Pemerintah mengendalikan keadaan, masyarakat pun bangkit “melawan” secara mental. Kebersamaan, yang tak ternilai harganya, yang menggagalkan aksi teror

Teror bom yang terjadi di pusat strategis Ibu Kota Jakarta pada hari Kamis 14 Januari 2015 memang mampu menghentak dan sejenak menghentikan berbagai aktivitas masyarakat. Namun, kesigapan aparat keamanan dalam menghadapi aksi teror dan dengan segera melumpuhkan para pelaku teror, membuat kondisi Jakarta berangsur kembali normal.

Kehadiran negara dalam memberikan rasa aman dan sigap dalam menghadapi aksi teror seperti yang terjadi di kawasan Jalan Thamrin tersebut membuat masyarakat lebih cepat berpikir positif dan bangkit melakukan “perlawanan” secara mental. Di media sosial, segera bertebaran beragam tagar – di antaranya #KamiTidakTakut dan #JakartaBerani – yang mendapat apresiasi dari media internasional.

Bisa dikatakan, upaya teror terhadap Jakarta dan masyarakat Indonesia umumnya telah gagal. Justru aksi teror yang terjadi di Jakarta kemarin, menjadi momentum pembuktian bahwa masyarakat Indonesia tidak mudah terprovokasi aksi-aksi teror yang dapat merugikan keutuhan bangsa.

Keputusan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk langsung mendatangi tempat kejadian teror di bilangan Sarinah tak lama setelah aksi teror, merupakan penanda utama bahwa kondisi Jakarta telah kembali kondusif hanya beberapa jam setelah aksi teror.

Bahkan sebelum menyambangi lokasi, Presiden yang saat itu berada di Cirebon, dengan sigap membatalkan sejumlah rencana kegiatannya pada hari itu dan kembali ke Jakarta. Dari Cirebon, Presiden Jokowi menghimbau agar masyarakat tetap tenang dan tetap beraktifitas seperti sediakakala. “Negara, bangsa dan rakyat agar tidak takut, kita tidak boleh takut, tidak boleh kalah oleh aksi teror seperti ini dan saya mengharap masyarakat tetap tenang karena semua terkendali,” kata Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi juga menyampaikan duka yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam peristiwa teror ini. “Kita semuanya tentu saja berduka atas jatuhnya korban dari peristiwa ini,” kata Presiden. Selain itu, Presiden Jokowi memerintahkan kepada Menkopolhukam dan Kapolri untuk segera mengejar dan menangkap para pelaku teror dan jaringannya.

Meskipun aksi teror sempat memberikan dampak terhadap melemahnya nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS serta menurunnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), namun energi positif yang telah terlanjur menyebar,meredam dampak teror berlanjut dengan segera.

Berbagai agenda penting seperti Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia misalnya, tetap terlaksana, meskipun lokasi kejadian aksi teror tak jauh dari gedung BI. Keputusan yang diambilnya pun cukup signifikan, yaitu menurunkan suku bunga acuan (yang dikenal sebagi BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 7,25 persen dari sebelumnya di angka 7,5 persen. Hal ini tentu merupakan sinyal positif bagi perekonomian dan kegiatan investasi di Indonesia ke depannya.

Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro pun percaya bahwa pelemahan yang terjadi di pasar finansial hanya bersifat sementara. “Yang paling penting kita tetap punya fundamental makro yang kuat untuk dapat mengembalikan kondisi temporer ini ke kondisi yang normal,” ujar Menteri Keuangan di Kantor Kementerian Keuangan pada hari yang sama (14 Januari 2016). Apa yang akan dilakukan Pemerintah adalah bagaimana agar pasar tidak menjadi bergejolak akibat teror tersebut.

Sikap positif yang ditunjukan masyarakat Indonesia pasca aksi teror – yang tercermin melalui berbagai media sosial – dan keseriusan pemerintah dalam antisipasi dan menghadapi aksi teror adalah modal penting dalam mengembalikan kepercayaan para pelaku pasar dalam melihat perekonomian Indonesia. Kebersamaan ini sendiri merupakan aset berharga yang tak ternilai harganya.