Kemajuan olahraga punya peran sentral, bukan hanya menyehatkan dan menumbuhkan kebanggaan, tetapi juga sebagai alat pemersatu bangsa.

Tim bulutangkis Piala Thomas dan Piala Uber memohon  dukungan dan doa restu kepada Presiden Joko Widodo dan masyarakat luas agar dapat memberikan prestasi maksimal di kejuaraan yang akan digelar di Kunshan, Tiongkok, 15-22 Mei 2016.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden optimis Indonesia akan menjadi juara. “Jaga kekompakan, jaga semangat juang dalam bertanding. Feeling saya kok kita menang,” Presiden yakin seluruh pemain akan bisa mengembalikan kejayaan Indonesia di arena bulutangkis dunia.

Harapan Presiden tersebut juga  merupakan harapan rakyat Indonesia.  Sudah lama kita kehilangan mahkota juara  bulutangkis yang bertahun-tahun silam selalu menjadi kebanggaan.  Piala Thomas, terakhir kita rebut pada 2002, sedangkan Piala Uber 1996.

Rasanya bulutangkis masih menjadi andalan kita di tingkat dunia. Pebulutangkis Indonesia masih merajai  kejuaraan perorangan, khususnya ganda putra, ganda putrid, dan ganda campuran.

Ganda putra dalam beberapa tahun terakhir menjadi ujung tombak Indonesia di berbagai ajang internasional. Terbaru, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan sukses memboyong gelar BWF World Championsip 2015 yang digelar di Jakarta. Kevin Sanjaya Sukamuljo/Marcus Fernaldi Gideon juga sukses menjadi yang terbaik di sektor ganda India Terbuka Super Series 2016.

Yang terbaru adalah  pasangan ganda campuran  Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir berhasil menyabet kemenangan pada  Malaysia Open Super Series Premier 2016.  Masih di nomor ganda campuran, pasangan Indonesia juga menggondol mahkota di kejuaraan  All England 2016, melalui pasangan Praveen/Debby. Pada  kejuaraan Singapura Open 2016 pasangan ganda putri Indonesia Greysia Polii/ Nitya Krishinda Maheswari menjadi juara.

Ketiga sektor tersebut menjadi kekuatan yang juga diandalkan, setidaknya pada Olimpiade Rio de Janeiro,  dan Piala Thomas & Uber 2016. Kedua kejuaraan tersebut menjadi ajang pembuktian kekuatan bulutangkis Indonesia di kejuaraan perorangan dan beregu.

Prestasi olahraga  bukan hanya bulutangkis harus didorong agar bisa bersaing di tingkat internasional.  Prestasi yang diraih di tingkat Asia atau dunia menjadi kampanye positif Indonesia. Untuk mencapainya tentu dibutuhkan usaha keras. Penemuan bakat, program pelatihan sejak usia dini, pembinaan berkelanjutan, dan kompetisi berjenjang adalah jalan yang harus dilalui. Tak ada rumus instan. Bakat saja bukan jaminan. Cabang bulutangkis bisa menjadi contoh, bahwa pembinaan tanpa putus, bisa menghasilkan pemain yang berprestasi.

Torehan prestasi Rudy Hartono sebagai juara All England 8 kali berturut-turut , Susi Susanti dan Alan Budikusuma yang menyandingkan gelar tunggal putra dan putri di kejuaraan multi cabang Olimpiade bisa menjadi inspirasi.

Dalam prespektif yang lebih luas, olahraga adalah sarana untuk menyehatkan badan dan jiwa. Mens sana in corpore sano, yang  artinya jika jiwa seseorang sehat, maka tubuhnya akan sehat juga. Begitu pula sebaliknya. Dengan kata lain semakin banyak manusia Indonesia gemar berolahraga maka akan bertambah orang yang sehat. Sehingga biaya pengobatan bisa dialokasikan pada hal-hal yang lebih  perlu. Mereka yang sehat juga  lebih produktif dan mampu bersaing. Singkat kata, masyarakat yang gemar berolahraga punya sumbangan besar dalam kemajuan bangsa.

Melalui olahraga pula berbagai sekat perbedaan bisa dipersatukan. Kita bisa mengambil contoh bagaimana antusiasme masyarakat ketika pemain bulutangkis Indonesia bertanding di partai final All England. Atau tim nasional sepakbola kita bertanding Sea Games, nyaris semua mata tertuju di depan televise, menyimak dengan seksama.

Berbagai perbedaan yang selama ini ada langsung ditanggalkan. Kita menjadi bangsa yang mendukung penuh patriotik  pahlawan-pahlawan olahraga yang tengah bertanding di arena tersebut.