UMKM  berpeluang  besar menembus pasar ekspor bila fokus pada mutu produk dan mengenali persyaratan pada negara yang dituju. 

Cukup membanggakan bahwa keinginan orang untuk menjadi wiraswasta kini meningkat cukup pesat. Salah satu indikatornya adalah  perkembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM)  yang terus tumbuh. Perkembangan ini patut didorong karena semakin banyak orang menjadi usahawan otomatis  akan mempercepat gerak  roda perekonomian dan menambah penyerapan tenaga kerja.

Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah bahwa sampai 2014 lalu jumlah UKM di Indonesia mencapai 57,9 juta. Angka tersebut naik 1,4 juta dari 2012 yang  mencapai 56,5 juta unit usaha.

Dalam ASEAN-US Summit Retreat I yang dilaksanakan di Interactive Gallery, Sunnylands Center & Gardens, Kalifornia, Amerika, (16/2/2016) Presiden Jokowi menekankan kerjasama UMKM perlu diarusutamakan karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia dan ASEAN. Di Indonesia sendiri, UMKM yang memiliki daya tahan tinggi mampu menopang perekonomian negara, bahkan saat terjadi krisis global.

Menurut Presiden, UMKM kerap menghadapi tantangan, terutama dalam hal peningkatan kapasitas, akses modal dan pendanaan alternatif, akses teknologi, akses pasar global, serta integrasi mata rantai regional dan global.

Karena merupakan usaha rintisan, UMKM, terutama kategori mikro,  memang sering terbentur  kendala permodalan dan akses pasar. Usaha mikro adalah usaha dengan kekayaan bersih maksimal Rp 50 juta, tidak termasuk tanah dan bangunan tempat usaha. Atau memiliki hasil penjualan tahunan paling banyak Rp 300 juta. Di atasnya adalah usaha kecil memiliki kekayaan bersih lebih dari Rp 50 juta rupiah dan paling banyak Rp 500 juta rupiah tidak termasuk tanah.

Meski dihadang oleh banyak kendala, ada banyak pelaku usaha mikro yang bisa dijadikan contoh. Salah satunya adalah eksportir buah Ahmad Abdul Hadi (42), asal Cirebon, Jawa Barat, pemilik  perusahaan eksportir dan distributor buah lokal Sumber Buah Sae yang mulai menekuni usaha ekspor buah sejak tahun 2008. Kini Ahmad secara rutin mengekspor sekitar 200 ton per tahun buah lokal ke beberapa belahan dunia seperti Singapura, Hongkong, Qatar, Dubai, Bahrain, Oman dan Arab Saudi.

 

Melalui tangan dinginnya, buah lokal Indonesia  ternyata bisa berjaya di pasar internasional. Bukan hanya buah impor saja yang memasuki pasar Indonesia. Syaratnya buah tersebut berpenampilan mulus, warna – ukuran – tingkat kematangan seragam, dikemas secara baik, plus proses pengiriman tepat waktu. Jenis buahnya bisa apa saja: mangga, rambutan, manggis ,belimbing, salak dsb.

Untuk mendapatkan buah dengan persyaratan tersebut, petani buah lokal perlu diedukasi melalui pendampingan. Dari mulai pemilihan bibit, pemeliharaan, pemetikan, penanganan buah paska panen, dan pengemasan. Proses ini butuh waktu, karena para petani tidak terbiasa menghasilkan buah yang bermutu tinggi.

Berikutnya adalah pentingnya pemasaran. Bagaimana membuka akses pasar, bernegosiasi dan meyakinkan calon pembeli. Agar calon pembeli percaya, dibutuhkan sampel yang sesuai dengan persyaratan yang telah disepakati. Masing-masing negara tujuan ternyata mempunyai persyaratan yang berbeda, sehingga eksportir harus menyesuaikan diri dengan negara tersebut. Selain itu Indonesia harus bersaing dengan negara-negara tropis lain yang juga mengekspor buah.

Tapi yang pasti, kekhasan rasa buah Indonesia, bisa menjadi keunggulan dan membuat buah lokal Indonesia dicari. Salah satu contoh adalah mangga Gedong gincu. Selain berasa manis, gedong gincu juga ada rasa asam segar. Nah rasa asam segar ini ternyata disukai oleh konsumen luar negeri. Mereka bahkan tidak suka mangga yang hanya berasa manis seperti halnya mangga Harumanis.

Selain rasa, konsumen luar negeri ternyata sangat memperhatikan kemasan. Kemasan yang bagus akan meningkatkan nilai tambah. Ia mencontohkan bagaimana ketika buah ekspornya ditempatkan di kantong plastik, harga jualnya tidak bisa tinggi. Sementara ketika ditempatkan di dalam kemasan yang mewah,  orang tidak ragu membeli dengan harga yang lebih mahal.

Intinya UMKM hanya perlu dorongan agar akhirnya bisa tumbuh dan menembus pasar secara mandiri. Pemerintah pun telah menurunkan tingkat bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) hingga tinggal 9 persen per tahun untuk membantu pelaku usaha kecil dalam hal permodalan. Beberapa BUMN juga mengucurkan kredit Program Kemitraan Bina Lingkungan (PKBL) yang bisa diakses UMKM.

Tinggal pengusaha UMKM memanfaatkan skema permodalan tersebut dengan kehati-hatian dan tekun membesarkan usahanya.