Berbeda penanganannya di negara yang lain, yang banyak dilakukan dengan penegakan hukum, dengan ‘law enforcement’, diburu dengan kekerasan. Kita ini punya pendekatan lunak, dengan cara pendekatan agama, dengan cara pendekatan budaya.

Selesai sudah rangkaian agenda kunjungan kerja Presiden Joko Widodo selama berada di Vientiane, Laos, Kamis 8 September 2016. Sebelum bertolak menuju Jakarta, Presiden sempat berbincang sejenak dengan sejumlah jurnalis di lokasi penginapan Presiden di Asem Villa.

Presiden Joko Widodo menceritakan respons positif yang diberikan negara-negara anggota ASEAN terkait penanganan terorisme di Indonesia. Dalam forum tersebut, Presiden memang sempat mempertanyakan efektivitas penanganan terorisme dengan hanya mengandalkan kekuatan militer semata.

“Berbeda penanganannya di negara yang lain, yang banyak dilakukan dengan penegakan hukum, dengan ‘law enforcement’, diburu dengan kekerasan. Kita ini punya pendekatan lunak, dengan cara pendekatan agama, dengan cara pendekatan budaya. Itu yang kita sampaikan,” tuturnya.

Meski demikian, Presiden memastikan bahwa pemerintah tetap akan melakukan penegakan hukum bila memang pendekatan-pendekatan lunak tidak membuat jera para pelaku terorisme. Sebab, menurut Presiden, Indonesia sejatinya menerapkan kombinasi antara pendekatan keras dengan pendekatan lunak. Walaupun yang disebut terakhir merupakan prioritas pemerintah saat ini.

“Tapi dari proses yang mereka lihat di Indonesia, memang mereka lihat lebih memberikan hasil. Paling tidak, tidak memproduksi teroris semakin banyak. Mereka yang mengatakan itu sendiri,” ungkap Presiden sekaligus menutup sesi tanya jawab dengan para jurnalis.