Ekonomi kreatif telah memasuki era baru yang kita kenal sebagai Global Digital Economy (GDE). Presiden Jokowi pun berharap ekonomi kreatif bisa menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia.

Advertising telah bergeser menjadi app-vertising. Penerbitan tak lagi menjadi industri yang sentralistik pada perusahaan penerbitan. Penulisan berkembang dan menjadi spesifik. Dorongan digital platform membuat perubahan terjadi begitu cepat dan berdampak langsung pada berbagai sektor kehidupan masyarakat. Tidak hanya ekonomi tapi juga sosial, budaya dan politik.

Keadaan benar-benar telah berubah. Ekonomi kreatif harus bisa memberi solusi dan menjawab tantangan yang muncul karena perubahan ini. Ekonomi kreatif berpeluang besar menjawab tantangan perubahan yang terjadi saat ini. Dalam lawatan ke Uni Eropa bulan April 2016, Presiden Jokowi berhasil menggolkan kerjasama di bidang ekonomi kreatif dengan Inggris. Pemerintah Republik Indonesia dan Kerajaan Inggris sepakat meningkatkan kerja sama ekonomi kreatif. Kesepakatan itu dicapai dalam pertemuan Presiden Jokowi dengan Perdana Menteri Inggris, David Cameron, di Kantor Perdana Menteri Downing Street 10, London.

Tindak lanjut untuk keberhasilan menandatangani kerjasama dengan Inggris, Indonesia harus mampu mengidentifikasi dengan baik perubahan-perubahan yang terjadi dalam kaitannya dengan bisnis atau usaha ekonomi kreatif. Setelah mengidentifikasi kita akan bisa membentuk dan membingkai kembali peluang-peluang dalam bisnis yang kita geluti. Kunci ekonomi kreatif untuk bisa terus tumbuh adalah reshaping dan reframing bisnis apapun yang dijalani di era sebelum GDE. Sedangkan untuk para pelaku berbagai subsektor ekonomi kreatif, tuntutan utama adalah untuk terus berinovasi.

Pada saat yang sama dorongan Presiden Jokowi untuk memperkuat pendidikan vokasi harus diselaraskan juga dengan perkembangan situasi ekonomi kreatif. Kurikulum yang disusun untuk pendidikan vokasi harus mampu menciptakan ruang untuk inovasi dan kreativitas dari para peserta didik. Kurikulum harus kontekstual dengan keadaan yang telah berubah karena meskipun konten sangat penting, namun konteks juga penting. Percuma membuat konten yang brilliant tapi out of context. Percuma membuat iklan yang sangat jenius tapi tak sesuai sasaran. Konsep modul pembelajaran di semua subsektor ekonomi kreatif harus menekankan kemampuan mentransfer skill dan kompetensi yang dimiliki dalam setiap situasi yang berbeda-beda.

Presiden Jokowi berharap bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Data WIPO Survei (2013) menempatkan Indonesia pada posisi 30 dari 42 negara berdasarkan kontribusi industri kreatif terhadap GDP masing-masing negara, di mana peringat teratas adalah Amerika Serikat (11,3%) dan Korea (9,9%). Pada tahun 2014, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB Indonesia 7,02% (tujuh koma nol dua persen), dan dalam RPJMN pada periode 2015-2019 diharapkan dapat memberikan kontribusi lebih dari 12% (dua belas persen). Untuk itu, harus dilakukan berbagai program untuk reframing ekonomi kreatif karena dalam era GDE, kecepatan berinovasi sangat penting.