Hasil rilis Badan Pusat Statistik memperlihatkan, ketimpangan pengeluaran di masyarakat  mengecil yang tercermin dengan penurunan rasio gini dari 0,41 menjadi 0,40.

Pembukaan UUD 45 RI mengamanatkan bahwa negara akan memajukan kesejahteraan umum. Namun dalam perjalanan waktu tak ada satupun negara dengan tingkat kesejahteraan yang seragam. Selalu ada ketimpangan pendapatan, sehingga muncul kelompok berpendapatan rendah, menengah, dan tinggi. Yang bisa dilakukan kemudian adalah mengurangi ketimpangan tersebut agar semakin kecil.

Pada akhirnya pendapatan berkorelasi dengan pengeluaran atau belanja. Mereka yang berpendapatan rendah, umumnya pengeluaran dihabiskan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Sementara kelompok berpendapatan menengah dan tinggi masih bisa membelanjakan untuk memenuhi kebutuhan sekunder dan tersier.

Ketimpangan pendapatan yang berkorelasi dengan ketimpangan pengeluaran ini tidak boleh dibiarkan. Apalagi jika ketimpangan tersebut semakin lebar. Karena bisa menimbulkan  ketidakadilan dan memunculkan gejolak di masyarakat.

Salah satu  ukuran untuk menentukan ketimpangan ekonomi adalah rasio gini. Rasio gini adalah indikator ketimpangan berdasarkan tingkat pengeluaran penduduk. Nilai 0 menunjukkan pemerataan sempurna, sedangkan 1 mengindikasikan ketimpangan terparah. Sejak tahun 2008  rasio ini terus naik dari angka 0,35 hingga 0,41 pada 2014. Namun,  per September 2015 turun menjadi 0,40. Artinya setelah 7 tahun terus merangkak naik, rasio gini berhasil di rem bahkan diturunkan.

Penurunan tersebut menurut Kepala Badan Statistik, Suryamin karena 40 persen  penduduk dengan pengeluaran terendah meningkat dari 17,10 persen per Maret 2015 menjadi 17,45 persen per September 2015. Kelompok penduduk 40 persen dengan penegeluaran menengah menunjukkan peningkatan dari 34,65 persen menjadi 34,70 persen. Sebaliknya 20 persen penduduk dengan pengeluaran  tinggi pengeluarannya justru turun dari 48,25 persen menjadi 47,84 persen.

Yang menarik, di perkotaan, distribusi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah pada periode Maret 2015―September 2015 juga menunjukkan perbaikan. Meningkat dari 15,83 persen pada Maret 2015 menjadi 16,39 persen pada September 2015. Hal yang sama terjadi di daerah pedesaan, dimana distribusi pengeluarannya meningkat dari 20,42 persen pada Maret 2015 menjadi 20,85 persen pada September 2015. Artinya, terjadi peningkatan pengeluaran kelompok terbawah di kota maupun di desa.

 

Penurunan rasio gini itu  menunjukkan bahwa pemerintah memperoleh kemajuan berarti dalam menurunkan ketimpangan pengeluaran di masyarakat. Menurut Suryamin, salah satu faktor penyebabnya adalah peningkatan volume program jaminan sosial yang langsung menyasar keluarga miskin.

Dalam dua tahun pemerintahannya, Presiden Jokowi memang giat membagikan berbagai macam kartu yang menyasar berbagai kelompok masyarakat yang kurang beruntung. Mulai dari Kartu Indonesia Sehat (KIS), Kartu Indonesia Pintar (KIP), Kartu Keluarga Sejahtera (KKH), Bantuan Sosial Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Asistensi Sosial Lanjut Usia (ASLUT), sampai Kartu Asistensi Sosial Penyandang Disabilitas Berat (ASPDB).

Pembagian kartu tersebut merupakan  wujud program penjaminan sosial. Program tersebut masuk dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) yang ditetapkan sesuai dengan kebijakan politik pembangunan pemerintah.

Tujuannya untuk mempercepat pemenuhan kebutuhan dan layanan dasar rakyat, penanggulangan kemiskinan, mengatasi kesenjangan antarkelompok dan wilayah, serta meningkatkan kemampuan sumber daya manusia.

Melalui KIS masyarakat bisa mengakses layanan dasar kesehatan sehingga mereka bisa datang ke Puskesmas. Lewat KIP, siswa bisa bersekolah dan mendapatkan buku pelajaran. Demikian juga dengan KKS, PKH, ASLUT, dan ASPDB, warga penerima kartu akan mendapatkan layanan dan kebutuhan dasar.

Berbagai kartu tersebut tentu saja sangat membantu masyarakat. Sehingga uang yang biasanya dibelanjakan dapat dialokasikan untuk keperluan lain. Barangkali hal inilah yang membuat kesenjangan pengeluaran menjadi semakin kecil, seperti tercermin dalam rasio gini.