TRANSKRIP
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SILATURAHMI DENGAN PERWAKILAN NELAYAN SELURUH INDONESIA
ISTANA NEGARA, JAKARTA
22 JANUARI 2019

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirahmanirrahim,
Alhamdulillahirobbil alamin washolatu wassalamu ala asyrofil anbiyai wal mursalin, Sayyidina wa habibina wa syafiina wa maulana Muhammadin wa ala alihi wa ashobihi ajmain amma ba’du.

Yang saya hormati Ibu Menteri Kelautan dan Perikanan, Bapak koordinator staf khusus Pak Teten Masduki Yang saya hormati Bapak/Ibu sekalian Perwakilan Nelayan Tradisional Indonesia, Perwakilan Jaringan Nelayan Cantrang Pantura, Perwakilan Dari Serikat Nelayan Indonesia. Perwakilan Serikat Nelayan Teluk Lampung dan Banten, dan Perwakilan Jaringan Perempuan Nelayan dan Memindang Ikan. Serta yang terakhir perwakilan dari para petambak, ada?

Bapak/Ibu tamu undangan yang berbahagia,
Tadi Pak Iim sudah menyampaikan mengenai yang pertama Bank Mikro Nelayan. Ini saya kira penting untuk dimanfaatkan para nelayan karena memang Bank Mikro Nelayan ini kita siapkan khusus untuk modal kerja, untuk modal investasi bagi nelayan. Sejauh ini yang sudah tersalur itu baru Rp132 miliar, target kita tahun ini Rp975 miliar, Jadi masih jauh sekali, tolong ini dimanfaatkan.

Tadi ya kalau sudah ngambil ya ngangsur, nyicil, harus itu dan setahu saya bunga yang ada di Bank Mikro Nelayan juga sangat kompetitiflah. Saya enggak tahu berapa 3%, 3% ini kan jumlah yang kecil sekali. Tadi saya enggak melihat Pak Kepala Staf Kepresidenan, Pak Jenderal Moeldoko, karena batik, batik, batik semua saya lihat, saya pikir nelayan tadi, tahunya Pak Moeldoko hadir, Pak Jenderal Moeldoko.

Ya dimanfaatkanlah Bank Mikro Nelayan ini sebaik-baiknya, tapi gunakan untuk usaha, gunakan untuk modal kerja, gunakan untuk modal investasi, gunakan. Memang disiapkan untuk para nelayan. Bunganya sangat murah sekali 3%, murah sekali, tapi ya itu kalau pinjam, kalau pinjam dapat misalnya 300 juta, yang 150 juta jangan untuk beli mobil ya atau dapat 30 juta, 15 juta untuk beli motor, untuk gagah-gagahan.

Bisa nyetir mobil keluar masuk kampung, 6 bulan gagah, 6 bulan enggak bisa nyicil bank, tarik, enggak bisa nyicil dealer tarik sudah, habis lah kalau seperti itu. Hati-hati yang namanya pinjam itu hati-hati, ada konsekuensi untuk mengangsur, untuk mencicil. Jadi terus ini akan kita kembangkan Bank Mikro Nelayan biar semakin gede, semakin gede, semakin gede dan itu dimanfaatkan.

Kita punya kalau yang di Pesantren kita punya Bank Wakaf Mikro, nelayan punya Bank Mikro Nelayan, gunakan. Sangat sayang kalau ini tidak dimanfaatkan tapi ya itu, kalau mau pinjam betul-betul dihitung, kalau mau ya pinjam dikalkulasi. Kalau enggak masuk, kira-kira perkiraan kalkulasinya enggak bisa nyicil ya jangan pinjam, jangan dipaksakan, jangan dipaksakan. Apalagi untuk budidaya, ini mestinya ini bisa digunakan untuk budidaya. Kalau 3% ya murah banget ini, juga untuk industri-industri apa tadi, pemindangan ikan, apalagi yang di situ? Untuk, oh iya untuk pedagang-pedagang yang ada juga manfaatkan ini. Yang petambak manfaatkan ini, ini betul-betul, sekali lagi hati-hati kalau mau, tapi saya titip, memberikan peluang, tapi saya titip juga hati-hati penggunaannya, harus dihitung, harus dikalkulasi.

Yang kedua mengenai asuransi nelayan. Ini saya sudah juga perintahkan kepada Ibu Susi Menteri KKP untuk ditingkatkan terus. Tambah terus agar yang dapat asuransi itu semakin banyak yang penting Bapak/Ibu berada pada pekerjaan yang memiliki resiko yang tinggi apalagi sekarang yang namanya cuaca itu enggak bisa dihitung, enggak bisa diprediksi.

Dan yang ketiga, saya minta ini yang petambak ada ndak petambak? mana petambak? Petambak, petambak, petambak, ya petambak, petambak? petambak maju, ya maju petambak. Ini kelihatannya bukan nelayan ini, petambak tapi petambak gede ini kelihatannya, nih lihat sini baik.

Yang kedua yang perempuan pemindang ini perempuan, bukan? Bukan juga? Pemindang itu bisa laki, bisa perempuan? Pemindang ada pemindang? atau jaringan nelayan perempuan ada? Apa itu? Pemindang? ya Ibu maju. Kemudian yang dari jaringan nelayan cantrang. Ini cantrang juga masih, enggak apa-apa maju. Ya terima kasih belum diajak ngomong sudah makasih, ya silakan kenalkan dulu namanya.

Lutfi:
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.
Yang saya hormati dan saya banggakan Bapak Presiden Republik Indonesia Bapak Ir. H. Joko Widodo beserta Ibu Menteri Ibu Susi, Pak Jenderal dan Pak Koordinator Pak Teten Masduki.

Perkenalkan nama saya Lutfi Bamala asal dari Purwakarta Pak.

Presiden:
Pak Lutfi dari?

Lutfi:
Purwakarta.

Presiden:
Purwakarta oke, Purwakarta, Purwakarta kan enggak ada pantai ya, ada?

Lutfi:
Ada Danau Jatiluhur Pak.

Presiden:
Oh ini danau, oke ya gimana cerita mengenai tambak itu berarti di danau di ini?

Lutfi:
Jatiluhur.

Presiden:
Jatiluhur, jatiluhur, oke yang di ini apa?

Lutfi:
Di sana kita tergabung dalam PPI Pak.

Presiden:
Apa?

Lutfi:
PPI, PPI.

Presiden:
Apa itu?

Lutfi:
Paguyuban Pembudidaya Ikan.

Presiden:
Paguyuban Pembudidaya Ikan, yang di budidaya ikan apa?

Lutfi:
Ikan tawar Pak.

Presiden:
Apa itu ikan tawar?

Lutfi:
Ada ikan mas, ikan patin.

Presiden:
Ikan mas, ikan patin.

Lutfi:
Nila.

Presiden:
Ikan nila, semuanya di Waduk Jatiluhur?

Lutfi:
Betul Pak, kemarin sedikit dapat ketemu banyak hambatan Pak.

Presiden:
Apa?

Lutfi:
Ya sempat terjadi penertiban.

Presiden:
Penertiban apa itu?

Lutfi:
Penertiban kolam jaring apung yang katanya dikatakan instruksi pusat, akhirnya kami semua menyampaikan aspirasi ke gedung DPR.

Presiden:
Apa itu instruksi pusat itu instruksi?

Lutfi:
Ya kita enggak paham Pak, justru turun Satgas yang dibentuk oleh PJT2.

Presiden:
PJT2 itu apa itu?

Lutfi:
Jatiluhur Pak.

Presiden:
Oh oke, oke, ya terus.

Lutfi:
Dan dasarnya dari SK bupati yang lama harus di zero-kan.

Presiden:
Di?

Lutfi:
Di zero-kan, dikosongkan Pak, padahal di sana kurang lebih ada 2.526 pemilik tambak, belum karyawannya, belum kuli bongkar muatnya.

Presiden:
Terus.

Lutfi:
Belum tukang perahunya, belum tukang warungnya, jadi kalau di kalkulasikan
kurang lebih sekitar dampaknya hamper 40 ribu jiwa Pak.

Presiden:
Terus.

Lutfi:
Dan akhirnya penertiban itu dilaksanakan dan sempat terjadi adu massa, ya Pak, ya karena penertiban yang dilakukan kurang baik.

Presiden:
Yang mau ditertibkan apanya?

Lutfi:
Tambaknya katanya mau dihilangin Pak.

Presiden:
Tambak?

Lutfi:
Padahal tambak itu usaha dari leluhur kita Pak, dari tahun 1980 tambak itu sudah ada dan alhamdulillah berkat dibantu oleh DPRD Purwakarta kita bersama-sama menyampaikan aspirasi dan alhamdulillah hari ini penertiban itu ditunda, tapi saya ke sini mewakili seluruh petani jaring apung, mudah-mudahan kita dapat legalitas atau izin Pak karena keresahan.

Presiden:
Enggak itu izinnya dari siapa sih? Izinya dari bupati atau dari gubernur?

Lutfi:
Katanya dari pusat, awalnya dari…

Presiden:
Enggak, izin menambak seperti izin membuat tambak disitu izinnya dari siapa?

Lutfi:
Dulu ya dari pemerintahan Pak, dari pemerintahan kabupaten dan
pemerintahan pusat dulu.

Presiden:
Ada izin-izin setiap petambak ada izin-izin gitu ndak?

Lutfi:
Dulu ada Pak, semenjak ada SK bupati itu izin itu sudah tidak bisa dipakai lagi namun banyak sekali dampak. Tadi saya sedikit tertarik, teman-teman tertarik, di sana masih banyak para petambak kecil yang memang kekurangan modal, boro-boro pikiran modal Pak, mikirin aman, tenang, nyaman saja untuk bertambak kita susah Pak, karena…

Presiden:
Enggak, sebentar, sebentar, sebentar ini kok mau di anu, mau dikosongkan karena apa?

Lutfi:
Karena instruksi pusat, saya pun enggak paham, pusatnya pusat yang mana ini?

Presiden:
Apa? Pendangkalan?

Lutfi:
Jadi mohon izin Pak Presiden, kalau di bicara pendangkalan Jatiluhur kami sudah melakukan beberapa kajian, kajian ilmiah juga kajian akademis, sama sekali tidak berdampak karena cara menanam ikan kami di sana itu 3 tumpuk Pak. Di atasnya Mas di bawahnya Nila di bawahnya lagi Patin, jadi kalau dari pakan ikan sebetulnya sampai ke lantai yang dasar saja ya sudah habis, paling 0,0 sekian saja dan masih banyak ikan yang bebas. Jadi insya Allah dampaknya itu dari pedangkalan justru kami sih tidak sepakat karena memang sama sekali tidak mempengaruhi besar terhadap hal-hal yang kurang baik.

Presiden:
Oke nanti saya tanyakan ke Pak Bupati, yang perintah siapa dan untuk kepentingan apa, kita kan tidak semua hal saya tahu, ya sudah nangkap, nangkap, nangkap, nangkap, sudah nangkap ini urusan Jatiluhur. Ibu sudah nangkap, sebentar, berarti belum itu kalau nambak itu sebulan rata-rata dapat berapa ya?

Lutfi:
Produksi di danau Jatiluhur 1 bulan hari ini alhamdulillah 1 hari sampai 200 ton Pak.

Presiden:
1 hari 200 ton?

Lutfi:
1 hari 200 ton, jadi kebayang kalau dikosongin Pak, dan kita tadi sedikit mohon izin.

Presiden:
Suplai ke mana itu? ke Jakarta yang banyak mungkin ya?

Lutfi:
Ke Jakarta, ke seberang juga banyak Pak, ke Kalimantan.

Presiden:
Seberang itu?

Lutfi:
Ke Lampung, ke Kalimantan.

Presiden:
Berarti gede banget dong, oke deh nanti saya cek, silakan Bu.

Lutfi:
Terima kasih Pak Presiden.

Nurhidayah:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Nurhidayah untuk saya berdiri disini perwakilan Jaringan Perempuan Nelayan, untuk saya sebenarnya bukan nelayan tetapi untuk area tinggal saya, saya tinggal di pesisir saya sehari-hari menemani teman-teman perempuan.

Presiden:
Jadi bukan nelayan?

Lutfi:
Saya aslinya…

Presiden:
Namanya kan Jaringan Perempuan Nelayan.

Nurhidayah:
Iya, saya terjaring di jaringan itu Pak.

Presiden:
Kayak ikan saja terjaring.

Nurhidayah:
Iya saya terjaring karena ketika perempuan tidak terjaring dia tidak bisa akan mendapatkan apa-apa dari…

Presiden:
Jadi apa kegiatannya jaringan perempuan nelayan ini apa?

Nurhidayah:
Baik, saya di sini mau memastikan untuk perempuan diakui sebagai identitasnya nelayan itu yang pertama.

Presiden:
Gimana itu maksudnya gimana?

Nurhidayah:
Karena di Undang-undang kita perempuan nelayan itu hanya diakui sebagai keluarga nelayan.

Presiden:
Lah, tapi Ibu kan enggak terjun ke laut?

Nurhidayah:
Iya Pak, tetapi perempuan itu perannya di dalam rantai produksi itu sangat besar dan itu harus diakui.

Presiden:
apa itu?

Nurhidayah:
Di dalam pengolahan sampai pemasaran.

Presiden:
Artinya setelah ikannya sampai ke darat itu Ibu-ibu yang mengambil alih di produksinya?

Nurhidayah:
Iya ketika tidak diakui ada kesulitan perempuan untuk mengakses, yang salah satunya asuransi nelayan.

Presiden:
Yang enggak ngakui siapa sih?

Nurhidayah:
Karena aturan di dalam, di dalam untuk memastikan perempuan itu harus identitas di KTP itu harus pekerjaannya nelayan. Sementara perempuan rata-rata identitasnya ibu rumah tangga.

Presiden:
Bukan nelayan, oh nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Itu menjadi satu kesulitan.

Presiden:
Nangkep, nangkep, nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Itu pengalaman kita di lapangan untuk memastikan.

Presiden:
nangkep, nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Perempuan mendapatkan kartu nelayan itu masih sangat…

Presiden:
Nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Butuh diperjuangkan Pak.

Presiden:
Nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Makannya kami berdiri di sini untuk memastikan itu karena ketika tidak diakui itu akan berdampak panjang.

Presiden:
Nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Perempuan nelayan susah akan mengakses yang namanya permodalan itu.

Presiden:
Oh nangkep, nangkep.

Nurhidayah:
Jadi sudah dua kan Pak?

Presiden:
Dua.

Nurhidayah:
Perempuan tidak bisa mengaksesnya, sementara peran perempuan itu sangat besar di dalam rantai pangan perikanan.

Presiden:
Oke, setuju, berarti keseharian Ibu apa?

Nurhidayah:
Keseharian saya menemani perempuan-perempuan ini supaya dia berdaya mampu mengakses.

Presiden:
Menemani itu apa? menemani ngomong-ngomong atau menemani apa? masa hanya menemani saja.

Nurhidayah:
Salah satunya itu Pak karena budaya kita perempuan itu sangat masih butuh teman untuk dia mampu menyampaikan apa itu kebutuhannya. Kita bisa melihat sekarang ini semua laki-laki sekitar 200 orang kita bisa melihat perempuan mungkin hanya 5 orang. Itu tandanya perempuan butuh pemberdayaan, butuh ditemani untuk menyampaikan dia punya kepentingan.

Presiden:
oke benar, setuju, setuju, setuju, setuju.

Nurhidayah:
Maka dengan ini pemerintah ke depan harus memastikan yang namanya pemberdayaan terhadap perempuan.

Presiden:
Iya nangkep-nangkep.

Nurhidayah:
Itu Pak ya.

Presiden:
Iya, ya, ya, jadi sekarang jaringan perempuan nelayan ini yang dibutuhkan apa?

Nurhidayah:
Pemberdayaan perempuan.

Presiden:
Iya apa?

Nurhidayah:
Salah satunya diberikan pelatihan-pelatihan.

Presiden:
Pelatihan-pelatihan.

Nurhidayah:
Pelatihan iya, pengolahan itu salah satu karena memang juga perempuan di beberapa wilayah itu masih sangat kesulitan untuk akses yang namanya informasi, program-program pemerintah.

Presiden:
Masa?

Nurhidayah:
Tidak punya keberanian untuk mengakses itu.

Presiden:
Menterinya kan perempuan.

Nurhidayah:
Iya betul Pak menterinya perempuan.

Presiden:
Masa enggak memperhatikan perempuan?

Nurhidayah:
Itu yang harus masih harus diperjuangkan, iya sekarang sudah diperjuangkan dan menterinya sangat perempuan tetapi perempuan ini masih terus diperjuangkan. Oke 4 tahun kemarin ada sekitar 60 bagaimana kita berikutnya kita sampai ke 100% perempuan mampu mengakses hak-haknya.

Presiden:
Jadi tadi Bu siapa tadi?

Nurhidayah:
Saya Dayah, Nurhidayah.

Presiden:
Bu Dayah.

Nurhidayah:
Iya.

Presiden:
Iya Bu Dayah, jadi misalnya mengakses ke Bank Mikro Nelayan itu perempuan itu enggak bisa?

Nurhidayah:
Sekarang pada titik tertentu perempuan masih kesulitan.

Presiden:
Kok titik tertentu maksudnya gimana?

Nurhidayah:
Iya, di satu wilayah itu nelayan masih kesulitan perempuan untuk mengakses.

Presiden:
Oh, akses ke modal kerja.

Nurhidayah:
Karena satu persyaratan perempuan juga harus berkelompok, sementara ketika tidak berkelompok perempuan sulit untuk mengakses program-program program yang dari pemerintah.

Presiden:
Iya memang harusnya berkelompok-kelompok kan?

Nurhidayah:
Iya Pak.

Presiden:
Oke nangkep, jadi yang dibutuhkan tadi ya oke.

Nurhidayah:
Status.

Presiden:
Status ndak, masa status, yang dibutuhkan tadi agar bisa diberdayakan dalam berproduksi kan? nah silakan Pak dikenalkan, ini urusan cantrang.

Nurhidayah:
Satu Pak sebelum ke cantrang, ini juga perempuan, perempuan nelayan dengan adanya alat tangkap yang merusak itu, perempuan nelayan dalam hal ini mengakses yang khususnya perempuan yang mencari kerang, itu bibit-bibit apa namanya kerang mereka itu habis oleh alat-alat tangkap yang merusak itu.

Presiden:
Apa cantrang?

Nurhidayah:
Salah satunya untuk di wilayah Sumatra Utara itu sangat cukup mengganggu.

Presiden:
Apa maksudnya apa?

Nurhidayah:
Teman-teman perempuan.

Presiden:
Apa yang mengganggu?

Nurhidayah:
Karena ekosistem di laut itu berkurang.

Presiden:
Ya yang mengganggu tadi apa?

Nurhidayah:
Salah satunya ini apa namanya, bibit-bibit kerang itu sangat berkurang sehingga.

Presiden:
Alatnya apa yang mengganggu itu alatnya apa?

Nurhidayah:
Alatnya Pak, karena alat itu akan mengeruk segala yang masih harus tumbuh dia sudah harus diambil.

Presiden:
Itu apa itu cantrang itu?

Nurhidayah:
Salah satu nya.

Presiden:
Bukan?

Nurhidayah:
Salah satunya, eh maaf, yang di Medan tank Thailand itu.

Presiden:
Apa tank Thailand apa itu?

Nurhidayah:
Yang apalagi cukup menggangu untuk.

Presiden:
Tank Thailand itu apa ya? apa itu? troll?

Nurhidayah:
Keberlanjutan perempuan mencari penghidupan di laut, seperti itu, itu salah satunya setiap wilayah sekiranya pemerintah itu ada solusi yang efektif buat teman-teman di wilayah ketika alat tangkap itu dilarang.

Presiden:
Iya nangkep, nangkep, oke, sudah? Masih ada yang disampaikan?

Nurhidayah:
Baik, cukup Pak.

Presiden:
Cukup, ya cantrang silakan, nama.

Agus:
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Nama saya Agus Mulyono.

Presiden:
Pak Agus Mulyono, dari?

Agus:
Dari Lamongan.

Presiden:
Lamongan?

Agus:
Iya.

Presiden:
Berarti Jawa Timur?

Agus:
Jawa Timur Bapak.

Presiden:
Nggih.

Agus:
Saya nakhoda 17 tahun Bapak.

Presiden:
Nakhoda 17 tahun?

Agus:
Iya, jadi ABK 4 tahun.

Presiden:
ABK 4 tahun.

Agus:
Jadi kepala desa 6 tahun sambil nelayan Bapak, soalnya kepala desa gajinya kecil.

Presiden:
Enggak, sebentar, sebentar, sebentar, jadi Bapak, Pak siapa tadi?

Agus:
Agus Mulyono.

Presiden:
Pak Agus tadi, Pak Agus, Pak Agus ini kepala desa atau nelayan?

Agus:
Nelayan dan kepala desa, KTP nya tetap kepala desa Bapak.

Presiden:
Masa, benar masih bisa melaut kemudian?

Agus:
Masih bisa, Sabtu-Minggu, harian, hari Sabtu dan hari Minggu.

Presiden:
Hari Sabtu hari Minggu masuk laut.

Agus:
Iya melaut Bapak.

Presiden:
Terus Senin sampai Jumat terus ngantor ke kepala desa?

Agus:
Iya, iya.

Presiden:
Gajinya gede Bapak ini, ya gede duit dari kepala desa dapat, duit dari nelayan
dapat, gitu?

Agus:
Iya, iya kira-kira begitu Bapak, mengelolanya cantrang Bapak. Gini Bapak saya sama teman-teman nelayan ini merasa tersanjung, terima kasih merasa dimanusiakan sebagai manusia, Bapak. Yang selama ini beban tanggung jawab teman-teman khususnya nelayan pukat tarik ini Bapak yang notabene pada tanggal 17 Januari 1928 Pak Presiden memberi messenger kepada kami, jangan ditangkap nelayan-nelayan cantrang mereka mencari makan, alhamdulillah itu hidup lagi Bapak.

Presiden:
Hidup lagi?

Agus:
Iya hidup lagi.

Presiden:
Maksudnya enggak ditangkap kan?

Agus:
Iya enggak ditangkap Bapak.

Presiden:
Enggak ditangkap, oke, sudah.

Agus:
Tapi sayang tidak dibarengi dengan perizinan, tapi surat sakti Bapak hebat, SMS nya itu kan kita hebat kita foto kopi, kita sebarkan kepada teman-teman ini Pak Presiden sudah boleh.

Presiden:
Enggak ditangkap?

Agus:
Enggak ditangkap sampai sekarang Bapak.

Presiden:
Nggih.

Agus:
Alhamdulillah.

Presiden:
Terus?

Agus:
Makanya saya itu masih konsen terhadap Pak Jokowi, maju lagi, jadi lagi, betul teman-teman? benar Bapak, iya benar Bapak ini yang dipakai untuk nelayan juga dipakai, tapi nelayan cantrang-cantrang itu sebetulnya warisan leluhur kami dari zaman Belanda Bapak.

Nelayan ini sangat bersyukur Bapak, silakan melaut tanpa ada penangkapan. Walaupun sampai saat ini belum diterbitkan enggak apa-apa, selama Bapak jadi presiden tetap kita, betul kan? Bapak saja. Iya Pak, Pak Jokowi ini persoalannya gini, coba Pak Jokowi serius, serius Bapak.

Presiden:

Iya serius, saya juga serius.

Agus:
Sayangnya Pak Jokowi HP saya disita, saya pengin selfie sama Bapak tak tunjukkan.

Presiden:
Oh pengin selfie?

Agus:
Ke rakyat semua bahwa saya ini diundang sama teman-teman sangat terima kasih.

Presiden:
Pengin selfie?

Agus:
Iya benar selfie Bapak.

Presiden:
Ini sini saya beri selfie.

Agus:
Benar, iya.

Presiden:
Selfie saja kok.

Agus:
Iya jadi nelayan itu butuh fasilitas Bapak, butuh pembinaan, butuh tempat pemasaran yang bagus.

Presiden:
Oke.

Agus:
Alhamdulillah Bapak, aduh alhamdulillah Bapak, alhamdulillah mudah-mudahan jadi lagi Bapak, hidup Pak Jokowi Alhamdulillah. Cantrang melaut lagi, cantrang melaut lagi, Pak Jokowi tetap yes Pak, ke depan saya Bu Susi no. Terima kasih Bapak terima kasih, rasanya teman-teman ini bernapas hidup dan kita ini. Bapak, kalau mau mensejahterakan nelayan Bapak mudah, tinggal nomor telepon saya dicatat Bapak, iya nomor telepon saya dicatat.

Presiden:
Iya dicatat.

Agus:
Sama temen-temen ini keberlanjutan saya siap, caranya masih banyak Bapak, bukan membasmi penghidupan nelayan, tidak. Kalau luar negeri mau masuk saya setuju Bu, saya setuju tapi jangan pribumi jangan. Iya kita ini benar-benar Bu, saya curhat sama Bapak, kapan lagi saya curhat sama Bapak kalau enggak sekarang, mumpung saya butuh Bapak, Bapak juga butuh massa saya. Iya, jadi hidup Jokowi, hidup cantrang, jadi kita ini bukan untuk dikasih alat itu, alat ini ternyata enggak cocok Bapak. Karena masing-masing daerah itu beda, karesteristik ikannya beda, namanya pirek, pirek itu Pak walaupun 10 tahun enggak ada yang satu, satu kilo tidak ada Bapak, tetap kecil. Biji nangka juga demikian, dan itu tidak ada alat lain yang bisa nangkap. Kalau tidak musimnya, kalau enggak ditangkap wis hilang terbawa arus, rugi sendiri nelayan. Jadi ikan itu musiman Bapak, bukan punah karena cantrang, salah besar Bapak. Nah cantrang itu bukan sebagai alat punah, alat mensejahterakan dan ramah lingkungan. IPB, tanya Bapak ,ramah lingkungan dan semuanya sudah dikaji jadi saya mohon nelayan, semua nelayan di Indonesia ini butuh pembinaan, butuh fasilitas, butuh BBM yang mudah, butuh pelayanan surat, terutama perizinan surat Bapak.

Presiden:
Perizinan itu kalau cari izin sekarang berapa hari, berapa bulan?

Agus:
Oh sejak Bu Menteri ini lama, lama, lama, lama dan tidak keluar izin. Padahal Bapak, silakan melaut, sudah memperbolehkan, sudah memperbolehkan. Bu Susi waktu juga di mobil komando juga silakan melaut demi Pak Jokowi ya, iya, tapi surat enggak, enggak keluar sampai sekarang Bapak. Kapal-kapal pada macet semua dalam perkembangan tapi ada surat sakti, messenger ke Kapolri dilarang menangkap kapal cantrang, itu yang bikin hidup. Selama Bapak jadi Presiden, kami tetap hidup, iya.

Presiden:
Sudah, nanti kampanye terus.

Agus:
Terima kasih, iya.

Presiden:
Kampanye terus Pak Agus ini.

Agus:
Betul Pak, bukan kampanye terus ini.

Presiden:
Nggih sudah.

Agus:
Terima kasih itu saja dari saya Bapak, mudah-mudahan Bapak…

Presiden:
Itu tadi, itu tadi sudah diberi foto, itu foto itu mahal banget itu.

Agus:
Iya Bapak terima kasih sekali.

Presiden:
Foto itu coba di…

Agus:
Mohon maaf Ibu, mohon maaf Ibu Menteri, mohon maaf, iya.

Presiden:
Itu di belakangnya itu ada tulisannya itu, fotonya tadi loh, mana tadi? Nah jangan dikempit, nah ini dibaca fotonya dari?

Agus:
Istana Republik Indonesia, alhamdulillah.

Presiden:
Itu yang mahal itu.

Agus:
Tapi teman-teman saya juga di bagikan Bapak.

Presiden:
Gimana?

Agus:
Teman-teman saya juga di bagikan Pak foto seperti ini Bapak.

Presiden:
Nanti foto bareng.

Agus:
Iya Bapak iya, terima kasih itu saja.

Presiden:
Oke, makasih Pak Agus.

Agus:
Saya butuh pembinaan.

Presiden:
Nggih.

Agus:
Saya butuh hidup.

Presiden:
Nggih.

Agus:
Bersama teman-teman ini butuh hidup.

Presiden:
Nggih, nggih, nggih.

Agus:
Hidup dan potensi sekali dan melegalkan kembali cantrang, itu saja harga mati Bapak.

Presiden:
Nggih.

Agus:
Terima kasih.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden:
Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.

Agus:
Mohon maaf Bu Menteri curahan hati.

Presiden:
Nggih monggo, sudah silakan, makasih, Pak lurah.

Oke, saya menangkap banyak hal dari pertemuan siang hari ini, baik yang berkaitan tadi dengan cantrang, baik yang berkaitan dengan nelayan perempuan, baik yang berkaitan tadi dengan Jatiluhur. Saya nangkap semuanya dan sudah semuanya kita catat. Dan sekali lagi saya mengharap agar fasilitas-fasilitas terutama Bank Mikro Nelayan tadi betul-betul dimanfaatkan oleh para nelayan, petambak, sehingga perkembangan kehidupan kesejahteraan-kesejahteraan nelayan itu betul-betul bisa kita lihat dari angka-angkanya.

Saya kira kita melihat yang namanya illegal fishing, kapal-kapal ilegal itu sudah sejak 2014 yang ditangkap dan ditenggelamkan itu sudah 488. Jumlah yang sangat, ini hampir semuanya kapal asing. Enggak pernah kita menangkap dan menenggelamkan kapal sebanyak ini dalam sejarah kita, enggak ada.

Tapi tentu saja kita harapkan ini produksi ikan tangkap para nelayan juga bisa naik. Dari angka-angka yang kita dapatkan ya memang naik, tapi mestinya ini bisa naik drastis karena 7.000 kapal ilegal yang biasanya lalu-lalang di seluruh perairan kita ini sudah sekarang betul-betul dapat dihilangkan, dikurangi sangat banyak sekali.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang sangat baik ini. Sekali lagi saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas seluruh masukan dari para nelayan tadi, dalam rangka kita memperbaiki kebijakan yang ada sesuai yang dikehendaki oleh para nelayan di lapangan.

Saya rasa itu yang bisa saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini. Terima kasih.

Saya tutup.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh.

*****

Biro Per, Media dan Infromasi
Sekretariat Presiden