mengembalikan kejayaan kemaritiman Indonesia. Dalam konteks inilah para pemuda harus memaknai kembali Sumpah Pemuda dengan semangat maritim yang sesuai dengan kondisi era tehnologi informasi saat ini. Seperti ditegaskan Presiden Jokowi saat membuka Sail Karimata di Pantai Pulau Datok, Kayong Utara, Kalimantan Barat (16-10-2016) bahwa lautlah yang sejatinya mempersatukan Indonesia. Jadi laut pulalah yang bisa merevitalisasi semangat persatuan dan kesatuan bangsa sebagaimana diikrarkan para pemuda dalam Sumpah Pemuda tahun 1928.

b

Presiden telah menegaskan bahwa lautan adalah tempat bagi bangsa Indonesia untuk mewujudkan harapan dan cita-cita menjadi bangsa pemenang. “Melalui laut, kita bisa menjadi bangsa yang maju dan mampu memenangkan persaingan dengan bangsa-bangsa lain,” tegas Presiden Jokowi. Secara umum, di era digital, tantangan pemuda dalam menghadapi persoalan zamannya semakin keras. Persaingan makin ketat, makin mendunia, dan makin global. Namun, dengan adanya keterbukaan dan kompetisi, generasi muda didorong untuk lebih terpacu menjadi lebih baik di semua tingkat, semua level, dan semua tantangan.

Dalam acara refleksi Sumpah Pemuda ke 88, Sekretaris Kabinet Pramono Anung mengajak para pemuda untuk menjadi generasi yang kreatif. “Bagi pemuda sekarang ini, kreativitas itu mendapatkan ruang. Dan ruang itu diberikan oleh pemerintah. Nah, sekarang ini mereka mau jadi apa, kesempatan itu ada pada mereka,” tegas Pramono Anung. Untuk memastikan bahwa generasi muda Indonesia mendapatkan pendidikan yang cukup, Pramono Anung menyampaikan bahwa pemerintah saat ini terus mendorong implementasi program pelatihan vokasi dan sekolah vokasi. Termasuk sekolah vokasi kemaritiman. Tujuannya agar para pemuda menjadi generasi muda yang terampil dan tangguh di bidang kemaritiman dan bidang-bidang lainnya.

Tantangan yang dihadapi para pemuda zaman ini memang berat, mulai dari kompetisi global yang demikian ketat dan keras sampai ke bahaya narkoba. Namun dengan pendidikan yang  tepat, baik dan benar, pemerintahan Presiden Jokowi berupaya keras menyiapkan generasi muda Indonesia untuk menjadi generasi yang mampu menjawab dan mengatasi tantangan zaman. Karena itulah, semangat Sumpah Pemuda yang telah terbukti kehebatannya harus terus dijadikan fondasi nilai-nilai kehidupan para pemuda dari generasi ke generasi. Dari zaman ke zaman.*