Dari Kota Bekasi muncul prakarsa untuk membangun toleransi. Umat  Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Budha berkumpul  merayakan kebersamaan  dan persaudaraan dalam sebuah apel akbar berjuluk Kerukunan Antar Umat Beragama di Kota Bekasi.

Dengan semboyan Kami Tinggal, Hidup dan Berkarya di Bumi Patriot, Nyok Wujudkan Kerukunan, Mengasihi dan Bertoleransi Terhadap Perbedaan Keyakinan Dalam Memperkokoh Persatuan dan Kesatuan Bangsa.

Apa yang dilakukan oleh Pemerintah Kota Bekasi pada Sabtu, 16/4/2016 ini tentu merupakan angin segar di tengah tindakan intoleransi yang masih dijumpai. Beberapa minggu sebelumnya sempat terjadi ketegangan, antara pengunjuk rasa dan Walikota, ketika  sekelompok massa menentang sebuah pendirian rumah ibadah.

Apel ini menunjukkan bahwa pemerintah bersama dengan umat beragama  punya niat  membangun kebersamaan menerobos sekat-sekat perbedaan.

Sekitar 30.000  warga lintas agama hadir dalam perhelatan ini. Mereka berbondong-bondong memasuki stadion. Ratusan pembawa umbul-umbul dan pembawa bendera merah putih berjajar di pinggir lapangan. Mengiringi atraksi barongsai, musik islami, tari bali, nyanyian rohani, dihadirkan mewakili masing-masing agama. Setiap kali acara selesai, tepuk tangan membahana. Tanda saling menghargai dan apresiasi.

Masing-masing pemuka agama kemudian memberi sambutan. Pada intinya mereka menghargai prakarsa Pemerintah Kota Bekasi menyelenggarakan apel lintas agama ini. “Bekasi sudah memberi contoh kebersamaan dan toleransi, mudah-mudahan daerah lain bisa mengikuti,” ungkap para pemuka agama. Acara kemudian ditutup dengan pelepasan burung merpati sebagai simbol perdamaian dan diakhiri deklarasi bersama.

Pesan toleransi itulah yang hendak disasar. Sebagai bangsa majemuk  dengan 5 agama resmi, ratusan suku, bermacam golongan, dan bahasa, kita butuh perekat. Toleransi adalah salah satu pengikat.  Tenggang rasa dan perasaan sebagai satu bangsa harus lebih mengemuka. Tanpa kesadaran ini, bangsa kita akan mudah diombang-ambingkan dan dipecah belah.

Kesadaran  bahwa kita adalah Bhineka Tunggal Ika, sebenarnya sudah lama muncul. Bung Karno, Presiden pertama RI mengatakan “This country, the Republic of Indonesia, does not belong to any group, nor to any religion, nor to any ethnic group, nor to any group with customs and traditions, but the property of all of us from Sabang to Merauke!” – Negeri ini bukanlah milik kelompok tertentu, bukan juga kepunyaan salah satu agama, etnis tertentu, kelompok dengan tradisi tertentu, namun kepunyaan rakyat dari Sabang hingga Merauke.

Pandangan Bung Karno tersebut segaris dengan Presiden ke-7 Jokowi. Pada 17/7/2015 saat  mengundang tokoh lintas agama dan organisasi kemasyarakatan di Istana Negara.

Dalam kesempatan itu, Jokowi menyampaikan bahwa Indonesia terdiri atas beragam agama yang menyatu dalam kebhinekaan. Itulah sebabnya masyarakat harus bersatu, rukun, bertoleransi, saling menghormati. Ia juga mengakui masih terjadi gesekan kecil di masyarakat yang harus secepatnya dipadamkan. “Kita masih berjuang keras untuk menegakkan yang namanya toleransi. Kita tegakkan toleransi. Dan kita terus memperjuangkan persaudaraan dan kerukunan lintas agama di Tanah Air. Itu bisa kita wujudkan di dalam kehidupan sehari-hari,” kata Presiden.

Apel akbar kerukunan antar umat beragama di Bekasi ini sebenarnya usaha untuk memperteguh kebhinnekaan dan memperkuat restorasi sosial Indonesia melalui kebijakan memperkuat pendidikan kebhinnekaan dan menciptakan ruang-ruang dialog antarwarga. Sebuah nilai yang diambil dari Nawacita butir ke-9.