Guna mengatasi harga daging sapi yang terlalu tinggi, pemerintah mengimpor daging sapi beku sambil membenahi rantai pasokan dan distribusi dalam jangka menengah dan panjang.

 

Pergerakan harga pangan memasuki bulan puasa dan lebaran khususnya daging sapi menjadi perhatian masyarakat dan media. Seminggu terakhir, media mengabarkan harga gading sapi yang berkisar Rp 120.000 yang dinilai terlalu tinggi. Pada Jumat, 10/6/2016 Kementerian Perdagangan  merilis data harga rata-rata nasional daging sapi adalah Rp 115.642 per kg.  Di Jawa Tengah harga daging sapi, jauh di bawah harga rata-rata nasional,  yakni Rp 95.000 per kg. Sementara Aceh di atas harga nasional, yakni Rp 130.000.

Tingkat harga tahun ke tahun

Muncul pertanyaan, apakah tingkat harga tersebut  terlalu mahal atau masih normal. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita harus menelusuri data ke belakang. Membandingkan harga dalam situasi serupa yakni menjelang lebaran 3 tahun ke belakang.

Mari kita lihat perbandingan harga rata-rata nasional barang kebutuhan pokok H-26 Puasa tahun 2014 – 2016. Data ini bersumber dari Dinas Perdagangan Provinsi  yang kemudian diolah oleh Ditjen PDN Kemendag.

Pada H-26 puasa 2016, 10 Mei 2016, harga daging sapi Rp 112.660. Pada H-26 puasa 2015, 23 Mei 2015, harga daging sapi Rp 102,510. Pada H-26 puasa 2014, 31 Mei 2014, harga daging sapi Rp 97,920

Dengan tingkat inflasi sampai Mei 2016 sebesar 3,988 persen, maka harga daging sapi Rp 102,510 tahun 2015 sebanding dengan harga daging Rp 106.598, artinya ada kenaikan sekitar Rp 6.000.

Bagaimana dengan harga awal puasa. Data yang diambil dari Sistem Pemantauan Pasar Kebutuhan Pokok (SP2KP) Kementerian Perdagangan, maka pada awal puasa, 6 Juni 2016, harga daging sapi sebesar Rp 116, 188. Sementara data dari Dinas Perdagangan Provinsi yang diolah oleh Ditjen PDN Kemendag, pada awal puasa 2015, harganya Rp 107.940. Sementara pada awal puasa 2014, sebesar Rp 100.320

Bila kita bandingkan harga tersebut dari tahun ke tahun pada awal puasa. Maka dari tahun 2014 ke 2015 ada kenaikan harga daging sapi sebesar  7,59%. Sementara dari tahun 2015 ke 2016 ada kenaikan 7,64%. Artinya, ada kenaikan harga  yang hampir sama pada daging sapi setiap permulaan puasa.

Ini sesuai dengan perkiraan, bahwa setiap puasa dan lebaran terjadi kenaikan kebutuhan daging sapi sebesar 10% dari kebutuhan normal. Sementara kebutuhan rata-rata nasional  meningkat sekitar 8% setiap tahunnya.  Jika ditelisik, terlihat, harga daging sapi relatif sudah cukup “tinggi” sejak 2014, yakni di atas Rp 100.000.

Pertanyaan yang juga sering muncul adalah daging sapi yang mana yang dibanderol Rp 120.000. Bukankah ada beragam grade daging dengan harga yang berbeda-beda.

Data yang dikeluarkan oleh Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan Kementerian Pertanian, akan menjawab dan memperjelas pertanyaan di atas sekaligus menunjukkan harga rata-rata pada bulan April 2016.

Jenis dan grade daging sapi

Berdasar grade dan komponen potongnya daging sapi dibedakan atas: harga hot car cass Rp 76,750; prime cut Rp 113,250; secondary cut  (tipe A) Rp 103,250; secondary cut (tipe B) untuk sup  Rp 75.000; harga tulang Rp 45.000; harga kulit Rp 14,875; harga kepala dan kaki per ekor Rp 211,250; harga offal (jeroan) Rp 31,591.

Jadi sebenarnya harga yang menjadi perhatian dan kerap diangkat media adalah harga daging dengan kualitas tinggi. Misalnya saja untuk membuat  masakan rendang. Sementara untuk keperluan lain, misalnya sup, bisa diperoleh dengan harga yang lebih murah. Jadi sebelum berbelanja, kita perlu tahu grade dan jenis daging sapi yang kita butuhkan.

Untuk memenuhi kebutuhan daging sapi, khususnya selama puasa dan lebaran ini pemerintah telah  menerbitkan izin impor daging sapi sebanyak 45.000 ton. Dan yang tengah berjalan adalah 29,376 ton dan yang sudah masuk  hingga awal Juni sebesar 61 persen atau 17.064 ton.  Daging impor tersebut berupa daging beku yang terutama akan didistribusikan ke wilayah Jabodetabek, Banten, dan Jawa Barat.

Besaran impor

Soal besaran impor daging, angka sebesar 45.000 ton untuk tahun 2016 rasanya tidak berlebihan. Pada  2012 angka impor daging sapi sebesar  40,3 ribu ton.  Tahun 2013, pemerintah juga mengizinkan impor  55.840 ton. Sementara tahun 2014 sejumlah 170.324 ton diizinkan masuk, meski realisasinya hanya sekitar 140.000 ton.

Maka ketika impor mulai masuk untuk menambah pasokan di pasaran, sejak 4 Juni melalui pedagang pasar dan mitra di pemukiman, Bulog  langsung mendistribusikan ke masyarakat. Dari daftar penjual yang dikeluarkan Perum Bulog di Jakarta saja ada 21 titik, Jawa Barat 37 titik,  Tangerang 5 titik, belum lagi di tempat lain. Di titik-titik ini harga daging dijual dalam kisaran antara Rp 80.000 – Rp 89.000. Tingkat harga yang jauh di bawah harga rata-rata daging nasional yang masih bertengger pada kisaran Rp115.000.

Apa yang dilakukan Bulog punya arti penting, bahwa harga daging berkualitas seharga Rp 80.000 – Rp 85.000 benar-benar ada dan sangat mudah didapatkan masyarakat dengan mendatangi alamat-alamat yang sudah disebarkan oleh Bulog atau Kementerian Perdagangan. Daging ini bukan daging tetelan atau berkualitas rendah, namun daging bermutu tinggi.

Koordinasi mencari solusi

Gejolak harga 10 komoditas pokok, khususnya daging sapi ditindaklanjuti pemerintah  dengan rapat koordinasi tim lintas kementerian  di Gedung Kementerian Pertanian Jakarta, Jumat (10/6/2016).  Tim ini terdiri atas Menkop UKM, AAGN Puspayoga, Mendag Thomas Lembong, Menteri Perindustrian Saleh Husin, Menteri Pertanian Amran Sulaiman serta Menteri BUMN Rini Soemarno.
.
Fokus tim adalah mengamankan pasokan serta stabilisasi harga pangan. Sementara dalam jangka menengah dan panjang  memperpendek rantai pasokan  serta menyusun konsep struktur baru pasar pangan. Upaya  di atas bertujuan memberikan jaminan  yang adil. Dimana petani mendapatkan harga yang layak, sementara  konsumen menikmati pangan murah. Di sisi lain pelaku usaha dan pedagang menikmati keuntungan pada tingkat wajar.