Kebhinekaan Indonesia harus selalu ‘tunggal ika’ agar bisa menjadi contoh terbaik persatuan yang indah dari sebuah keberagaman di mata dunia. Inilah yang ingin diwujudkan Presiden Jokowi. 

Terkait dinamika sosial politik saat ini, Presiden Joko Widodo mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menunjukkan pada dunia bahwa Indonesia adalah contoh terbaik dari persatuan yang terjalin dalam keragaman. Ancaman perpecahan harus dikembalikan kepada semangat bhineka tunggal ika yang sudah terbukti mampu mempersatukan bangsa. Presiden  telah berulangkali menyampaikan dalam sejumlah kesempatan bahwa keragaman sesungguhnya merupakan kekuatan utama bagi bangsa Indonesia dalam menghadapi persaingan. “Tunjukkan di depan forum internasional bahwa Indonesia, dengan penduduk muslim terbesar, Islam dan demokrasi bisa berjalan dengan baik. Saya ingatkan bahwa kita memang sangat beragam,” tegas Presiden.

Presiden Joko Widodo tetap menjamin bahwa proses hukum yang kini sedang berlangsung dalam kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaya Purnama akan dilakukan secara cepat, tegas, dan transparan. Selain itu, di tengah perbedaan pandangan yang ada, Presiden juga mengajak seluruh pihak untuk terus menjaga persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. “Jangan sampai kita menjadi terpecah belah. Kebersamaan kita sebagai bangsa menjadi rusak, tidak utuh, gara-gara persoalan yang sudah diproses dalam wilayah hukum,” ujarnya. Semua pihak harus menghormati proses hukum yang tengah berlangsung karena Indonesia adalah negara hukum.

Presiden mengingatkan kembali tentang kebersamaan sebagia bangsa. Dalam sebuah kebersamaan, semua kelompok masyarakat harus saling menghormati. “Yang mayoritas saya ajak untuk melindungi yang minoritas. Yang minoritas juga mau menghormati, menghargai yang mayoritas,” tuturnya yang disambut dengan tepuk tangan semua hadirin. Presiden berpesan agar energi kebersamaan terus diperkuat oleh seluruh elemen bangsa. Energi persatuan pasti bisa digunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang betul-betul mendasar, yang menjadi tantangan bangsa Indonesia ke depan. Baik yang berupa kemiskinan, ketimpangan kaya dan miskin atau pengangguran. Tantangan yang dihadapi bangsa ini seharusnya bukan lagi urusan domestik karena semua kini berada dalam konteks global.

Bangsa Indonesia harus bisa menjadi contoh yang baik dari suatu persatuan dalam keberagaman karena itulah sejatinya eksistensi nusantara sekaligus cita-cita para founding father. Dalam sambutan saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Rapat Pimpinan Nasional I Partai Persatuan Pembangunan di Pondok Gede, Jakarta (13/11), Presiden mengatakan sistem ketatanegaraan Indonesia menghargai, memberikan jaminan, menjamin masyarakat untuk menyampaikan aspirasi dan menyampaikan pendapat. “Kita juga menghargai kebhinnekaan dan kemajemukan karena memang bangsa kita adalah beragam, adalah majemuk,” ujar Presiden.

Presiden lalu menambahkan bahwa bahasa lokal kita saja ada sekitar 340 bahasa, bahkan ada informasi yang mengatakan sampai 646 bahasa. Untuk suku, informasi terakhir ada 1.128 suka di seluruh Indonesia. “Betul-betul beragam. Inilah anugerah yang diberikan Allah kepada kita untuk kita kelola secara baik,” tegas Presiden. Oleh sebab itu, Presiden sekaligus sebagai Kepala Negara, ingin agar persatuan, kebersamaan di antara kita ini betul-betul dijaga. “Kita bersama menjaga agar prinsip-prinsipyang ada di dalam Pancasila betul-betul tetap utuh,” tutur Presiden. Itulah kekayaan Indonesia yang sangat luar biasa dan harus dijaga bersama karena seperti kata pepatah: bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.